Skip to main content

SALAH SALAM

Hari Minggu pagi, tiba-tiba seorang teman membalas via Whatsapp (WA) ucapan Selamat hari Mingguku. Teman cowok yang lebih senior tetapi tetap rendah hati. Dia menanyakan kabarku dan akupun membalas sambil bertanya kabar juga.

Singkat cerita, dia kemudian menginformasikan bahwa dia mau mendukung secara finansial persekutuan mahasiswa tempat kami bertumbuh bersama ketika masih kuliah. Saya sangat senang dan merespom dengan memberitahukan kembali nomor rekening sesuai yang diinginkannya. Setelah dia transfer dukungannya, dia kembali kirim pesan lewat WA dan saya mengucapkan terima kasih dan menginformasikan kepadamya jika saua akan memberitahukan dukungannya ke pimpinan persekutuan mahasiswa tersebut. Karena dia juga masih kenal dengan pimpinan persekutuan, dia titip salam. Kemudian, ketika aku menginformasikan kepada pimpinan persekutuan tersebut, aku juga langsung sampaikan titipan salam.

Namun, aku mengetiknya keliru. Aku ketik “ada salah dari dia”. Tentu saja temenku yang jadi pimpinanpun bertanya, “ada salah apa kak?” Aku terkejut membacanya dan langsung aku periksa ulang ketikan chat-ku dan baru kusadari kesalahanku.
Aku langsung minta maaf dan mengklarifikasi mengatakan bahwa maksudku adalah “ada salam dari dia”.

Kata “salam” berubah menjadi kata “salah”. Hanya berbeda satu huruf namun memiliki pengertian yang sangat jauh berbeda. Aku belajar dari pengalaman ini bahwa pesan yang sebenarnya baik bisa jadi salah dimengerti ketika salah dalam menyampaikannya. Entah itu nadanya yang dianggap provokatif walau tidak demikian menurut yang berbicara, entah itu istilah yang dianggap kasar atau menyakitkan walau tidak demikian menurut yang memyampaikannya. Hal sepele menjadi besar.

Aku diingatkan untuk berhikmat dalam berkata-kata baik itu secara lisan maupun tulisam

Comments

Popular posts from this blog

Perlakukan Face Shield Seperti Sepatu Brodo

Penggunaan face shield menjadi salah satu rekomendasi untuk mencegah terjangkit virus corona selain masker. Secara otomatis, penggunaan face shield menjadi tren belakangan ini. Peminatnya semakin banyak di Indonesia. Model  face shield  yang menarik perhatian itu pun beragam, ada yang dipakaikan di telinga layaknya memakai kacamata, ada pula yg digunakan di kepala seperti ditulis oleh E vi Larassaty dalam laman GridHEALTH.id . Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan face shield yang sedang tren: 1.     Face shield atau masker? Apakah face shield harus menggunakan masker atau tidak? Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona atau COVID-19, Achmad Yurianto , seperti dikutip oleh Aldzah Fatimah Aditya dalam laman Idntimes.com mengatakan " k ami mengibaratkan penggunaan  face shield  tanpa masker, ibarat orang yang menggunakan payung, yang bisa melindungi dari tetesan air dari atas tetapi tidak dari samping," ujarnya dalam keterangan pe

#harussiap

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen