Skip to main content

Aku Beda. Aku Patah Tulang

Tidak semua pertanyaan kamu dijawab oleh aku. Tidak semua pertanyaan aku dijawab oleh kamu. Tidak semua pertanyaan aku dan kamu dijawab oleh Allah. Aku akhirnya belajar bahwa tidak semua pertanyaan randomku perlu diungkapkan.

Aku belajar menerima diriku yang harus mengalami hal-hal yang berbeda yang jarang dialami oleh kebanyakan orang "normal". Beda itu sudah ada dari latar belakang orangtuaku hingga lika – liku hidupku sampai saat ini termasuk pengalaman 3 hari di ICU tidak sadarkan diri, engkel kaki kanan lepas dan sekarang patah tulang di bahu tanpa punya uang untuk operasi pasang pen. Tidak semua orang mengalami hal yang sama. 


Aku tidak lagi marah dan kesal sambil bertanya pada Allah mengapa hal ini terjadi padaku. Aku belajar menerima hidupku yang banyak perbedaan dengan orang pada umumnya. Aku juga tidak bertanya apa maksud Allah lewat kejadian patah tulang saat ini atau segala kejadian, kebiasaan atau karakter yang "beda" yang aku alami sebagai diriku saat ini. Aku berada dalam situasi ya itulah kehidupan yang memang tiap orang beda dan ya mengalir saja menghadapinya tanpa menghabiskan waktu dan energi memikirkan apa makna semua itu atau bagaimana ke depannya. Toh, hidupku dan semua manusia tidak pasti. Beberapa detik ke depan belum tentu aku masih hidup di bumi. Aku tidak takut mati.

Semua prinsipku itu bukan berarti aku tidak mengambil pelajaran dari semua pengalamanku yo. Tetap aku belajar dari semua itu, tetapi ya nggak sampai jadi sok alim atau suci. Mengalir saja semuanya. Walau orang lain dan aku sendiri menganggap diriku sudah masuk daftar orang masuk neraka, aku tetap melakukan hal-hal yang baik bagi orang lain sesuai kapasitasku. Aku tidak lagi berharap hal-hal ideal yang jadi impian orang "normal" terjadi dalam hidupku di masa depan. Terserah pada Allah. Sekian

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Surgamu

 “Akhirnya aku menemukan surgaku dengan terjun di dunia finansial.” Kalimat yang membuatku tiba-tiba menjadi lebih fokus mendengarkan cerita seorang teman tentang aktivitasnya sehari-hari.  Teman ini mengakui bahwa dia mememukan surganya lewat apa yang dilakukan sekarang di dunia finansial. Tanpa memaksa, dia juga mengundang aku untuk masuk ke dunia itu suatu waktu. “Tidakkk…” kata itu yang keluar dengan nada teriak penuh penyesalan dari mulut anak salah satu dosenku, ketika ayahnya tersebut menghukum dia dengan tidak boleh menikmati dessert karena dia telah melakukan kesalah. Bagi anak tersebut, dessert adalah segala-galanya. Dosenku bilang, desser adalah surga bagi dia. Terutama karena dia bisa menikmati es krim. “Goooollll!!!” Wah…membaca atau mendengar kata itu sudah membuat rata-rata kita tahu, sepakbola memang menjadi surga bagi banyak orang. Banyak orang lho..tidak semua..hehehe… Baru saja dahaga menonton sepakbola lokal terobati dengan dilangsungkannya pertandingan ujicoba

Tempat Duduk di Tempat Ngopi

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen

#harussiap

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen