Skip to main content

“Sudahlah, taruh dulu Hpmu, …”

Suhu 19˚ celcius pagi ini dihangatkan oleh kopi dan ubi. Semakin hangat karena aku punya waktu sendiri dan mengingat setiap pribadi yang menjadi perpanjangan tangan Allah mengasihi aku banyak keterbatasan ini. Dalam situasi tidak pasti karena “om” corona masih terlihat semangat hadir di bumi Indonesia ini, momen-momen sendiri sambil ngopi adalah momen yang menjaga harapan diri. Apalagi dunia perkopian semakin marak sehingga memberi banyak pilihan.

Maraknya dunia perkopian memang belum lama. Sekitar tahun 2013-an, seperti dilansir di kumparan.com, fenomena “demam” coffee shop mulai terjadi di Indonesia. Dikutip dari Financial Times, jumlah kedai kopi artisan dan gerai kopi di Indonesia meningkat dua kali lipat dalam lima tahun terakhir. Bukan tanpa alasan, peningkatan jumlah kedai kopi ini dibarengi dengan adanya pergeseran budaya dalam mengkonsumsi kopi. Terlepas dari banyaknya anggapan bahwa coffee shop hanya tren semata, nyatanya ‘ngopi’ di kedai dan gerai kopi tersebut malah menjadi kebiasaan baru di zaman serba modern ini.

Benar-benar mau menikmati kopi bukanlah tujuan satu-satunya dari pengunjung coffee shop. Memang alasan ini sepertinya tidak usah dijelaskan lagi. Ini adalah alasan yang paling murni mengapa seseorang datang ke coffee shop, yaitu untuk datang dan menikmati kopi yang dijual disitu. Penikmat kopi datang ke coffee shop tidak peduli dengan fasilitas yang ada, menu yang bervariasi, atau tempat yang enak dipandang mata. Namun, yang terpenting adalah kenikmatan yang didapat dari kopi yang diracik dan dijual ditempat itu. Seperti dilansir oleh idntimes.com, ada yang datang ke coffee shop karena tempatnya instagramable selain juga nyaman. Ada juga yang datang untuk mengerjakan pekerjaan kantor atau tugas kampus sambil menikmati menu yang bervariasi ditambah fasilitas free-wifi.

Apapun alasannya, kembali pada akhirnya tidak bisa digeneralisasi. Masing-masing punya alasan sendiri seperti aku sendiri. Aku ini bukan orang yang ahli dalam perkopian walau memang sudah sejak kecil suka ngopi. Aku tidak tahu perbedaan jenis kopi robusta dan arabica. Bukan hanya tidak tahu, aku juga sebenarnya cenderung tidak mau tahu bahkan tidak peduli. Mengapa? Karena tujuanku ngopi utamanya bukan karena menikmati jenis kopi tertentu. Walau tidak munafik aku juga pilih-pilih ketika memilih kopi yang kuminum, aku juga suka coba-coba kopi-kopi yang ditawarkan.

Kopi terkadang jadi teman sendiriku seperti pagi hari ketika menulis artikel ini. Namun, memang minum kopi itu enak bukan karena jenis kopinya tetapi karena dengan siapa kita ngopi. Bagiku kopi adalah media perantara relasi antara aku dengan orang lain bahkan dengan Allah. Kopi menemaniku sendiri di pagi hari bercengkerama dengan Allah lewat doa dan membaca firman-Nya. Kopi juga menemani aku dan orang yang kusayang untuk menikmati waktu berdua yang tidak selalu ada khusus untuk kami. Utamanya bukan kopi tetapi relasi.

Lewat kopi, pada akhirnya kita bisa belajar bahwa sesuatu yang bernilai dan menjadi fenomena itu bukan berarti menjadi tujuan yang utama. Masih ada hal-hal yang lebih bernilai dan lebih penting daripada kopi. Baiklah kita dalam segala situasi yang tidak pasti karena om corona masih belum mau pergi, bisa ingat dan jaga diri berfokus pada hal yang paling bernilai dan paling penting. Bagiku itu adalah relasi. Relasi aku dengan Sang Pencipta yang menjaga harapanku serta relasiku dengan orang lain yang saling mendukung satu sama lain.

Akhir kata, kuakhiri dengan kutipan dari jendelagaram.com:

Sudahlah, taruh dulu HPmu. Tutup sementara bukumu. Lupakan sementara masalahmu. Kubuatkan kopi dulu, lagu klasik itu. Biarkan pula melantun. Di luar masih hujan. Ayo ngopi dulu. Sembari menertawakan lucunya dunia dan indahnya bumi ini.


Comments

Popular posts from this blog

Tempat Duduk di Tempat Ngopi

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen

Menemukan Surgamu

 “Akhirnya aku menemukan surgaku dengan terjun di dunia finansial.” Kalimat yang membuatku tiba-tiba menjadi lebih fokus mendengarkan cerita seorang teman tentang aktivitasnya sehari-hari.  Teman ini mengakui bahwa dia mememukan surganya lewat apa yang dilakukan sekarang di dunia finansial. Tanpa memaksa, dia juga mengundang aku untuk masuk ke dunia itu suatu waktu. “Tidakkk…” kata itu yang keluar dengan nada teriak penuh penyesalan dari mulut anak salah satu dosenku, ketika ayahnya tersebut menghukum dia dengan tidak boleh menikmati dessert karena dia telah melakukan kesalah. Bagi anak tersebut, dessert adalah segala-galanya. Dosenku bilang, desser adalah surga bagi dia. Terutama karena dia bisa menikmati es krim. “Goooollll!!!” Wah…membaca atau mendengar kata itu sudah membuat rata-rata kita tahu, sepakbola memang menjadi surga bagi banyak orang. Banyak orang lho..tidak semua..hehehe… Baru saja dahaga menonton sepakbola lokal terobati dengan dilangsungkannya pertandingan ujicoba

#harussiap

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen