TRAGEDI CASHBACK


Pada hari Sabtu sore, akhir bulan April 2019, aku bersama beberapa teman mengikuti seminar di Karawaci. Ada beberapa rombongan berbeda yang berangkat. Aku berangkat seminar naik mobil temanku. Ada temennku yang berangkat naik motor.

Sebenarnya aku rencananya juga naik motor, berangkat dari BSD setelah mengikuti tes TOEFL. Namun, karena tes TOEFLku diundur, maka aku memutuskan berangkat bareng temenku naik mobil agar tidak terlalu lelah.

Sesampai di tempat seminar, jam menunjukkan pukul 17.30 WIB. Jam segitu biasanya aku makan terakhir di hari itu. Oleh karena itu ketika sampai, aku langsung bersama teman-teman mencari kantin untuk beli makanan karena masih sempat. Seminarnya mulai jam 18.30 WIB.  namun, kantinnya ternyata tidak buka di hari Sabtu. Wah…bingung…bisa-bisa maagku kambuh. Kulihat di sekitaran tempat seminar tidak ada yang jual makanan.

Namun, ternyata rombongan temenku yang naik motor sudah duluan sampai namun sedang berada di toko buku yang juga ada jualan makanan dan kopi. Alhasil aku dan teman-temanku yang barengan naik mobil, langsung meminta tolong temanku untuk menitip beli roti dan kopi dan nanti akan diganti uangnya.

BEDA PERLAKUAN
Singkat cerita, temenku yang kami titipkan roti dan kopi akhirnya sampai ke ruang seminar dengan membawa semua titipan kami. Begitu senangnya hatiku karena akhirnya aku bisa makan sebelum terlambat dan sakit lagi. Ditambah lagi bisa minum kopi yang menjadi suatu keharusan bagiku setiap hari.

Lalu temenku ini memberitahukan kepadaku jumlah uang yang harus aku ganti. Langsung aku keluarkan dompet dan membayarnya tanpa lupa mengucapkan terima kasih. Dan tidak lama seminar dimulai. Aku mengikuti seminar tersebut dengan antusias hingga waktunya makan siang.

Sambil makan siang, beberapa temenku yang juga tadi titip roti dan kopi dengan temenku yang tadi mampir di toko buku memberitahukan jumlah uang yang mereka harus bayar ke temenku yang dititipkan. Sebut saja namanya “A”. Si A meminta kepada mereka bayar full roti dan kopinya walau mereka tahu bahwa ada diskon karena membayar menggunakan aplikasi OVO. Yang aku dengar, diskonnya lumayan gede, 50%. Wow! Ketika aku mendengar itu, aku terkejut.

Akhirnya, aku memberanikan untuk bertanya kepada temenku, si A mengenai hal ini. Awalnya aku minta konfirmasi mengenai apa yang aku dengar dari temen-temenku ketika makan siang tadi. Dia membenarkan dan menginformasikan bahwa selama ini memang dengan teman-teman kantornya sama, tidak ada beda perlakuan jika ada promo OVO. Dan untuk pembelian roti serta kopi titipanku dan beberapa temanku tadi, cash back-nya bukan 50% tapi 5% doank! Alasannya adalah, promo OVO itu beruba cash back OVO Point, bukan uang. Sedangkan mereka jarang menggunakan OVO points.

INI BEDANYA
Nah, ketika dia mengatakan bahwa dia jarang menggunakan OVO points. Aku langsung paham dan tidak melanjutkan kepada permintaan agar dia mengembalikan sejumlah uangku karena ada cash back itu. Aku langsung sadar bahwa aku dan dia berbeda. Mengapa aku sampai samperin dia membicarakan lagi soal cash back karena selama ini aku familiar dan sering menggunakan OVO points. Lumayan bisa beli pulsa atau barang-barang kebutuhan yang harganya tidak terlalu mahal dengan OVO points lewat aplikasi online shop TOKOPEDIA.

Nah, temenku si “A” ini tidak tahu kalau OVO points itu bisa digunakan di Tokopedia. Pada akhirnya cash back menjadi mubasir buat dia. Nah, ini bedanya antara aku dan dia. Diskusi tentang cash back ini tidak ada titik temunya dengan cepat karena kami memiliki sudut pandang yang berbeda karena pengalaman yang berbeda. Bersyukurnya dia menjelaskan mengenai “ketidakgunaan” OVO Points selama ini bagi dirinya. Jadi wajar saja dia meminta aku dan teman-temanku yang lain bayar full pesanan kami yang dititipkan ke dia.

SUDUTNYA
Aku diingatkan lagi dari “tragedi” cash back ini untuk bisa memahami dan menerima bahwa setiap orang bisa jadi tidak berada dalam sudut pandang yang sama ketika melihat situasi yang sama. Konflik hingga ekstrimnya perpecahan bisa terjadi jika perbedaan sudut pandang tidak disikapi dengan lebih bijak.

Aku diajak untuk mengingat bahwa karena aku mengasihi temanku ini, Si A dan juga teman-teman yang lain, maka aku dengan mudah bisa menyampaikan pendapatku dari sudut pandangku dan bersyukur juga dia mau menyampaikan prinsip dia dari sudut pandangnya yang berbeda dengan sudut pandangku. Jadi, kasih itu tetap harus ada dalam perbedaan pendapat sehingga mencegah agar diskusi tidak berada dalam suasana penuh emosi dan berpikir negatif yang berpotensi membawa pada satu perpecahan atau dampak negatif lainnya di masa depan. Hal sepele tapi dampak negatifnya bisa besar.

Comments