#PLNPAMIT


Tanggal 29 Juli aku mendapatkan email dari SAAT yang mengharuskan aku datang paling lambat jam 16.30 sore hari Senin, 5 Agustus 2019.  Setelah mendapatkan kabar tersebut, aku segera membeli tiket kereta api untuk berangkat tanggal 4 Agustus 2019 sore jam 16.30 dari Stasiun Gambir dan rencananya tiba di Stasiun Malang Baru jam 09.00 di tanggal 5 Agustus.

Namun, seperti mungkin sebagian besar teman-teman ketahui, pada hari Minggu siang, 4 Agustus 2019, seluruh pulau Jawa mati lampu. Efek dari listrik dari PLN yang mati tersebut bukan hanya mengganggu aktivitas yang membutuhkan lampu namun juga jaringan koneksi handphone.
Alhasil aku tidak bisa memesan taksi online langgananku (Grab) untuk berangkat ke Stasiun Gambir.  Bersyukurnya, di dekat area rumah ada tempat nongkrong taksi Bluebird. Ada satu unit taksi Bluebird yang standby di sana. Namun, ternyata taksi tersebut sudah dibooking.  Bersyukur tidak lama kemudian ada satu unit taksi Bluebird yang mendekat ke area tersebut dan aku bisa naik taksi tersebut Stasiun Gambir.

Namun di Gambir juga penuh cerita dan mengikuti hastag yang ramai beredar karena kejadian itu, aku membuat tulisan #PLNpamit

 Jadwal keberangkatan keretaku diundur hingga waktu yang tidak menentu. Saat aku sampai di Stasiun Gambir jam 15.00 dan mendengar informasi resmi tersebut, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak bisa memberitahukan kepada siapapun termasuk keluargaku tentang penundaan tersebut. Selain itu tentu karena penundaan keberangkatan semua jadwal kereta, maka calon penumpang kereta menumpuk. Akupun duduk di lantai sambil menunggu update pengumuman resmi kapan keretaku berangkat. Sambil menunggu, aku menyempatkan diri membeli makan malam seadanya karena mayoritas tempat yang menyediakan makanan di stasiun tutup. Air putihpun aku tidak dapatkan karena sudah habis. Puji Tuhan akhirnya aku berangkat jam 20.00 dan tiba di Malang sekitar jam 11.30 dan langsung ke kampus menggunakan taksi online.

Kalau soal fleksibilitas, respon, dan hidup adalah semata anugerah sudah pasti dengan mudah kita sampaikan jika ditanya apa pelajaran dari kejadian di hari Minggu tersebut.  Wajarlah dalam situasi yang tidak sesuai yang diharapkan kita perlu fleksibel, bisa cepat meresponnya serta melihat akhirnya kehidupan itu adalah anugerah Allah semata.

DOMINO
Namun, selain ketiga pelajaran itu, ada satu hal lagi yang aku pelajari dari kejadian itu.  Satu masalah dampaknya itu sangat luas. Listrik yang selama ini sudah biasa kita rasakan di kota besar, ternyata menjadi bagian yang sangat krusial sehingga ketika listrik bermasalah, ada efek domino masalah di bidang-bidang lain. Transportasi, komunikasi dan ekonomi kena dampaknya. Konsekuensinya adalah kerugian bukan hanya personal namun komunal. Betapa pentingnya melakukan segala sesuatu dengan semaksimal mungkin untuk tidak terjadi hal-hal yang menyebabkan efek negatif domino.  Namun, siapakah kita ini, manusia yang tidak sempurna.

Sebenarnya begitu juga dengan dosa. Satu dosa saja sebenarnya membuat kita tidak layak untuk datang menghadap Allah karena Allah menuntut kesempurnaan.  Satu telur busuk merusak adonan dari 9 butir telur yang baik yang sebelumnya sudah dicampur.

Namun, karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga dengan pengorbanan satu pribadi yang tanpa dosa, seluruh hukuman dosa yang seharusnya aku tanggung tidak ditimpakannya kepadaku.

Bukan hanya anugerah-Nya yang besar, tetapi kasih-Nya yang besar aku bisa ingat kembali melalui kejadian hari Minggu siang itu.  Terima kasih Tuhan untuk anugerah-Mu dan kasih-Mu yang luar biasa.

Comments