TIPS MENGGAGALKAN NATAL


Mengapa Natal?

Mengapa Natal menjadi spesial? Menurut imanku, karena dunia berdosa dan sudah dalam hukuman Sang Pencipta. Tidak ada sebanyak apapun kebaikan yang bisa dilakukan oleh manusia bisa membuat manusia luput dari hukuman kekal. Karena manusia sudah tidak sempurna, sedangkan Allah Sang Pencipta adalah sempurna.

Namun Sang Pencipta memiliki kasih yang sangat besar sehingga Dia datang sendiri ke dunia, untuk mati menggantikan manusia yang seharusnya menerima hukuman dosa.

Dia hadir di dunia lewat kelahiranNya ysng dirayakan saat Natal. Dia menawarkan kembalinya relasi kita manusia denganNya jika kita percaya Tuhan Yesus sebagai Juruselamat. Jaminan hidup kekal bersamaNya kelak sudah pasti didapatkan.

Ketua Panitia Natal

Sudah hampir satu tahun yang lalu aku diminta menjadi Ketua Panitia tiga acara tutup tahun gerejaku, yaitu Hari Ulang Tahun Gereja, Natal dan ibadah Tutup Tahun.

Sudah sejak September kami memulai persiapan. Acara pertama tanggal 23 Desember, lalu lanjut 25 Desember dan terakhir 31 Desember.

Kita rutin melakukan rapat koordinasi dan masing-masing bidang terus mempersiapkan bagian masing-masing.

Tanggung jawab ini memang pertama kali aku lakukan, namun karena anggota panitia yang luar biasa komitmen dan semangat, waktu dan tenagaku tidak banyak terforsir karena delegasi tugas berjalan mulus.

Double bahkan Triple

Tantangan sesungguhnya ada di pekerjaanku. Kesibukanku di akhir tahun dalam pekerjaan sebenarnya rutin terjadi sejak beberapa tahun lalu mengingat aku dan divisiku bertugas mempersiapkan logistik ujian mulai dari mengatur guru pengawas ujian, produksi kertas ujian, persiapan ruang- ruang yang digunakan untuk ujian yang berkoordinasi dengan departemen lain, juga mempersiapkan segala dokumen-dokumen pengumuman yang harus ditempel di tiap ruang ujian.

Aku sendiri mengurus ujian murid SMP & SMA yang total jumlahnya hampir 1.500 orang. Rekan kerjaku ngurus ujian murid kelas 3-6 SD, serta satu lagi rekan baruku ngurus ujian praktek sains kelas 9-11.

Di luar itu, ada tanggung jawab lain divisi kami seperti mengatur survei, merekap feedback & suggestion yang masuk lewat online atau di kotak saran, serta mereview prosedur-prosedur General Operations Department. Itu kesibukan akhir tahun selain hal rutin lain yang sudah berlalu seperti latihan situasi darurat (Evacuation Drill).

Yang berbeda tahun ini adalah, pertama, aku bertanggung jawab mendampingi rekan baruku untuk bisa beradaptasi dengan tugasnya. Dia masuk bulan September dan langsung harus berlari cepat mengurus persiapan ujian praktek sains dan survei-survei selain tugas rutin lainnya. Situasi ini belum pernah kualami dan secara alami membuatku harus perlu tenaga dan waktu ekstra.

Selain itu, di akhir tahun ini, ada format baru laporan aktivitas divisiku yang harus aku selesaikan. Format dan frekuensinya bagiku secara pribadi butuh tenaga dan waktu  ekstra juga untuk bisa memahami dan menyelesaikannya.

Jadi akhir tahun ini tanpa disadari kepercayaan bukan meningkat double tapi triple.

Bukan UGD

Masalahnya adalah, aku merasa tubuhku baik-baik saja. Lebih tepatnya tidak peka. Tanda pertama adalah aku tidak sadar bahwa lebih seminggu (maaf) mencret ketika buang air besar. Aku sadar salah pilih warteg ketika makan malam karena lembur.

Tanda kedua adalah ketika aku pulang agak sore, aku memutuskan untuk main futsal. Sambil menunggu waktu berangkat ke lapangan futsal, aku merasa sangat ngantuk. Namun aku memutuskan tetap bermain karena aku ingin jaga kesehatan dan refreshing. Seharusnya aku batalkan karena badanku lelah.

Ternyata Jumat siang tanggal 21 Desember perutku merasa seperti melilit yang muncul hilang berulang kali. Aku coba minum tolak angin dan obat maag sesuai masukan teman dan bosku. Namun sakitnya tidak berkurang. Aku akhirnya pergi istirahat di klinik sampai jam pulang kerja tiba.

Aku putuskan untuk melihat dalam perjalanan apakah keadaannya tidak berubah. Jika tidak berubah aku langsung ke rumah sakit.

Dan keadaan perutku tidak berubah. Masih melilit, muncul dan hilang berulang kali. Akhirnya aku langsung ke rumah sakit dekat rumah dan daftar periksa ke dokter penyakit dalam.

Aku tidak pernah berpikir sakitku parah termasuk tipes walau melilitnya perutku belum pernah kurasakan sebelumnya. Oleh karena itu aku tidak mendaftar di Unit Gawat Darurat (UGD).

Ketika pertama kali aku periksa ke rumah sakit tersebut aku langsung ke IGD karena ketika dalam perjalanan ke kantor aku mengalami rasa pusing yang hebat. Aku belum punya pengalaman periksa ke dokter penyakit dalam atau dokter lainnya.

Ternyata, antrinya lama. Aku datang jam 17.30, baru diperiksa jam 21.00! Aku menyesal kenapa tidak masuk IGD bukan daftar dokter penyakit dalam.

Tipes = Natal Gagal

Malam itu seharusnya aku pimpin gladi bersih untuk ibadah Natal dan HUT gerejaku di hari Minggu. Karena masih nunggu periksa, aku tidak bisa datang.

Awalnya aku mau putuskan jika sampai jam 18.30 namaku belum dipanggil, aku pulang aja agar bisa ikut gladi bersih dan besok Sabtu datang periksa lagi. Tapi aku putuskan tidak datang gladi bersih karena aku bukan hanya melilit perutnya tapi sore itu meriang juga.

Singkat kata jam 21.00 aku baru diperiksa dan setelah diminta cek darah, aku positif tipes dan harus opname. Dan langsung aku koordinasi dengan pembina panitia dan tim acara untuk menyampaikan berita tidak menyenangkan ini. Mereka harus mencari pengganti aku yang tanggal 25 Desember rencananya jadi liturgis ibadah Natal, selain tanggal 23 Desembernya aku harus membacakan kata sambutan. Kalau soal persiapan, teman-teman panitia sudah siap tanpa harus aku dampingi detail.


Dari Jumat, 21 Desember hingga Selasa siang, 25 Desember aku diopname. Aku tidak bisa hadir secara fisik di gereja untuk merayakan Natal.

Itulah tips menggagalkan Natal jika Natal dilihat hanya dari sisi kemeriahan, tradisi atau rutinitas gereja atau umat Kristiani. Natal bisa dirayakan di manapun karena utamanya adalah hati bukan tempat atau hal-hal fisik lainnya seperti kado, makanan, pohon natal atau santa klaus.

Namun bagiku secara pribadi, Natal tetap aku bisa rayakan dalam suasana yang berbeda. Dan aku bersyukur Tuhan ijinkan suasana itu aku rasakan. Aku jadi bisa lebih melihat bagaimana kasih Tuhan itu hadir dalam situasi-situasi yang tidak ideal dan untuk pribadi-pribadi yang tidak ideal termasuk aku di mata kebanyakan orang .

Maria dan Yusuf serta gembala domba bukan orang terpandang (baca: tidak ideal). Betlehem kota kecil. Tuhan Yesus lahir tidak di tempat yang layak. Tapi merekalah yang menjadi saksi sejarah kasih Allah bagi manusia.

Aku sakit tapi Tuhan mengirimkan dokter, perawat-perawat, teman-teman gereja, teman-teman kantor dan teman-teman aku lainnya sebagai perpanjangan tanganNya menunjukkan kasihNya padaku.

Bagiku Natal tidak gagal. Natal adalah soal hati yang terbuka mau diingatkan lagi betapa besar kasih Allah bagi dunia ini sehingga Ia mengirimkan AnakNya yang tunggal bagi manusia supaya setiap orang yang percaya padaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

Natal gagal jika kita gagal meneruskan kasih Allah yang sudah kita rasakan, kepada sesama.


SELAMAT MEMBAGIKAN KASIH ALLAH SETELAH NATAL

Comments