Skip to main content

Wah, Repot Juga Ya

 Sejak aku bergabung dengan beberapa komunitas bola yang ada di Malang, aku sering ikut bermain sepakbola di lapangan-lapangan yang lokasinya banyak yang aku belum pernah datangi. Bersyukur teknologi sudah canggih sehingga aku bisa mengetahui lokasi lapangan dengan bantuan google maps di handphone. Hanya kendalanya adalah, jika aku pergi naik motor, selama ini tangan kiriku harus aku gunakan untuk memegang handphone bersamaan dengan memegang stang kiri. Tentu ini cukup merepotkan apalagi ketika hendak memberi tanda lampu sen, ke kiri atau ke kanan. Risiko jatuh juga sangat besar.

Oleh karena itu, aku ketika ada rejeki, aku memutuskan untuk membeli perangkat tempat menaruh handphone yang dipasang di dekat kaca spion. Melalui perangkat tersebut, aku tidak perlu memegang handphone ketika sedang naik motor.

Perangkat tersebut aku beli lewat online shop. Ketika sampai, aku meminta tukang tambal langganan dekat rumahku untuk membantu memasangnya. Ternyata, cara memasang perangkat ini tidak semudah yang dibayangkan. Lubang untuk memasukkan perangkat tersebut berbarengan dengan lubang kaca spion tidak pas. Tukang tambal ban itu menyarankan untuk pergi ke tukang las untuk dilubangi lebih luas sehingga pas dengan posisi lubang kaca spion.


Wah
, repot juga ya. Harus cari tukang las dulu. Setelah berjuang mencari di beberapa lokasi berdasarkan arahan google maps, akhirnya aku menemukan satu lokasi. Namun, supervisor tukang las di tempat las tersebut mengatakan bahwa perangkat ini tidak bisa dilas atau juga dibor karena akan membuat plastik pembungkus perangkat tersebut meleleh karena terkena panas. Waduh... ketika mendengar perkataannya, aku langsung kecewa. Sia-sia donk aku beli perangkat ini. Walau tidak terlalu mahal, tetapi jadinya mubazir dan aku tetap akan repot ketika berkendara dan harus melihat google maps.

Namun, setelah pulang dari tempat las itu, aku memutuskan untuk mencoba bertanya ke tempat las lainnya yang lebih dekat dengan tambal ban tempat aku meminta tolong memasang perangkat tersebut. Tempat las tersebut sebenarnya sudah disarankan oleh tukang tambal ban tersebut, namun ketika aku datang pada hari sebelumnya, tempat las itu tutup. Alhamdulillah ternyata tempat las tersebut tutup. Aku coba tanya hal yang sama seperti ke tukang las sebelumnya. Alhamdulillah ternyata mas yang membantu di tempat las itu bisa memberi solusi yang lebih baik. Ketika dia melihat posisi lubang kaca spion dan dibandingkan dengan lubang perangkat tersebut, dia mengatakan bahwa perangkat tersebut tidak perlu dibor, tetapi pinggiran lubangnya dia tipiskan. Dengan begitu, lubang perangkat tersebut pas dengan lubang kaca spion.

Alhamdulillah akhirnya perangkat tersebut bisa dipasang dengan baik oleh tukang tambal ban setelah aku membawa hasil modifikasi dari tempat las. Alhamdulillah juga biaya untuk memodifikasi perangkat menaruh hp (hp holder) dan biaya pemasangan di kaca spion tidak mahal.

Pengalaman meminta pertolongan memodifikasi hp holder tersebut ternyata mengingatkan aku bahwa tidak semua orang punya penilaian yang sama dalam menghadapi sebuat situasi yang membutuhkan solusi. Ada yang mengatakan tidak bisa. Ada yang bisa menghadapinya dengan berkreasi menyesuaikan dengan kondisi sehingga hasilnya maksimal.

Selain aku belajar untuk mencoba mencari alternatif lain ketika yang awal tidak sesuai dengan kebutuhan, aku juga belajar untuk tidak langsung menyerah dan “percaya” pada opini orang yang bahkan bisa dikatakan ahli sekalipun ketika opini tersebut mengiring pada pesimisme atau tidak bisa  memberikan solusi. Tentu ini tergantung situasi. Tidak bisa dipukul rata.

Pelajaran terakhir adalah lewat pengalaman tersebut aku bisa melihat Allah menyertai dengan cara-cara yang tidak terduga atau dengan bahasa lain tidak pernah aku pikirkan. Aku diingatkan untuk meminta bantuan Allah dalam segala situasi yang harus membutuhkan solusi. Aku diingatkan Allah itu Maha Kasih dan Maha Penyayang pada aku dan kamu dan ciptaan-Nya. Aku harus terus mengimani itu dan terus bersyukur dan mengembalikan pujian kepada-Nya. Pengalaman sederhana namun bagiku pelajaran dari Allah lewat pengalaman itu luar biasa.

Comments

Popular posts from this blog

Tempat Duduk di Tempat Ngopi

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen

Menemukan Surgamu

 “Akhirnya aku menemukan surgaku dengan terjun di dunia finansial.” Kalimat yang membuatku tiba-tiba menjadi lebih fokus mendengarkan cerita seorang teman tentang aktivitasnya sehari-hari.  Teman ini mengakui bahwa dia mememukan surganya lewat apa yang dilakukan sekarang di dunia finansial. Tanpa memaksa, dia juga mengundang aku untuk masuk ke dunia itu suatu waktu. “Tidakkk…” kata itu yang keluar dengan nada teriak penuh penyesalan dari mulut anak salah satu dosenku, ketika ayahnya tersebut menghukum dia dengan tidak boleh menikmati dessert karena dia telah melakukan kesalah. Bagi anak tersebut, dessert adalah segala-galanya. Dosenku bilang, desser adalah surga bagi dia. Terutama karena dia bisa menikmati es krim. “Goooollll!!!” Wah…membaca atau mendengar kata itu sudah membuat rata-rata kita tahu, sepakbola memang menjadi surga bagi banyak orang. Banyak orang lho..tidak semua..hehehe… Baru saja dahaga menonton sepakbola lokal terobati dengan dilangsungkannya pertandingan ujicoba

#harussiap

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen