Skip to main content

RAKET dan STATUS WA MAS NASI UDUK

 Sudah sejak pertengahan September 2021 aku mulai mencoba olahraga bulutangkis di tengah kondisiku yang sedang dalam pemulihan patah tulang di bahu kananku. Aku bermain bulutangkis di gelanggang olahraga dekat tempat tinggalku. Kesempatan bermain bulutangkis ini ada karena aku melihat status Whatsapp Mas penjual nasi uduk langgananku. 


Mas yang menjual nasi uduk ini update status ketika dia bermain bulutangkis. Lalu aku tanya-tanya ketika beli nasi uduk di tempatnya. Oleh karena ternyata tempatnya dekat tempat tinggalku, aku minta dia untuk memberitahuku jika dia mau main. Singkat cerita, dia info hari Ahad selanjutnya bahwa dia mau main sore hari. Oleh karena aku tidak ada kegiatan, aku mengkonfirmasi jika aku akan ikut main. Alhamdulillah aku akhirnya bisa olahraga lagi yang mengeluarkan banyak keringat setelah sekian lama tidak olahraga karena patah tulang di bahu. Mas tersebut adalah orang baik yang membuatku bisa berolahraga lagi.


Setelah dua hari Minggu main bulutangkis, aku juga diajak main hari Kamis. Kalau main hari Minggu mulainya jam 16.00 sampai jam 18.00, kalau hari Kamis mulainya malam jam 20.00 dan selesai jam 23.00. Karena aku merasa aku perlu olahraga agar mengurangi berat badanku, aku ikut aja juga hari Kamis. 


Masalahnya adalah aku beberapa ikut harus pinjam raket yang ganti-ganti. Aku tidak memiliki raket. Biasa dulu aku main bulutangkis menggunakan raket papaku. Sekarang entah di mana raket itu. Oleh karena sudah lama tidak main bulutangkis, tepatnya sejak 2019 dan tidak raket harus ganti-ganti, ada satu orang bapak melihat bahwa aku agak kesulitan beradaptasi. 


Tanpa aku minta, bapak itu ketika selesai bermain memberikan satu raketnya untuk aku bawa pulang. Dia bilang, “sampean bawa aja, pakai ini aja terus, biar sampean bisa enak kalau main selanjutnya karena nggak ganti-ganti raket terus”. Wow. Aku terkejut karena aku baru kenal beliau beberapa minggu sejak gabung main bulutangkis. Dia tanpa basa-basi mengikhlaskan salah satu raketnya aku pakai. Wah. Sebuah hal yang benar-benar tidak terduga dan membuatku terharu. Orang baik masih ada.


satu lagi orang baik adalah satu satu bapak yang juga sering main bulutangkis bareng. setelah selesai pertandingan dan kami lagi beres-beres pulang, dia menghampiri aku dan memberikan kepadaku masukan bagaimana seharusnya memukul balik kok. Menurut dia, aku terlalu rendah alias terlalu ke bawah setiap mengambil kok, sehingga potensi untuk tidak lewat net sangat besar. Dia bilang kalau aku mengambil kok lebih tinggi lagi, dengan kemampuanku yang alami, potensi masuk dan membuat lawan kalah lebih besar. Aku bersyukur dalam hati karena ada orang baik yang mau memberikan masukan kepadaku. Dia tidak berpikir aku pesaingnya, tetapi sebagai teman bermain yang tentunya akan semakin enak mainnya jika aku semakin baik dalam bermain bulutangkis.


Aku bersyukur karena bertemu dengan orang-orang baik walaupun kami tidak kenal baik 



Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Surgamu

 “Akhirnya aku menemukan surgaku dengan terjun di dunia finansial.” Kalimat yang membuatku tiba-tiba menjadi lebih fokus mendengarkan cerita seorang teman tentang aktivitasnya sehari-hari.  Teman ini mengakui bahwa dia mememukan surganya lewat apa yang dilakukan sekarang di dunia finansial. Tanpa memaksa, dia juga mengundang aku untuk masuk ke dunia itu suatu waktu. “Tidakkk…” kata itu yang keluar dengan nada teriak penuh penyesalan dari mulut anak salah satu dosenku, ketika ayahnya tersebut menghukum dia dengan tidak boleh menikmati dessert karena dia telah melakukan kesalah. Bagi anak tersebut, dessert adalah segala-galanya. Dosenku bilang, desser adalah surga bagi dia. Terutama karena dia bisa menikmati es krim. “Goooollll!!!” Wah…membaca atau mendengar kata itu sudah membuat rata-rata kita tahu, sepakbola memang menjadi surga bagi banyak orang. Banyak orang lho..tidak semua..hehehe… Baru saja dahaga menonton sepakbola lokal terobati dengan dilangsungkannya pertandingan ujicoba

Tempat Duduk di Tempat Ngopi

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen

#harussiap

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen