Membuat Kopi untuk Tuhan di Masa Pandemi

          Akhir-akhir ini, Waikabubak semakin dingin seperti Malang. Ini pertanda sudah masuk musim kemarau. Dinginya terasa ketika malam hari dan pagi hari. Ketika jam menunjukkan 07.15 WITA (Waktu Indonesia Tengah), suhu masih dingin (19˚) walau sinar matahari sudah cukup gagah bersinar.  Sejak kemarin malam, karena cuaca yang sudah terasa dingin sejak sore hari, sebenarnya aku agak malas mau lari pagi. Berbagai macam alasan untuk mencari pembenaran muncul di pikiranku. “Nanti sakit kalau kedinginan. Apalagi Juan, anakku sedang sakit flu. Nanti lelah sehingga ketiduran dan tidak bisa ikut webinar yang sudah ditunggu-tunggu. Berat badan sudah lumayan turun kok. Jadi, tidak harus rutin lari lagi.” Berat sekali rasanya untuk bangun pagi dan lari pagi. Membayangkan lelah setelahnya dan keringat yang banyak juga terbersit dalam pikiranku.

            Masa pandemi ini bukan hanya membuat segala aktivitas terbatas, tetapi memperbesar potensi untuk malas. Ada rasa malas untuk lari. Ada beban untuk lari pagi. Apalagi, aku baru saja menyelesaikan kuliah semester dua dan masih sekitar 50 hari lagi untuk memulai semester yang baru. Aktivitas-aktivitasku tidak jauh dari tidur, doa syafaat, lari (dua hari sekali), saat teduh, makan, baca satu buku atau satu artikel, nonton film atau ikut webinar dan main bersama Juan.  Variasi aktivitas yang terbatas membuat rasa bosan dan menjadi malas.

Namun, aku teringat sebuah ayat yang cukup menusukku. Kolose 3: 23

TB (1974)©

 

SABDAweb Kol 3:23

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan1 dan bukan untuk manusia.


BIS (1985)©

 

SABDAweb Kol 3:23

Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia.


            Ayat ini menjadi bagian dari perikop Kolose 3, yang di bagian awal menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan ketika kita mengenal Allah dan menerima Yesus sebagai Sang Juruselamat yang mati bagi dosa-dosa kita. Ayat 23 ini seperti kesimpulan dari segala saran, mengenai apa yang harus dijauhi dan dilakukan di ayat-ayat sebelumnya. 

      Jadi, segala aktivitas yang biasa aku lakukan saat ini termasuk lari, dengan segala kesadaran, seharusnya aku lakukan untuk Tuhan. Aku lari dan menjaga kesehatan dengan aktivitas tersebut, agar Tuhan dimuliakan. Aku sehat, aku bisa berkarya sesuai dengan rencana Tuhan dalam hidupku. 

         Begitu juga dengan aktivitasku yang lain. Segala hal yang rutin dan berpotensi menjadi sebuah kebosanan, harus dilihat dengan tepat alasannya. Untuk siapa aku melakukan hal tersebut? Jika untuk Pribadi yang sangat penting seperti Allah, tentu berbeda jika alasannya hanya untuk aku sendiri atau dipaksa oleh orangtua, atau bahkan pihak kampus, karena aku mahasiswa teologi. Sama seperti andaikata aku diminta oleh Presiden Jokowi untuk membuatkan kopi, tentu aku berjuang untuk membuat kopi yang membuat dia puas. Apalagi jika membuat kopi untuk Tuhan di masa pandemi. 

        Well, pandemi ini belum tahu kapan berakhir. Rutinitas aktivitas juga masih akan selalu ada. Namun, ketika aku belajar untuk terus mengingat alasan yang tepat dalam melakukan segala aktivitas itu untuk Tuhan, maka lari dan aktivitas lainnya bukan lagi dilihat sebagai beban. Aku akan menjadi lebih termotivasi karena aku melakukan untuk Pribadi yang sangat mengasihiku.(artikel ini sudah pernah diterbitkan di ignitegki.com)

Comments