AURANYA BEDA


Awal bulan April 2018, di grup perusahaanku mulai diadakan kembali kompetisi olahraga dan seni antar uni bisnis. Nama kompetisi tersebut adalah PORSEKARY. Dulu PORSEKARY diadakan setiap tahun. Sekarang, sejak 2016, diadakan dua tahun sekali. Sejak tahun 2013, aku yang kerja di unit bisnis di Serpong bergabung di tim futsalnya.

Sejak pertama kali aku gabung di tim futsal hingga PORSEKARY 2016, tim futsal Serpong selalu masuk final. Dua kali kami menjadi juara 1 (2013 & 2014) serta dua kali kami menjadi juara 2 (2015 & 2016). Tapi bukan karena faktor aku bergabung di tim ini baru bisa masuk final atau juara. Banyak faktor lain yang lebih berpengaruh, seperti adanya anggota tim yang memiliki kemampuan bermain futsal yang mumpuni lebih dari diriku baik itu teman-teman outsourcing maupun guru-guru Physical education (olahraga) ditambah dengan anggota tim yang sebelumnya sudah bergabung dan tetap oke.

75%
Sebenarnya ketika tahun 2017 tidak ada PORSEKARY karena digantikan dengan acara lain cukup sedih. Alasannya karena aku sangat ingin segera berjuang memenuhi janjiku untuk menjadi juara 1 lagi. Janji itu aku ucapkan ketika diwawancara oleh kru TV perusahaanku seusai pertandingan final futsal 2016 lalu.
Tanpa diduga, PORSEKARY tahun 2018 diadakan di awal tahun. Biasanya di akhir tahun. Aku sangat antusias ketika mendapatkan email pertama yang meinformasikan akan diadakannya acara ini. Ketika akhirnya dibuka pendaftaran untuk tim futsal, aku langsung berkoordinasi dengan koordinator tim futsal tempat, Leo Sedubun.

Satu hal yang membuatku semakin optimis adalah karena peraturan kompetisi futsal tahun ini sedikit dirubah untuk komposisi pemain dalam lapangannya. Sebelum-sebelumnya, komposisi 5 pemain di lapangan diwajibkan 3 orang karyawan inhouse dan 2 orang karyawan outsource. Peraturan ini agak membuat kami kesulitan karena jumlah karyawan inhouse yang bisa menyediakan waktu untuk bertanding di kompetisi PORSEKARY tidak banyak. Faktor utamanya adalah karena pertandingannya malam dan di Jakarta. Jarak Serpong dengan Jakarta serta jarak tempat tinggal karyawan yang juga jauh dari lokasi pertandingan. Satu factor lain yang cukup membuat banyak karyawan yang mengurungkan niat bergabung di tim futsal PORSEKARY adalah karena lapangan pertandingan outdoor. Jika hujan (dan biasanya ketika kompetisi diadakan saat musim hujan), maka pertandingan ditunda. Kami yang dari Serpong, sudah jauh-jauh lebih dari 2 jam berangkat ke Jakarta, pulang ke Serpong tanpa bertanding dan besoknya kerja, tentu bukan hal yang menyenangkan. Peraturan baru yang mengijinkan 75% komposisi tim adalah karyawan outsource seolah mewakili keyakinanku lebih dari 75% kami bisa merebut juara 1 tahun ini.

SIMPRUG
Beberapa hari setelah aku mendaftarkan anggota tim futsal Serpong dan aku mewakili tim diundang untuk datang di technical meeting. Selama ini kami tidak pernah ikut technical meeting karena kendala jarak dan waktu. Namun, kali ini aku memutuskan untuk datang walau terlambat dengan pertimbangan mengurangi resiko adanya kesalahpahaman dengan kesepakatan-kesepakatan yang dibuat di awal untuk kompetisi ini.
Di technical meeting, ada banyak hal yang menjadi ucapan syukurku. Pertama, kabar baik baik tim futsal Serpong (dan tim futsal Alam Sutera dan Bekasi), setiap pertandingan grup kami  diadakan di lapangan indoor Simprug. Jika hujan, tidak mungkin pertandingan ditunda. Selain karena faktor indoor, faktor jarak Simprug dengan Serpong yang lebih dekat daripada Serpong Kijang (Kemanggisan) yang selama ini menjadi tempat pertandingan menjadi satu keuntungan lain yang kami dapatkan. Tentu ini menjadi sebuah hal yang positif yang baru tahun ini. Kedua, aku bisa berkenalan dengan manajer tim futsal dari unit bisnis lain, termasuk dari Alam Sutera dan bisa sepakat untuk mengadakan pertandingan persahabatan sebelum dimulainya kompetisi. Tim futsal Alam Sutera adalah tim yang bagus. Walau sudah lama tidak ikut, mereka adalah tim “kuda hitam” yang menjadi juara grup walau akhirnya harus terhenti di perempat final. Dua tahun lagi bisa jadi mereka akan lebih baik lagi.

DI AWAL, 
Singkat kata, pertandingan pertama hingga pertandingan ketiga di grupp, kami memenangkannya dan berhak lolos ke perempat final walau tersisa satu pertandingan lagi. Pertandingan terakhir di grup, walau kami sudah lolos tetap bergengsi karena kami melawan juara bertahan yang juga merupakan tim yang mengalahkan kami dua kali berturut-turut di dua final PORSEKARY terakhir. Pertandingan bergengsi tersebut berakhir dengan kekalahan kami lagi dengan skor 4-2.

Kami memang kalah di pertandingan tersebut tetapi kami belajar banyak hal lewat pertandingan tersebut. Di perempat final, setelah perubahan format pertandingan berdasarkan masukan dari tim-tim peserta, kami sempat mengalami kejadian yang kurang menyenangkan sebenarnya. Sempat dinyatakan menang WO karena tim lawan tidak datang, kami harus melakukan pertandingan ulang karena adanya miskomunikasi.

DI TENGAH,
Dimulai dengan baik di grup, di tengah jalan, di perempat final, kami mengalami situasi yang menimbukan pro dan kontra di internal tim kami. Dari sisi peraturan kami memang seharusnya punya posisi kuat untuk menolak bertanding ulang. Kami sudah datang jauh-jauh dari Serpong ke Simprug di malam hari, pulang malam hari dan besoknya langsung kerja. Jam 7 pagi. Dengan semangat sportivitas dan demokrasi yang sangat terasa pada tim futsal Serpong tahun ini, akhirnya diputuskan lewat voting bahwa kami menerima tanding ulang dengan satu syarat bahwa pertandingan diadakan di Serpong. Pertandingan dilaksanakan di hari Sabtu sore.

Situasi pertandingan ulang ini sebenarnya tidak ideal bagiku secara pribadi maupun secara tim. Secara tim, hanya dua orang karwayan inhouse yang konfirmasi bisa datang termasuk aku. Sisanya ada yang tidak bisa datang dan ada yang belum pasti. Jika hanya dua orang datang, maka otomatis, aku dan temanku harus bermain full time, tidak boleh diganti pada pertandingan tersebut karena peraturan minimal 2 orang karyawan inhouse harus ada di lapangan. Tidak akan mudah mengingat usiaku.

Tidak ideal dari sisi pribadiku karena pada pagi harinya aku harus mengikuti wisuda pasca sarjana dan siangnya ada waktu syukuran dengan keluargaku. Bangun subuh di hari libur dan hingga siang tidak istirahat serta waktu dengan keluarga berkurang tentu tidak mudah bagiku.
Puji Tuhan beberapa sebelum jam pertandingan, ada dua orang anggota tim yang berstatus karyawan inhouse yang menginformasikan  bahwa mereka bisa datang.

Akhirnya kami menang dengan skor 6-1 dan lolos ke semifinal. Di semifinal, tantangan kembali ada. Lokasi pertandingan harus di lapangan outdoor, di Kampus Kijang Kemanggisan sesuai instruksi dari panitia utama PORSEKARY dengan pertimbangan lokasinya lebih mudah diakses dan berpotensi ditonton lebih banyak orang daripada di Simprug. Resikonya adalah jika ada hujan, maka pertandingan harus ditunda di hari lain. Tantangan lain adalah karena transportasi kami adalah menggunakan bis sekolah dengan ukuran 54 tempat duduk, seukuran bis ALS yang legendaris, dan lokasi Kampus Kijang tidak bisa dilewati bis seukuran bis sekolah kami, maka kami harus turun di Kampus yang agak jauh dan berjalan kaki dari sana.

Puji Tuhan, ketika kami mau jalan kaki, dari Kampus tempat parkir bis ke Kampus Kijang, ternyata ada Bis antar jemput mahasiswa yang ma uke Kampus Kijang. Kami dipersilahkan untuk ikut,, sehingga kami tidak perlu jalan kaki. Menghemat tenanga kami sebelum bertanding. Aku sudah merasa ini salah satu penyertaan Tuhan yang membuka jalan kami juara 1. Lewat pertandingan yang ketat dan seru, kami menang dengan skor 4-3. Lawan kami di semifinal adalah lawan kami yang sama di dua PORSEKARY sebelumnya. Jadi kami sudah 3x mengalahkan mereka di semifinal. Namun semakin lama mereka semakin hebat. Dua tahun lagi tentu tidak mudah untuk kami mengalahkan mereka lagi jika bertemu kembali. Salut untuk mereka. Oh ya, bersyukur malam hari ketika pertandingan tidak ada hujan. Kami akhirnya pulang dengan jalan kaki, tetapi senang karena kami menang.

DI AKHIR
Pertandingan final, kembali kami melawan juara bertahan. Pertandingan yang ketat dan cukup keras seperti sebelum-sebelumnya jika kami berhadapan dengan mereka. Puji Tuhan kami akhirnya menang dengan skor 7-5. Kami mengakhiri perjuangan kami di kompetisi futsal PORSEKARY tahun ini dengan penuh kegembiraan. Salah satu pemain kami juga terpilih menjadi pemain terbaik.

BEDA
Melihat kembali perjalanan kami selama mengikuti kompetisi, aku merasakan banyak hal yang beda di tim futsal tahun ini. Pertama adalah kami bisa sempat mengadakan beberapa kali latihan Bersama sebelum kompetisi dimulai sehingga semakin bisa mengenal gaya permainan masing-masing. Pertemuan demi pertemuan membuat pengenalan yang mendukung tujuan tim.

Kedua, tim ini terdiri dari anggota yang komitmen untuk datang di hari pertandingan. Hampir setiap pertandingan kami full team, 15 orang. Faktor komitmen ini membuat kami bisa merotasi pemain dengan lebih banyak sehingga fisik terlalu terkuras. Fisik yang baik menunjuang koordinasi permainan sehingga kemenangan demi kemenangan kami bisa raih.

Hal yang ketiga, dengan adanya aplikasi chat Whatsapp, kami lebih mudah berkoordinasi. Tetapi tidak itu saja, adanya kesempatan menyampaikan pendapat dengan demokratis membuat keputusan-keputusan yang diambil lebih punya dampak karena masing-masing menghargai keputusan final.

Hal yang terakhir, dukungan dari manajemen unit bisnis dan rekan-rekan guru dan non-guru serta karyawan outsource sangat besar. Kepala sekolah memberikan konsumsi, rekan-rekan mengirimkan pesan harapan dan dukungan untuk menang walau tidak bisa datang, hampir setiap pertandingan ada suporter.

Spesial ketika final, pasukan pendukung paling banyak dan paling meriah. Drum dan TOA dibawa dan sepanjang pertandingan semangat berteriak yel-yel tanpa kenal lelah. Aku secara pribadi mendapatkan semangat ekstra besar karena dukungan dari teman-teman yang menjadi suporter.

Pada akhirnya aku menyimpulkan memang auranya beda untuk tim futsal tahun ini. Banyak sekali faktor positif yang mendukung tercapainya kemenangan. Aku belajar bahwa dalam mencapai suatu tujuan, banyak sekali faktor yang mempengaruhi. Dalam kehidupanku sebagai kepala rumah tangga, sebagai karyawan dan sebagai aktivis gereja, semuanya aku diingatkan agar tidak melihat bahwa aku sendiri yang memiliki peran besar dalam mencapai tujuan, tetapi ada banyak faktor lain yang cukup siginifikan memberi pengaruh pada tercapainya tujuan. Aku diingatkan untuk tidak boleh sombong. Pada akhirnya, seperti yang kami lalukan sebelum dan sesudah pertandingan, kami serahkan semuanya pada kehendak yang di Atas. Jadilah kehendak-Nya.

Comments