SUARA JEMAAT BIASA

 Aku bukanlah bagian dalam pelayanan gereja di Waikbabukak. Aku hanya sementara tinggal di sana karena wabah COVID-19. Namun, selama aku tinggal di Waikabubak, menurut pendapat pribadiku, gereja di sana telah merespon cukup baik situasi Corona ini. Gereja menyebarkan tata ibadah keluarga dalam bentuk lembaran kertas kepada setiap keluarga di tiap wilayah majelis wilayah, mengingat jumlah jemaatnya lebih dari 1000 orang. Selain itu, setelah beberapa minggu, gereja juga membagikan link Youtube yang berisi rekaman ibadah yang sudah dilakukan di gereja oleh hamba Tuhan dan pelayan-pelayan yang lain. 

Kondisi di Waikabubak, dan daerah-daerah lain belum tentu sama seperti di daerah perkotaan. Dunia digital adalah dunia yang asing bagi banyak jemaat di gereja tersebut. Aplikasi chat Whatsapp saja mungkin masih banyak yang tidak tahu cara menggunakannya, apalagi YoutubeHandphone hanya untuk mengirim pesan biasa atau menelepon. Kondisi ini memang tidak bisa digeneralisasi. Hal ini jelas tergantung pada kondisi keluarga masaing-masing. Ada yang anaknya sudah biasa dengan gadget, maka dapat memberikan arahan kepada orangtuanya. Namun, ada juga yang bahkan anaknya pun jarang menggunakan handphone. Banyak dari mereka yang berjalan kaki saja tidak memakai alas kaki. Secara umum, itulah kondisi yang aku lihat dari kacamataku sendiri. 

Sumber: https://discoveryourindonesia.com/waikabubak-travel-guide/

Setelah dua bulan lebih di Waikabubak dan mengikuti ibadah keluarga dengan metode liturgi kertas dan rekaman Youtube, mulai 7 Juni kemarin gereja kembali diperbolehkan mengadakan ibadah di gedung gereja. Penyebabnya adalah karena Waikabubak, yang termasukdalam wilayah Sumba Barat, termasuk daerah zona hijau. Seorang pendeta di Sumba Barat Daya yang aku kenal mengatakan, gereja-gereja di sana telah diperbolehkan mengadakan ibadah mulai tanggal 7 Juni juga, karena daerah tersebut juga sudah masuk ke dalam zona hijau. 

Aku yang saat itu adalah seorang jemaat biasa, atau dapat dikatakan sebagai partisipan, melihat beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan untuk gereja-gereja yang berada di daerah yang belum familiar atau terbatas fasilitas jaringan internetnya ketika berada dalam kondisi new normalNew normal sendiri adalah kondisi di mana daerah tersebut sudah diperbolehkan kembali beribadah di gedung gereja seperti sediakala dengan mengikuti protokol-protokol kesehatan dan peraturan-peraturan pemerintah. Aku tidak akan membahas hal-hal umum yang sudah dianjurkan oleh pemerintah ketika ibadah di gedung seperti physical distancing dan menjaga kebersihan. Aku ingin memberikan sedikit saran untuk hal-hal lain yang dapat dilakukan selain hal umum yang sudah ada pada instruksi dari pemerintah yang sudah cukup jelas bagiku.

Pertama, langkah gereja membagikan liturgi ibadah keluarga adalah baik. Pertimbangannya selain karena tidak semua keluarga bisa memahami teknologi atau memiliki teknologi yang cukup untuk mengikuti ibadah daring, liturgi ibadah keluarga ini secara tidak langsung “memaksa” kepala keluarga terbiasa memimpin ibadah keluarganya. Dengan segala hormat, dari apa yang saya lihat dan saya dengar, di daerah Indonesia Timur, termasuk tempat saya tinggal sekarang, kondisi disiplin rohani pribadi dan/atau keluarga, tidak menjadi perhatian yang besar bagi gereja. Saya dengan sedih mengatakan, bahwa kecenderungan yang saya lihat adalah jemaat hanya beribadah ke gereja sebagai tradisi turun temurun. Ketika new normal, menurutku, ibadah keluarga tetap perlu diadakan, mungkin seminggu sekali di tengah minggu.

Kedua, mengingat ibadah keluarga ini sebelumnya tidak pernah dilaksanakan, ada baiknya jika para kepala keluarga dapat diberikan semacam panduan tertulis selain juga dikumpulkan pada satu waktu untuk dapat diberikan penjelasan cara memimpin ibadah keluarga. Selain penjelasan tata ibadah, pertemuan tersebut juga dapat sedikit diperluas, namun memberi dampak lebih dalam, yaitu dengan memberikan penjelasan cara memimpin doa. Bahkan, dapat juga sesekali cara memimpin saat teduh keluarga. Hal ini menurutku bukan hanya baik, namun juga penting, karena tidak banyak keluarga yang memiliki budaya ibadah keluarga, seperti saat teduh bersama atau doa bersama. 

Ketiga, adalah baik jika setiap hamba Tuhan bisa bergiliran ikut dalam ibadah keluarga setiap miggu. Jadi, ada yang spesial, karena sharing firman dipimpin langsung oleh hamba Tuhan. 

Keempat, mengadakan pelatihan teknologi kepada perwakilan keluarga. Hal ini menurutku dapat menjadi investasi jangka panjang. Memang kita tidak dapat memaksa setiap keluarga jemaat harus memiliki alat komunikasi yang sebelumnya belum mereka gunakan. Namun, aku melihat dari sisi positifnya. Ada banyak hal yang berubah menjadi lebih baik dalam hal kognitif maupun afektif. Tentu saja, ini masih dengan koridor bahwa ada perjuangan diri sendiri dan gereja untuk menjaga agar sisi negatifnya tidak berpengaruh besar. Karena itulah, adalah baik jika mungkin seminggu sekali ada pelatihan mengenai penggunaan teknologi. Hal ini juga dapat membuat jemaat yang memiliki talenta dalam hal teknologi namun belum terlibat dalam pelayanan, dapat terlibat.

Sumber: https://www.idntimes.com/tech/gadget/bima-kristian-pranoto/6-rekomendasi-reviewer-gadget-untuk-guideline-membeli-smartphone-c1c2

Aku pikir, untuk sementara cukup empat saja saranku sebagai warga gereja biasa alias partisipan. Aku tahu ini tidak mudah. Namun, dapat kita coba. Aku memberikan usul ini karena teringat dengan pelajaran yang aku dapatkan ketika kuliah semester lalu di salah satu mata kuliah. Intinya, untuk membawa pertumbuhan rohani, gereja tidak dapat berjuang sendiri. Namun, seharusnya bersama keluargalah yang menjadi titik awal pertumbuhan rohani. Gereja adalah partner keluarga untuk pertumbuhan rohani. Mengapa? Karena pertemuan di gereja frekuensinya jauh lebih kecil dibandingkan pertemuan di keluarga.

Itulah sebabnya firman Tuhan di Ulangan 6:6-9 itu benar dan penting:
 “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini:

  1. haruslah engkau perhatikan,
  2. haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan
  3. membicarakannya: apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
  4. haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan 
  5. haruslah itu menjadi lambang di dahimu,
  6. dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”

Firman Tuhan diberikan oleh Musa kepada bangsa Israel ketika mereka baru keluar dari Mesir, dan lepas dari perbudakan, sebelum mereka masuk ke tanah perjanjian. Ini adalah beberapa poin dari perjanjian yang diadakan Tuhan dengan bangsa tersebut. Perjanjian ini bukanlah perjanjian untung rugi, tetapi perjanjian relasi antara Pencipta dan umat pilihan yang dikasihi-Nya. Ini perjanjian yang mengingatkan bahwa segala berkat dan perlindungan dari Allah memiliki syarat. Israel tidak boleh hidup sembarangan dan senantiasa menghormati Pencipta mereka. Dengan melihat ayat ini, instruksi yang diberikan adalah dalam konteks keluarga. Ada enam instruksi dengan diawali dengan kata "haruslah", yang mengindikasikan bahwa perintah ini wajib dan penting untuk dilakukan dalam keluaga.

Sumber: http://ikatolik.com/doa-keluarga-yang-bisa-dipanjatkan-pada-malam-tahun-baru/

Begitulah juga aku, keluargaku, seluruh umat Kristen yang menjadi satu dalam gereja. Perjanjian itu masih berlaku hingga saat ini. Oleh karena itu, titiknya bukan dari gereja sebagai organisasi, tetapi keluarga sebagai komunitas terkecil dan sekaligus terdekat di dalam tubuh Kristus.

Sekian dariku, seorang jemaat biasa. Aku berharap dan berdoa, setiap gereja di seluruh Indonesia dan di seluruh dunia tidak hanya mempersiapkan diri menghadapi new normal dalam hal rutinitas ibadah yang disesuaikan dengan instruksi dari pemerintah, namun juga mempersiapkan diri melayani sebagai partner keluarga agar ada new family character dalam situasi new normal

Comments