SAPU KERJA BAKTI


Saat ini aku sedang kuliah di Malang dan tinggal di asrama selama satu tahun sejak Agustus 2019. Setiap hari Senin hingga Jumat jam 05.00 selalu ada kerja bakti di asrama kampusku. Semua yang tinggal di asrama harus berpartisipasi. Setiap awal minggu, mahasiswa yang ditunjuk sebagai penanggung jawab asrama biasanya menginformasikan lokasi kerja bakti setiap mahasiswa selama satu minggu.

Satu hari di jadwal kerja bakti aku mendapat giliran bersihkan lorong lantai 3 asrama. Seperti biasa,  jam 5 kurang seteIah memastikan bahwa benar lokasi kerja baktiku pagi itu, aku pergi ke tempat perlengkapan kerja bakti, mau mengambil perlengkapan kerja bakti yang cocok, yaitu sapu dan dan kain pel bersama “penki” (alat untuk menampung sampah yang aku sapu), dan ember berisi air. Namun, ketika sudah sampai ke tempat itu,  sapu yang biasa aku pakai terntyata sudah digunakan teman yang lain. Sapu yang biasa aku pakai menurutku bahan dan modelnya lebin bagus dan lebin cocok denganku sehingga membuatku semakin menikmati kerja bakti. Aku akhirnya menggunaken sapu yang tersisa, yang bebeda dengan sapu favoritku.

Namun, lewat pengalaman itu aku diingatkan banwa ketika ada tanggung jawab, sering situasi tidakIah sesuai dengan harapan atau impian kita. Bisa jadi alat kerja , rekan kerja atau pimpinan tidak sesuai dengan yang aku harapkan.

Hasil gambar untuk sapu dan pengkiDi saat seperti itu, respon dirikulah yang memberi dampak pada diri sendiri dan atau orang  lain. Apakah aku jadi bad mood karena kondisi tidak ideal itu  atau tetap kerja dengan maksimal,  memanfaatkan perlengkapan yang ada.

Begitu juga kerja buat Tuhan. Kita bisa kerjanya seadanya ( asaI-asalan/merasa terpaksa) atau tetap maksimal bekerja buat Tuhan. Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kol 3:23)

Comments