Skip to main content

Amanah Pak Ogah

Pada suatu Sabtu di bulan Juni, kantorku yang seharusnya masuk dari jam 08.00-12.00, diliburkan karena pada tanggal merah dua minggu sebelumnya, kami sekantor masuk. Saat aku sedang bersantai menonton film di kamarku, tiba-tiba aku melihat ada notifikasi pesan Whatsapp (WA) di handphoneku. Ternyata, atasanku meminta tolong untuk mencetak dan mengirimkan dokumen pada saat itu juga.

Aku nyalakan mesin motorku, kupakai helmku, lalu beberapa detik kemudian langsung budal (pergi) ke jalan dekat perumahan tempat tinggalku yang ramai dan banyak toko-toko dan usaha-usaha lainnya. Atasanku sudah info jika di jalan tersebut pasti ada tempat untuk mencetak dokumen tersebut.


Tidak lama setelah tolah-toleh kiri kanan dengan kecepatan motor yang cukup lambat, akhirnya aku menemukan tempat fotokopi yang menawarkan jasa print juga. Alhamdulillah tempat fotokopi tersebut bisa mencetak dokumen yang dishare via chat WA saja, tanpa harus membawa flashdisk. Setelah mencetak dokumen, aku juga memesan amplop coklat dan memasukkan dokumen yang mau dikirim ke amplop tersebut setelah menuliskan alamat penerima dan pengirim.

Hal yang menarik selama aku melakukan proses mencetak dokumen, menulis alamat serta memasukkan dokumen ke amplop adalah mas penjaga tempat itu bekerja sambil menyanyi dan goyang-goyang mengikuti alunan musik yang diputar di tempat itu. Dia pun merespon segala permintaan saya dengan ramah. Aku berani mengambil kesimpulan bahwa dia menikmati tanggung jawabnya sebagai penjaga tempat fotokopi. “Hanya” sebagai penjaga tempat fotokopi tidak membuat mas-nya ngedumel dalam bekerja.  

Cerita di atas mengkonfirmasi cerita sebelumnya yang aku pernah alami. Setiap berangkat kerja, aku dan atasanku selalu melewati perempatan jalan yang terdapat pak Ogah. Bagi yang mungkin tidak tahu istilah Pak Ogah, “profesi” Pak Ogah adalah sebutan bagi orang yang berinisiatif mengatur perempatan atau pertigaan yang ramai dan berharap kendaraan (terutama roda empat) yang mereka bantu di lokasi tersebut memberikan uang.

Nah, Pak Ogah yang standby di perempatan yang kami selalu lewati ketika pergi kerja itu, sama seperti mas yang menjaga tempat fotokopi. Dia semangat dan ceria selalu ketika mengarahkan kendaraan yang melewati perempatan tersebut. Terlihat jelas dia sangat menikmati “profesi”-nya walau tidak semua kendaraan akan memberikan uang kepadanya.

Kedua orang di dua cerita di atas membuatku belajar tentang amanah. Aku diingatkan oleh Allah bahwa aku bisa menikmati apapun tanggung jawab yang menjadi amanahku. Apapun instruksi dari atasan aku harus berusaha konsisten melihatnya sebagai amanah yang perlu aku kerjakan lillahi (hanya karena Allah). Jadi, walau hari libur, aku mengambil tekad tetap berangkat tanpa bersungut-sungut ya karena salah satunya telah melihat Pak Ogah yang menikmati amanahnya dan juga mas penjaga tempat fotokopi yang aku datangi hari itu.

Semoga dua kejadian tersebut terus aku ingat untuk membuatku terus menikmati amanah apapun yang diberikan kepadaku. Aamiin

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Surgamu

 “Akhirnya aku menemukan surgaku dengan terjun di dunia finansial.” Kalimat yang membuatku tiba-tiba menjadi lebih fokus mendengarkan cerita seorang teman tentang aktivitasnya sehari-hari.  Teman ini mengakui bahwa dia mememukan surganya lewat apa yang dilakukan sekarang di dunia finansial. Tanpa memaksa, dia juga mengundang aku untuk masuk ke dunia itu suatu waktu. “Tidakkk…” kata itu yang keluar dengan nada teriak penuh penyesalan dari mulut anak salah satu dosenku, ketika ayahnya tersebut menghukum dia dengan tidak boleh menikmati dessert karena dia telah melakukan kesalah. Bagi anak tersebut, dessert adalah segala-galanya. Dosenku bilang, desser adalah surga bagi dia. Terutama karena dia bisa menikmati es krim. “Goooollll!!!” Wah…membaca atau mendengar kata itu sudah membuat rata-rata kita tahu, sepakbola memang menjadi surga bagi banyak orang. Banyak orang lho..tidak semua..hehehe… Baru saja dahaga menonton sepakbola lokal terobati dengan dilangsungkannya pertandingan ujicoba

Tempat Duduk di Tempat Ngopi

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen

#harussiap

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen