EMAIL DARI TUHAN

Hari Minggu, 7 OKtober 2018, ketika matahari mulai meredup di ufuk barat, aku membaca notifikasi di handphoneku yang menginformasikan bahwa ada email yang masuk ke alamat email kantorku. Aku sangat terkejut ketika membaca nama pengirim emailnya adalah Kepala Sekolah SMP SMA tempatku bekerja.

Selama aku bekerja di tempat kerjaku sekarang, belum pernah sekalipun beliau mengirim email tanpa menyertakan alamat email kepala departemenku. Pada hari Minggu itu, beliau mengirimkan email tanpa cc siapapun.

Aku yang terkejut berusaha tenang dan membaca pelan-pelan isi emailnya. Beliau bertanya sesuatu dan celakanya, jawabannya harus berkoordinasi dengan departemen lain. Sudah menjadi peraturan tidak tertulis  dalam dunia kerja bahwa segala permintaan atau pertanyaan dari atasan, terutama yang berada di jajaran manajemen puncak, yang dalam konteks sekolah berarti kepala sekolah, harus ssegera direspon atau dijawab. Walaupun itu di luar jam kerja, bahkan di hari libur. Masalahnya ini hari Minggu. Aku tidak mau mengganggu teman-teman departemen lain.

Dalam segala kegentaran, aku memberanikan diri untuk merespon dengan mengajukan permohonan untuk memberitahukan informasi yang dia butuhkan esok hari, Senin sebelum makan siang. Jika beliau membutuhkan saat itu juga, mau tidak mau aku harus mengganggu rekan-rekan departemen lain. Puji Tuhan beliau menyetujuinya.

Flash Back
Momen mendapatkan email dari Kepala Sekolahku itu sebuah momen yang membuatku diajak flash back alias mengingat kembali rentetan kejadian-kejadian atau keputusan-keputusan yang aku alami sejak akhir tahun 2009, yaitu tahun di mana aku kembali ke rumah orangtuaku di Tangerang, setelah sejak lulus kuliah tahun 2005 hingga awal 2009 aku bekerja jika tidak bisa dikatakan melayani di Yogyakarta.

Ketika aku melihat kondisi pemuda di gerejaku, ada rasa kurang nyaman dan ingin berbuat sesuatu untuk menjadikannya lebih baik. Namun aku terbatas dalam kapasitas dan otoritas. keterbatasan itu “anehnya” tidak membuat aku akhirnya pasrah dan tidak berbuat apa-apa. Tetapi dalam anugerah Tuhan, Dia berikan ide dan Dia buka jalan. Bagaimana Tuhan melibatkan aku sebagai salah satu bagian dari karyaNya dalam pemuda gerejaku bagiku adalah  satu momentum tidak biasa atau bisa dikatakan tidak bisa dilupakan dalam hidupku. Bagaimana Tuhan menggerakkan beberapa pribadi untuk menjadi bagian dari tim aktivitas pemuda yang membuat kami sampai hari ini tetap dekat walau tidak selalu bisa bertatap muka, itu aku akui dan sadari adalah momentum penting dalam hidupku.

Momentum lainnya adalah, kenapa aku selalu tertarik untuk mengikuti pelatihan atau seminar-seminar yang berbau teologia atau Pendidikan yang diadakan di luar gerejaku. Dan kenapa aku bisa mendapatkan informasi itu. Bukan hanya mendapatkan informasi, waktu acara-acara tersebut bisa aku ikuti dan yang lebih merinding adalah ketika aku tidak memiliki dana untuk mengikuti acara-acara tersebut, Tuhan buka jalan mencukupkannya lewat cara yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Ketertarikan dan kesempatan yang bisa diambil itu adalah sesuatu yang special bagiku karena di gerejaku tidak semua orang memilikinya. Aku terkadang hanya seorang diri menjadi perwakilan dari gerejaku. Jaraknya juga tidak selalu dekat. Bahkan cukup jauh. Ini momentum penting kedua yang tidak pernah aku juga lupakan.

Nehemia
Selain email dari kepala sekolah yang membuatku flashback tentang momentum-momentum dalam hidupku, satu momen lagi yang membuatku menangis. Mungkin satu dari dua momen yang membuatku menangis dalam hati adalah ketika rapat panitia HUT, Natal dan Tutup Tahun gerejaku, Guru Injil Tegar, Hamba Tuhan yang menjadi pembina panitia, membuka rapat tersebut dengan mengajak kami merenungkan tentang apa yang dilakukan Nehemia ketika mendengar berita bahwa situasi Yerusalam sangat memprihatinkan.

Perlu diketahui Nehemia adalah juru minuman Raja Artahsasta yang saat itu memerintah Kerajaan yang menguasai dunia saat itu. Posisi pekerjaan Nehemia bukanlah posisi sembarangan. Dia juga bertempat tinggal di daerah yang tentu karena harus dekat raja, bukan tempat tinggal yang biasa. Jabatannnya yang tinggi alias dihormati, tentu pastinya mapan, lalu tinggal di daerah yang aman dan nyaman merupakan situasi yang diidamkan banyak orang.

Namun, ketika Nehemia mendengar situasi Yerusalem, dia menangis dan berdoa kepada Tuhan dan dia memutuskan untuk mau kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali kota tersebut. Dia meninggalkan zona nyamannya menuju zona sangat tidak nyaman karena dia punya hati.

EmailNya dan jawabannya.
Mendengarkan firman Tuhan ini, aku kembali membayangkan Tuhan mengirimkan email kepadaku dan bertanya kepadaku, Godlif, apakah kamu mau melayaniku sepenuh waktu?

Aku gentar menjawab "email" dari Tuhan hingga saat ini karena situasinya adalah aku sudah berkeluarga, anakku harus sekolah, tentu biayanya besar. Lalu berapa tahun aku sekolah, kemudian, yang paling gentar adalah pergumulan finansialku.

Jujur pergumulan finansiallah yang membuatku “menunda” menjawab email dari Tuhan. Menunda itu karena aku gentar jika harus menjawab tidak. Sepertinya begitu kuat panggilanNya padaku, dan aku terus menunda, dan situasinya semakin membuatku terpojok. Aku berandai jika aku dari dulu menjawab panggilanNya, mungkin situasinya tidak serumit ini. Ini yang menjadi beban pikiran dan doaku setiap hari.

Sampai aku selesai menulis tulisan ini, situasi ini belum ada titik terang. Aku hanya terus berdoa, dan melakukan langkah-langkah awal untuk mengajukan kerinduanku melayani Dia sepenuh hati, dan seperti doa salah satu adik gerejaku sebagai bentuk dukungannya padalu, jika memang Tuhan memanggil, seperti pasti memberikan semuanya pas. Pas itu termasuk dalam hal finansial. Doaku tiap hari adalah mohon kepekaan agar mengerti kehendakNya. Sambil menulis artikel ini, aku diingatkan lagi, bahwa seperti momentum dalam hidupku sebelumnya. Jika memang TUhan berkenan, Dia pasti buka jalan dan menjaga kerinduan hatiku. Amin.

Comments