Adakah Kata “Kompetisi” dalam Kamus Mahasiswa Teologi dan Gereja?

 Aku masuk ke sekolah teologi setelah bekerja kurang lebih sekitar 13 tahun di berbagai tempat. Secara langsung atau tidak langsung, dalam skala internal maupun eksternal, dunia kerja berada dalam lingkaran kompetisi. Dulu aku bekerja di salah satu bank asing di Indonesia, menempati posisi sebagai staf di bagian umum (General Affair). Lingkungan departemenku tidak ada persaingan atau kompetisi untuk mencari kedudukan lebih tinggi karena jenjang karirnya terbatas; faktor pengalaman kerja di tempat sebelumnyalah yang menjadi penentu gaji dan posisi kita. Jika sudah masuk, maka sangat jarang atau butuh waktu yang relatif lama untuk ada peningkatan jabatan walau selalu ada peningkatan gaji.

Hal yang sama juga dialami ketika aku bekerja di sekolah (baca: institusi pendidikan /red). Memang jenjang karier yang lebih terbuka, sayangnya kesempatan itu sulit untuk kudapat karena memang orang yang menduduki jabatan lebih tinggi dianggap masih kompeten. Karierku akan maju jika diizinkan pindah ke departemen atau bagian lain dari grup perusahaanku. Namun, itu agak sulit juga jika atasanku tidak mengizinkannya dengan berbagai alasan yang tidak aku bisa ketahui jelas hingga berhenti bekerja.

Kompetisi internal, atau yang terjadi di dalam perusahaan, tidak terlalu terasa di dua pekerjaanku di atas. Kompetisi eksternal sebenarnya ada, tetapi tidak terlalu terasa bagiku secara pribadi. Bank maupun sekolah, tempat aku dulu bekerja, tentu berkompetisi dengan bank-bank dan sekolah-sekolah lain untuk mendapatkan “customer”. Hanya memang aku tidak terlibat secara langsung dalam memenangkan kompetisi tersebut. Istilahnya, aku orang di belakang layar. Ada orang dan departemen lain yang mengurusi kompetisi tersebut.

Kompetisi, di dalam konteks yang berbeda, menurutku boleh-boleh saja. Contohnya, misalnya, kompetisi dalam olahraga atau dalam sebuah karya. Dalam konteks ekonomi, kompetisi antar perusahaan juga adalah hal yang wajar dan menurutku tidak masalah. Jika kita berada dalam dunia kompetisi tersebut, saranku adalah jadilah orang Kristen yang menjadi saksi. Maksudnya, kita berkompetisi dengan sehat. Kita melakukan yang terbaik dengan segala persiapan yang baik untuk kompetisi dalam olahraga atau karya lainnya. Sikap kita dalam menghargai orang-orang yang terlibat mendukung kita atau pun juga respek terhadap pesaing kita juga bisa menjadi kesaksian. Begitu juga di dunia ekonomi, kita perlu menciptakan atau menawarkan produk yang terbaik yang saling menguntungkan bukan menipu. Sikap kita dalam bekerja juga bisa memberi dampak dan memberi kesaksian.

economictimes.indiatimes.com

Namun, berbeda jika ada kompetisi dalam dunia teologi. Kompetisi dalam dunia teologi, entah disadari atau tidak, menurut pengamatanku tetap ada. Pengamatanku ini dilakukan dalam posisiku sebagai salah satu aktivis yang banyak terlibat di pelayanan gereja dan juga sebagai salah satu mantan majelis di gerejaku, sebelum aku mengambil kuliah teologi sejak pertengahan tahun 2019. Ditambah lagi, aku adalah anak mantan pendeta, gembala jemaat serta mantan rektor sekolah tinggi teologia. 

Persaingan yang terjadi juga dalam konteks internal dan eksternal. Ada kompetisi di dalam jemaat untuk mendapatkan jabatan dalam gereja. Ada juga kompetisi pamer kekayaan dan frekuensi dilibatkan dalam pelayanan. Kompetisi antar hamba Tuhan? Tidak terang-terangan, tetapi terasa dan aku tidak secara sengaja melihat dan atau mendengarnya. Sering juga terdengar percakapan tentang perbandingan jumlah jemaat atau jumlah kekayaan. Sedih. Namun, kenyataannya itu sering kudengar.

Perbandingan tidak lepas dari kompetisi. Ironisnya, tidak ada penjelasan yang kontinu dan komprehensif yang diberikan kepada jemaat, sehingga merekapun terlibat dalam kompetisi (baca: persaingan) tersebut dan berpotensi jatuh dalam kesombongan begitu besar.

Belum lagi, perbandingan antar denominasi dan perbandingan teologi. Muaranya akhirnya kembali pada pribadi hamba Tuhannya. Hamba Tuhan selalu memiliki latar belakang di mana mereka kuliah. Nama sekolah tinggi teologi dan “denominasi” yang diajarkan dalam sekolah teologia tersebut cenderung mempengaruhi bagaimana sesama hamba Tuhan atau orang Kristen bersikap.

Jika dikerucutkan dalam lingkup yang lebih kecil sesuai dengan konteksku saat ini sebagai mahasiswa teologi, ada potensi kompetisi antarmahasiswa di dalam satu sekolah tinggi teologi. Persaingan itu cenderung dalam hal akademik dan pelayanan karena dua bagian tersebut yang paling sering terlihat dominan. Jika soal persaingan merebut hati seorang wanita mungkin juga ada, tetapi nampaknya itu tidak seheboh atau sepopuler hal akademik dan pelayanan. Kesempatan berkarya dengan menulis artikel di jurnal, terlibat dalam organisasi mahasiswa di kampus, terlibat di dalam pelayanan di mimbar serta berkhotbah adalah area-area yang berpotensi besar menimbulkan kompetisi. Bolehkah mahasiswa teologi berkompetisi dalam area-area tersebut atau area-area lain yang tidak terlihat? 

Aku teringat perikop di Alkitab yang mengatakan di dalam 1 Korintus 12:

12:10 Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. 12:11 Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya. 12:12 Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus12:13 Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. 12:14 Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. 12:15 Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? 12:16 Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? 12:17 Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? 


Perikop Alkitab di atas menunjukkan bahwa Paulus melihat di dalam jemaat Korintus terdapat kompetisi antar anggota. Peran, kapasitas dan talenta mereka berbeda-beda. Semua itu ternyata menciptakan persaingan dan akhirnya mau masing-masing merasa merekalah yang paling penting atau paling hebat. Namun Paulus melanjutkan suratnya dengan penjelasan di ayat selanjutnya:


12:18 Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. 12:19 Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? 12:20 Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. 12:21 Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau." 12:22 Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. 12:23 Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. 12:24 Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, 12:25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan 12:26 Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. 12:27 Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.


Penjelasan Paulus di ayat 18-27 dengan jelas memberikan ketegasan bahwa persaingan atau kompetisi antar anggota jemaat di Korintus itu tidak benar. Mereka harus melihat diri mereka adalah bagian dari satu tubuh gereja yang di dalamnya terdapat anggota yang berbeda-beda. Analogi Paulus adalah gereja seperti tubuh manusia yang terdiri dari banyak anggota tubuh. Masing-masing memiliki fungsinya yang mendukung tubuh sebagai satu kesatuan yang utuh. Jika satu anggota tubuh bersukacita, seharusnya anggota tubuh yang lain juga ikut bersukacita, bukan malah memandang dengan sinis karena tidak suka. Jika ada satu anggota tubuh yang menderita, seharusnya anggota tubuh lain ikut merasakan penderitaan. Seharusnya juga menolong anggota tubuh tersebut, bukan malah menjauh atau bahkan merendahkan anggota tubuh tersebut.

Nasehat Paulus ini menurutku juga perlu diterapkan di dalam konteks mahasiswa teologi. Aku dan teman-teman mahasiswa teologi di dalam satu sekolah tinggi teologi tidak boleh punya motivasi untuk berkompetisi, bersaing, bahkan saling menjatuhkan. Sikap ini tidak alkitabiah. Jika sikap ini tetap menjadi budaya atau gaya hidup, maka potensi dampak negatifnya bisa berakibat pada dua aspek. Aspek pertama, budaya ini menjadi budaya negatif turun temurun yang diwariskan ke adik-adik tingkat selanjutnya dan menjadi budaya kampus yang terkenal. Aspek kedua, bagi yang sudah lulus, budaya ini dibawa ke gereja sehingga berpotensi menjadi budaya di gereja tempat mereka melayani. Bisa jadi, ada persaingan antar gereja. Lalu, secara internal, berpotensi membuat jemaat pun punya budaya yang mereka teladani dari hamba Tuhannya, dan dibawa ke lingkungan keluarga, pendidikan anak-anak dan pekerjaan mereka. Anak-anak mereka akan membawanya mempengaruhi sesama teman mereka. Dampak negatifnya bersifat domino.

Dari sudut lain, kompetisi alias persaingan, secara sadar atau tidak sadar juga pasti membuat kita melakukan perbandingan diri kita dengan sesama mahasiswa teologi. Perbandingan dengan diselimuti persaingan hanya akan membuat potensi rendah diri, atau sombong atau semangat belajar namun dengan motivasi yang tidak benar. Hal ini seharusnya tidak ada juga dalam kamus mahasiswa teologi dan gereja.

Sekali lagi pendapatku, di dalam kamus mahasiswa teologi dan gereja seharusnya tidak ada kata kompetisi. Dua kata yang perlu menjadi jadi daftar prioritas di dalam diri mahasiswa teologi dan gereja adalah kolaborasi dan sinergi. Dunia saat ini pun mulai bergerak menggaungkan adanya kolaborasi dan sinergi. Perlu diingat, tujuannya bukan untuk gengsi atau kesombongan diri sendiri atau institusi, namun untuk kembali lagi membangun chemistry di dengan institusi teologi lain. Sekali lagi, ujungnya ada sinergi dan kolaborasi.

Satu ayat firman Tuhan yang perlu jadi dasar adalah “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita" (Kolose 3:17 TB).

Apapun yang dilakukan baik saat masih sebagai mahasiswa teologi maupun nanti jika sudah lulus haruslah aku lakukan dengan dasar bahwa semuanya itu hanya untuk Tuhan.(artikel ini sudah dipublish di ignitegki.com)

Comments