AKU ... POSITIF CORONA



Drama di Bulan Maret

Tidak ada yang menyangka dan tidak ada yang mengharapkan bahwa saat ini kita sedang berada dalam suasana tidak normal karena virus corona.

Awal bulan Maret hingga pertengahan, semua aktivitas di kampusku di Malang berjalan seperti biasa. Berita tentang virus corona memang sudah ada, namun di Indonesia masih adem ayem walau sempat ada panic buying setelah informasi dari Presiden kita, Pak Jokowi bahwa ada dua orang Indonesia yang terjangkit virus corona yang berasal dari kota Wuhan, Cina.

Akhirnya, libur tengah semester di pertengahan Maret tidak menjadi libur yang ideal. Memang tidak ada kuliah, namun pihak kampus menginstruksikan bahwa mahasiswa yang tinggal di dalam asrama kampus tidak boleh keluar satu minggu, sedangkan mahasiswa yang tinggal di luar kampus tidak boleh masuk area kampus. Selain itu, kampus mewajibkan setiap karyawan dan orang yang masuk area kampus harus cuci tangan di pos keamanan. Setelah itu bahkan harus cek suhu. Aku sebenarnya tinggal di dalam asrama, namun pas hari keputusan itu keluar, pas aku sedang nginap di luar bersama istri dan anakku karena mereka datang ke Malang selama tiga hari untuk mengurus pendaftaran sekolah anakku.

Mahasiswa di dalam kampus diinstruksikan kerja bakti tiap hari-nya ditambah dengan menyemprotkan disinfektan sebagai pencegah terjangkit virus selain dihimbau rajin cuci tangan dan menggunakan hand sanitizer. Social distancing juga diberlakukan termasuk ketika makan.
Kondisi berubah kembali ketika kampus memberikan pilihan bebas kepada orang tua setiap mahasiswa apakah anak mereka tetap tinggal di dalam asrama kampus atau pulang. Kampus mengijinkan mahasiswa yang mau kembali ke kampung halamannya dan rencananya akan mengikuti kuliah online dari rumah masing-masing.

Saat itu, Malang sudah menjadi salah satu zona merah dengan jumlah orang yang terjangkit virus corona termasuk yang tinggi di Indonesia, selain Surabaya dan Jakarta...
Tibalah di hari Senin, 23 Maret, ketika jadwal kuliah online yang akan mulai tanggal 30 Maret, sudah dibagikan, ada pertemuan siang mendadak seluruh mahasiswa di kampus dengan Rektor, Pak Martus. Beliau mewakili kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama HARUS pulang ke rumah masing-masing paling lambat hari Rabu, 25 Maret.

Mengapa? Karena di daerah dekat kampus, kurang dari 6 kilometer, sudah terdapat satu orang yang meninggal karena virus corona.

Sampai kapan kami  di rumah masing-masing? Belum ada batas waktunya. Yang pasti kuliah tetap akan berjalan online seperti yang telah disampaikan sebelumnya, namun akan ada revisi lagi berkaitan dengan jadwal.

Belum lagi, segala rencana aktivitas anak-anak bulan April dimana aku jadi ketua panitianya juga dibatalkan.

Aku, yang awalnya menginformasikan tetap tinggal di asrama ketika pilihan untuk pulang atau tidak ditawarkan, mau tidak mau harus pulang. Kemana? Aku bingung. Pilihan ada dua. Ke Tangerang, tempat papa mamaku berada atau ke Waikabubak, Sumba Barat, tempat istri dan anakku tinggal sekarang sebelum mereka datang ke Malang rencananya bulan Juni ini.

Kalau ke Tangerang, kebutuhan untuk menunjang perkuliahanku seperti internet serta buku-buku pasti tersedia. Selain itu, karena papa mamaku yang sudah usia lanjut tinggal berdua saja di rumah, aku bisa menolong mereka dalam membersihkan rumah atau keluar membeli kebutuhan selain juga penghibur buat mereka. Hanya, aku akan jauh dari istri dan anakku. Satu lagi, secara finansial aku sebenarnya tidak ada dana untuk ke Waikabubak karena harga pesawat ke sana lebih mahal 3x lipat dibandingkan ke Tangerang.

Sebaliknya, kalau ke Waikabubak, secara perkuliahanku aku terbatas tetapi akan tinggal dengan istri dan anakku selain juga karena Waikabubak bukan zona merah dan juga daerahnya lebih didominasi alam, jadi akan lebih “segar” dibandingkan di Tangerang yang padat dan di sekitar rumah tidak ada hiburan alam. Akhirnya, aku memutuskan tetap Kembali ke Waikabubak karena alasan utama bisa ketemu istri anak, selain Puji Tuhan ada seseorang teman yang mendukung biaya transportasiku ke sana.

Drama kehidupan yang tidak terduga terjadi di bulan Maret karena virus corona. Belajar banyak dari drama ini.

Aku ... positif corona
Lewat drama di bulan Maret karena virus corona, ada anjuran dari pemerintah untuk di rumah saja agar mencegah semakin banyaknya orang yang terjangkit virus ini. Selain itu, pemerintah mengerahkan segala tenaga dan berjuang keras menyediakan segala peralatan yang dibutuhkan.
Satu hal lain yang harus dilakukan adalah melakukan isolasi bagi orang-orang yang baru datang dari luar negeri atau daerah yang sudah ada yang terjangkit virus corona.

Aku termasuk orang yang harus diisolasi karena aku keluar dari kampus di minggu waktu libur tengah semester untuk nginap bersama istri dan anakku yang datang ke Malang hari Minggu, 15 Maret hingga Rabu, 18 Maret dalam rangka tes masuk sekolah anakku.

Ketika mereka pulang di hari Rabu, aku masuk kampus, aku langsung tinggal di salah satu kamar di asrama, sendirian, bukan di kamarku yang seharusnya. 14 hari aku wajib di kamar. Makan harus nitip teman asrama. Hanya bisa keluar pagi berjemur depan kamar dan kalau ke kamar mandi.

Ketika tiba di Waikabubak, aku diisolasi (lagi) di kamar sendiri selama 14 hari mengikuti anjuran dari pemerintah dan kampus bahwa yang pulang diharapkan bisa mengisolasi diri karena kami berasal dari daerah zona merah virus corona.

Situasinya tidak mudah. Dua kali diisolasi berarti hampir nanti 28 hari aku banyak di kamar. Aku belajar banyak hal positif dari pengalaman ini. Aku bersyukur bisa ada waktu lebih banyak berdiam diri dan menikmati waktu lebih sepi hampir sepanjang hari sehingga bisa lebih efektif untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahku.

Selain melihat pengalaman diriku sendiri, aku juga bisa belajar banyak dari penanganan virus ini secara lebih luas.

Jadi ingat ketika di Tangerang dan Jakarta ada gempa, dan aku masih kerja di sekolah di Tangerang, aku menjadi bagian dari tim penanggung jawab keadaan darurat. Serentak langsung aku dan berada dalam situasi bukan sekedar latihan biasa. Tidak mudah karena keterbatasan peralatan.
Kami butuh waktu untuk koordinasi dan menyiapkan alat.  Kami belajar untuk tidak hanya memikirkan keselamatan diri sendiri tetapi juga orang-orang di lingkungan sekolah, terutama para murid. Tidak mudah ketika berada dalam situasi darurat  untuk tetap berpikir demi orang lain.
Membayangkan Pak Presiden Jokowi, atau dalam ruang lingkup lebih kecil Pak Martus, rektor kami, dalam situasi darurat seperti ini, tentu harus benar-benar berhikmat dalam mengambil keputusan ketika berkoordinasi, karena ini situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bersyukur aku bisa melihat betapa besar perhatian, kasih dan komitmen Pak Martus beserta seluruh dosen kampusku, serta Pak Jokowi dan jajaran anak buahnya dalam situasi yang tidak mudah ini. Mereka sama-sama melakukan yang terbaik bukan untuk diri sendiri tetapi  bagi setiap kami yang menjadi tanggung jawab mereka secara tidak langsung sebagai mahasiswa yang jauh dari orangtua, serta sebagai warga negara.  Salut dan berterima kasih. Karena itulah aku terus mendoakan mereka selain juga para dokter dan perawat yang terlibat langsung menangani langsung di garis depan. Mereka mengambil resiko yang besar. Judul aku … positif corona maksudnya adalah “titik-titik” (…) diisi  dengan dua kata sehingga kalimat lengkapnya adalah Aku (melihat sisi) positif virus corona, bukan aku terkena positif virus corona.

Comments