Skip to main content

KERETA KEHIDUPAN

 Tempat tinggalku sekarang cukup dekat dengan perlintasan rel kereta api. Jadi, suara ketika kereta lewat sering aku dengar. Aku senang mendengar suara kereta api karena kereta api itu adalah sarana transportasi favoritku ketika aku “ngelayap”.

Ngelayap ini maksudnya adalah jalan-jalan ke berbagai daerah di Indonesia yang terjangkau dengan kereta api. Hal ini sudah aku biasa lakukan sendiri ketika masih tinggal di Tangerang. Semenjak tinggal di Malang dan sekarang di Sidoarjo, kereta api tetap menjadi pilihan utamaku.


Kereta api berjalan dari satu stasiun ke stasiun lainnya sesuai dengan tujuan yang sudah dijadwalkan. Aku memilih kereta api yang sesuai dengan tujuan pergiku dan dari mana aku akan berangkat. Jadi ada banyak pilihan kereta api, namun yang aku pilih adalah yang sesuai dengan tujuan akhirku.

Kehidupanku saat ini seperti kehidupan ngelayapku. Aku yang menentukan sendiri ke mana aku pergi dan aku memilih kereta kehidupan yang mana yang mau beli.

Sepertinya egois dan tidak percaya pada takdir Allah ya. Hihihi...silahkan menilai sesuai dengan sudut pandang kalian masing-masing. Aku tidak peduli karena kehidupanku tidak 100% diketahui oleh orang lain.

Kehidupanku memang penuh dengan lika-liku yang aku anggap “tidak normal” jika dibandingkan dengan kebanyakan orang yang aku kenal. Apa yang “tidak normal” itu? Well, biarlah itu menjadi misteri bagi kalian. Tidak penting. Tidak perlu juga kepo. Hihihi.

Hal terpenting adalah kereta kehidupanku saat ini menuju akhir yang tidak juga diinginkan manusia normal. Aku berada dalam perjalanan  di mana tidak lagi peduli dengan kata orang lain alias bodo amat. Aku berada dalam perjalanan “rel kereta” yang menuju neraka. Aku bukan orang yang baik. Aku adalah orang tidak baik yang terkadang dinilai orang berbuat baik. Aku adalah orang banyak dosa yang kadang dinilai orang berbuat seperti orang yang sedikit dosa dan taat agama. Jangan salah sangka dengan aku. Aku yang mengetahui diriku sendiri dan perjalanan kehidupanku. Jadi aku bisa dengan yakin mengatakan bahwa aku bukan orang baik dan aku adalah orang yang punya banyak dosa. Menyesal dengan perjalanan kereta kehidupanku sekarang? Tidak sama sekali. Aku malah merasakan bahagia yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasakan bisa menjadi diri sendiri yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku pun bisa lebih menikmati hidup dalam perjalanan kereta kehidupanku sekarang. 

Nikmati itu katanya identik dengan neraka. Monggo, aku tidak peduli juga dengan penilaian itu terhadap diriku. Sekali lagi, aku meyakini memang aku akan masuk neraka jika aku mati kelak. Aku sudah siap mati dan siap masuk neraka. 

Kedengarannya arogan? Monggo jika menilai begitu. Sekali lagi, aku yang lebih tahu diriku jadi aku tidak peduli dengan penilaian siapapun.

Aku mengecewakan dan membuat sakit hati banyak orang? Betul. Aku mengakuinya. Aku juga sadar ketika aku minta maaf kepada mereka tidak akan cukup. Mereka meminta aku berubah sesuai dengan keinginan mereka. Maaf. Aku tidak akan melakukannya karena aku benar-benar merasakan bahagia saat ini bukan saat mengikuti keinginan mereka. Silahkan benci dan marah padaku. Aku terima. Silahkan jika bahkan mau menghukum aku dengan ekstrim. Aku terima. 

Aku adalah orang yang pada akhirnya mengalir saja mengikuti arah rel kereta kehidupanku, dengan menerima apapun yang terjadi dalam perjalanan itu. Aku sudah siap jika hal-hal negatif terjadi padaku. Itu adalah bagian dari konsekuensi pilihanku memilih “jurusan kereta kehidupan.” 

Mengapa aku menulis ini? Aku hanya ingin orang yang kenal aku dan mengetahui sedikit tentang cerita hidupku bisa mengerti sikap aku. Jadi, tidak perlu berusaha untuk membuatku kembali seperti yang dulu. Itu bukan diriku sebenarnya. Aku tidak menyukainya. Terima kasih


Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Surgamu

 “Akhirnya aku menemukan surgaku dengan terjun di dunia finansial.” Kalimat yang membuatku tiba-tiba menjadi lebih fokus mendengarkan cerita seorang teman tentang aktivitasnya sehari-hari.  Teman ini mengakui bahwa dia mememukan surganya lewat apa yang dilakukan sekarang di dunia finansial. Tanpa memaksa, dia juga mengundang aku untuk masuk ke dunia itu suatu waktu. “Tidakkk…” kata itu yang keluar dengan nada teriak penuh penyesalan dari mulut anak salah satu dosenku, ketika ayahnya tersebut menghukum dia dengan tidak boleh menikmati dessert karena dia telah melakukan kesalah. Bagi anak tersebut, dessert adalah segala-galanya. Dosenku bilang, desser adalah surga bagi dia. Terutama karena dia bisa menikmati es krim. “Goooollll!!!” Wah…membaca atau mendengar kata itu sudah membuat rata-rata kita tahu, sepakbola memang menjadi surga bagi banyak orang. Banyak orang lho..tidak semua..hehehe… Baru saja dahaga menonton sepakbola lokal terobati dengan dilangsungkannya pertandingan ujicoba

Tempat Duduk di Tempat Ngopi

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen

#harussiap

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen