HIDUPKU RIBET


Tiba-tiba muncul notifikasi pesan dari aplikasi chat Whatsapp (WA). Dan  notifikasi pesan itu berasal dari grup panitia retreat gerejaku. Pengirimnya adalah pembina panitia retreat yang isinya selain mengingatkan untuk rapat terakhir sebelum retreat esok hari, juga mengingatkan hal-hal yang harus disiapkan serta dilaporkan ketika rapat.

Pesan itu aku terima ketika aku baru saja pulang dari kerja. Dan pesan itu baru aku baca setelah aku baru juga selesai mengirimkan email ke bosku dari handphoneku sambal duduk malas-malasan di kasur kamarku karena bosku meminta aku mengirimkan secepatnya perihal kesimpulan hasil pertemuanku dengannya sore hari menjelang pulang Bersama dengan seorang rekan baru di divisiku.

Mungkin dirimu bisa menebak bagaimana responku membaca pesan itu? “waduh, baru saja mengakhiri satu minggu kerja yang penuh drama, pengen istirahat, sudah harus kirim email dari rumah lagi, eh, ada PR lagi….hiks” Begitulah perkataanku dalam hati.

Hari yang menerima pesan itu adalah hari Jumat, hari terakhir kerja sebelum libur lebar. Seharusnya aku bersyukur karena bisa libur lebaran lumayan lama, dari tanggal 11 hingga 19 Juni. Aku akan retreat keluarga gerejaku tanggal 14-16 Juni.  Ada waktu yang cukup lama untuk dihabiskan Bersama istri dan anakku. Apalagi anakku akhir-akhir ini selalu bertanya setiap pulang, “apakah Bapa Opi besok tinggal?” dan aku selalu harus jawab, “tidak bung, besok bapa kerja”. Sampai-sampai aku harus menjelaskan sambal mengajarkan dia berhitung, “bung, Bapa kerja 5 hari, besok hari pertama, jadi 4 hari lagi bapa tinggal, tidak kerja”. Esok harinya dia bertanya lagi, aku jelaskan bahwa sekarang hari kedua. Begitu seterusnya.

Dan ketiga hari Jumat aku pulang dan jelaskan ini hari kelima, dia bertanya, “besok Bapa Opi akan tinggal lama-lama?”. Jawabanku singkat, “Iya, Bung.” Dan dia berteriak kegirangan…. “hore besok Bapa Opi tinggal lama-lama!!! Hore! Hore!”. Sebuah sukacita yang luar biasa aku rasakan jika melihat dia bahagia.

Namun, sejujurnya, dengan tambahan PR dari persiapan retreat, hati dan pikiran seperti lebih didominasi keluhan dan akhirnya lebih banyak menghela nafas, karena serasa beban hidup itu sangat berat karena dalam satu minggu itu, senin sampai jumat ada banyak hal yang aku harus lewati dan menguras waktu dan pikiranku.

Dalam pekerjaan, aku cukup harus mengatur hati dan pikran karena situasi yang tidak diduga terjadi minggu ini. Situasi itu bukanlah situasi yang diharapkan dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Situasi yang belum pernah aku alami sebelumnya. Situasi itu berpengaruh besar bukan hanya pada diriku tetapi divisiku hingga perusahaanku. Dan situasi itu belum selesai hingga hari Jumat.

Lalu minggu ini, ada salah satu anggota gerejaku meninggal di hari Senin. Sebagai anggota tim diakonia (pelayanan sosial) gerejaku, seperti aku ambil bagian dalam proses pelayanan untuk keluarga anggota gerejaku tersebut, mulai dari mengunjungi ke rumahnya sebelum dibawa ke rumah duka selama di rumah duka hingga dimakamkan.

Selain itu, tim diakonia juga bekerjasama dengan RT di dekat gerejaku membagikan takjil untuk anak yatim di mushola RT, warga di kompleks di belakang gereja serta orang-orang yang berkendaraan melewati jalan di depan gerejaku. Dan Harinya berbeda, untuk yang anak yatim di hari Rabu, untuk warge kompleks belakang gereja serta orang-orang yang berkendaraaan di jalan depan gereja di hari Jumat sore.

Padat merayap istilahku buat minggu ini. Dan sepertinya wajar responku ketika membaca pesan WA Jumat malam walau kuungkapkan hanya dalam hati. Aku merasa bahwa akulah yang mengerti kapan waktunya aku harusnya istirahat. Kapan waktunya aku bisa menenangkan diri. Dan aku merasa bahwa aku berhak memutuskan untuk diriku kapan waktunya untuk diriku sendiri.

RITME
Namun, aku ditegur lewat sharing firman Tuhan ketika aku mengikuti rapat terakhir panitia retreat gerejaku. Hamba Tuhan yang sharing Firman Tuhan mengucapkan satu kata yang menjadi kata kunci sharingnya yang dilatar belakangi situasi yang dia alami beberapa waktu ini yang hampir sama dengan diriku. Kata tersebut adalah RITME.

Jleb. Ritme menurut kamus Bahasa Indonesia online sama dengan irama. Artinya  1 gerakan berturut-turut secara teratur; turun naik lagu (bunyi dan sebagainya) yang beraturan; ritme; 2 Sas alunan yang ter-cipta oleh kalimat yang berimbang, selingan bangun kalimat, dan panjang pendek serta kemerduan bunyi (dalam prosa); ritme; 3 Mus ukuran waktu atau tempo: -- lagu Bengawan Solo berlainan dengan lagu Jali-Jali; 4 Sas alunan yang terjadi karena perulangan dan pergantian kesatuan bunyi dalam arus panjang pendek bunyi, keras lembut tekanan, dan tinggi rendah nada (dalam puisi);( https://kbbi.web.id)

Apa yang aku alami minggu ini bisa disebut sebagai bagian dari ritme hidupku. Ketika merenungkan hidupku selama minggu ini dalam konteks sharing firman TUhan yang kudengar, aku diajak mengevaluasi hidupku selama ini apakah berpatokan pada ritme diriku sendiri, orang lain, kebanyakan orang, perintah orang atau ritmenya Tuhan?

Ah, teguran yang membuatku merasakan damai sejahtera kembali. Aku belajar merendahkan diri untuk mengikuti ritme Tuhan. Yang menjadi hal yang aku kritisi ketika merenungkan firman Tuhan dan kehidupanku berkaitan dengan ritme Tuhan adalah bagaimana aku bisa memahami ritme Tuhan? Dalam hal ini, jawabannya tentu kedekatan dengan Tuhan. Bagaimana bisa dekat? Tentu harus ada banyak waktu yang konsisten berinteraksi dengan seseorang, termasuk Allah, akan membuatku semakin mengenal dia/Dia. Aku mengevaluasi bagaimana intensitas interaksiku selama beberapa waktu ini dengan Tuhan sangat jauh dari berkuaitas baik. Dan pada akhirnya membuat diriku pun tidak peka dan mengikuti ritmenya Dia. Aku takut ritme yang kuikuti adalah rimteku atau orang lain, dan ternyata ritme tersebut berbeda dengan ritme Tuhan. Tidak mudah kembali mengikuti ritme Tuhan ketika ritme yang aku Jalani selama ini sudah merasuki hati dan pikiran. Aku perlu Tuhan.

RESPONKU RITMENYA
Responku terhadap situasi yang kuhadapi bergantung pada ritme siapa yang aku ikuti. Dan bagaimana responku ketika mendapat pesan WA menunjukkan aku mengikuti ritmeku bukan ritmeNya Tuhan. Masalahnya, apakah dalam ritme Tuhan tidak ada waktu istirahat? Wajar donk aku merasa bahwa aku butuh istirahat setelah satu minggu yang cukup menguras hati, pikiran dan fisikku termasuk membuatku berkurang waktu dengan keluarga. Ah, aku merefleksikan bahwa waktu istirahatku tetap adalah dalam ritmenya Tuhan, namun waktu itu TUhan akan sediakan tepat pada waktuNya karena Dia yang menciptakan aku, sangat tahu sekali tentang diriku. Dia tahu kapasitasku dan sampai kapan aku bisa bertahan sebelum waktunya isitrahat. Satu lagi bisa jadi sebenarnya waktu istirahat itu sudah disediakan, hanya akunya kurang bisa memanajemen waktu sehingga sepertinya belum ada waktu bagiku untuk istirahat. Benar-benar aku seperti didorong untuk duduk sejenak di kursi, tidak bergerak, dan mengambil waktu untuk benar-benar mengevaluasi hidupku saat ini.

Kiranya dalam anugerahNya, aku bisa menjalani kehidupan kembali mengikuti ritmeNya. Hidupku yang padat pada akhirnya tidak menjadi ribet ketika aku sudah memahami ritme Tuhan dan meresponnya dengan benar. Termasuk untuk masa depanku dan keluargaku.

DIA MENYEDIAKAN BUKAN ZONA NYAMAN TETAPI ZONA IMAN
Situasi dalam pekerjaan, dalam pelayanan di gereja, dalam keluarga, bergumul tentang masa depan, bergumul tentang finansial, dan pergumulan lainnya, serta hal-hal atau kejadian-kejadian tidak terduga yang bisa terjadi dalam hidupku, selain aku diajak berjuang untuk memahami, menerima dan merespon dengan tepat ritmenya Tuhan, aku juga belajar, bahwa dalam ritmenya Tuhan tidak menyediakan zona nyaman dan zona aman tetapi zona iman. Dia yang lebih mengeahui tentang diriku dan termasuk rencanaNya bagi hidupku, DIa membentukku dalam zona iman itu agar semakin serupa diriNya dan Dia tidak pernah melepaskan aku sendirian dalam membentukku. Dia memberikan pernyertaanNya hingga kesudahan. Amin


Comments