GIGI-NYA TUHAN


Hari Jumat, 21 September 2018, seperti biasa, aku bangun pagi, saat teduh sambal ngopi, doa dan kemudian mandi. Istriku juga bangun untuk siapkan bekal sarapan dan makan siangku.

Jam 05.50 aku berangkat ke sekolah dan sampai sekitar jam 06.30. masih sepi jalanan depan sekolahku dan parkiran motor. Setelah parkir motor, aku langsung ke mesin absensi sidik jari dan setelah it uke ruanganku
Seperti biasa, aku masuk ke ruanganku, taruh tas,menyalakan komputer dan mulai sarapan. Sarapanku kali ini adalah “chakwe”.  Saat sedang asik-asiknya melahap ”chakwe” dan hampir habis, tiba-tiba, terasa ada gigi yang patah. Aku langsung berhenti makan dan memegang mulutku serta meraba-raba gigiku. Ternyata gigi palsuku yang berpindah posisi, tertekan hingga ke atas mendekat rongga mulut bagian atas.

Ketika aku mencoba untuk mengembalikannya pada posisi yang seharusnya, eh, giginya malah terjatuh di meja kerjaku, patah…

Hari masih pagi. Dan aku sudah di tempat kerjaku. Gigi yang patah adalah gigi bagian depan dan tengah lagi. Bisa dibayangkan bagaimana ketika aku tertawa atau ngobrol biasa pasti kelihatan bolongnya.

Demi menjaga estetika dalama berkomunikasi dengan orang lain, aku akhirnya memakai masker. Sebagai informasi, gigi palsuku yang patah ini sudah berumur 6 tahun lebih (April 2012 – September 2018). Aku langsung meminta istriku ke tempat praktik dokter gigi langgananku yang dekat rumah. Sudah enam tahun, sejak aku pasang gigi palsu, aku tidak pernah ke dokter tersebut.

SENIN BUKAN JUMAT
Setelah sampai di tempat praktik dokter, istriku langsung memberikan nomor telepon yang bisa dihubungi. Aku coba telepon ternyata ga diangkat. Akhirnya setelah pulang kerja aku langsung ke tempat praktek dokter itu dengan berharap bisa segera periksa gigiku.

Ternyata, pada hari Jumat itu, aku mendapatkan urutan pasien nomor 10. Asisten dokter yang menerima teleponku mengatakan bahwa bisa jadi tengah malam baru saya diperiksa jika urutan ke-10. Waduh. Malam banget. Aku merasa kesehatanku akan drop karena besok Sabtu aku harus lembur kerja. Minggu depannya akan ujian. Jadi aku harus melakukan pemeriksaan terakhir ruangan-ruangan yang dipakai ujian.

Akhirnya, setelah diinformasikan oleh asisten dokter nomor-nomor urut pasien minggu depannya, antara senin hingga Rabu, aku memilih hari Senin selain karena jumlah pasiennya paling sedikit yang  sudah daftar, pertimbangan lainnya adalah karena aku hari Jumat akan ke Jogja. Perhitunganku, butuh beberapa hari untuk membuat gigi palsu yang baru, jadi lebih aman ke dokter pada hari Senin.

Akhirnya, hari Senin aku ke dokter gigi, urutan pasien ke-6 tetapi karena ada beberapa yang batal, aku bisa diperiksa lebih cepat, urutan no-3. Namun, karena dokternya datang baru jam 19.30, bukan jam 18.00 yang tertera di papan pengumuman depan tempat prakteknya, maka aku baru jam 21.00 diperiksa.

Singkat kata, setelah diperiksa, dan aku membawa gigi palsuku yang patah, dia memberitahukan bahwa total biaya untuk perbaikan gigi palsuku sebesar Rp 725.000. Satu gigi. Itupun  karena aku memilih memakai gigi yang lama, yang patah. Jika aku pesan gigi yang baru, tambah Rp 150.000 lagi.

HIDUPKU BERHARGA SEKALI
Esok harinya, ketika aku menyampaikan kepada teman satu divisiku, Ita tentang biaya yang harus aku keluarkan untuk buat gigi palsu yang baru, dia nyeletuk “satu gigi aja Rp 700.000, kita diberi gratis gigi oleh Tuhan.. luar biasa ya”.. seperti itu kira-kira ucapannya.

Jleb. Ucapannya langsung membuatku terdiam dalam hati dan berkata…”iya ya… bayangkan jika 10 gigi rusak, Rp 7 juta minimal. Lebih dari 10 gigi berapa?” aku jadi semakin memahami kalimat lagu “hidupmu berharga bagi Allah” bayangkan jika diRupiahkan, seluruh organ tubuhku, berapa total nominalnya? Bermilyar-milyar hingga trilyunan. Sangat-sangat mahal. Sangat-sangat berharga. Makanya ada penjualan gelap orang tubuh.

Dari kejadian ini aku diteguhkan, diiingatkan lagi betapa aku sangat berharga bukan karena segala atribut yang ada padaku seperti latar belakang daerah, kekayaaan, karunia dan talenta atau prestasi yang pernah aku raih, namun tubuhku aja sudah menjadi bukti kuat aku sangat berharga di mata Allah. Begitu juga orang lain. Aku tidak boleh mengutuki diri sendiri bahkan merendahkan orang lain karena melihat atributnya. Aku harus terus mengingat bahwa aku dan orang lain itu sangat berharga. Aku diciptakanNya, dikasihiNya, dan aku adalah miliknya. Gigiku juga milik Tuhan.

Comments