MACET

Senin sore, saat waktunya pulang, ternyata hujan deras. Dari tempat kerjaku aku langsung memakai jas hujan. Aku pulang di jam pulang kantor-kantor pada umumnya di daerah Tangerang. Aku sudah membayangkan bahwa jalanan utama pulang ke rumahku akan sangat macet lebih dari biasanya.

Jika tidak hujan dan pulang pada jam 4.30 sore, aku biasanya memilih lewat jalan alternatif dari BSD ke Sangiang yaitu lewat kawasan Mall Summarecon Serpong tembus ke daerah Gading Serpong. Daerah ini tidak semacet jalanan utama jika aku langsung dari BSD melewati Alam Sutera.

Namun, saat Senin sore, ternyata, jalanan di depan Mall Sumarecon Serpong macet total. Mobil-mobil sangat lambat bergerak. Hanya yang mengendarai motor yang bisa menyalip ke sana ke mari, termasuk diriku. Ada apa?

Masih dalam situasi terjebak kemacetan, aku sedikit menaikkan badanku untuk bisa melihat lebih jauh dan melihat sepertinya kemacetan tersebut tidak panjang, hanya satu kilometer. Setelah itu jalanannya terlihat sepi.

Hanya memang kemacetannya sangat parah. Benar-benar sulit bergerak. Situasi ini membuatku tidak sabar serta jika tidak sempat melihat ke arah lebih jauh akan menjadi frustasi karena menanti kapan kemacetan ini berakhir. Sempat aku ingin mengambil keputusan untuk mengambil jalan alternatif yang masih memungkinkan.

Hanya ada satu jalan alternatif yang bisa aku ambil. Namun, jalan alternatif itu, pada hari biasa, aku tahu bahwa lebih macet dari jalur yang biasa aku lewati ketika pulang. Jadi aku ragu.
Karena aku sudah sempat melihat lebih jauh, maka aku memutuskan tetap berada di jalur yang macet dan tidak memilih jalur alternatif tadi. Aku berpikir bahwa toh nanti aku juga kemungkinan besar terjebak macet juga di sana.

Aku memang membutuhkan waktu untuk lewat kemacetan tersebut. Tetapi kemacetan tidak sepanjang yang aku takutkan. Hanya sekita 1 kilometer kemacetan tersebut dan setelahnya jalan sangat lapang sehingga aku bisa memacu kecepatan motorku dengan maksimal.

Aku belajar dari pengalama ini bahwa dalam perjalanan kehidupanku, seringkali aku tidak fokus atau bisa dikatakan lupa akan masa depan yang pasti Indah direncanakan oleh Tuhan karena segala kesulitan-kesulitan yang aku harus hadapi. Keluhan dan rasa frustasi dan ingin menyerah mendominasi pikiranku ketika segala tantangan yang kuhadapi sepertinya tidak segera teratasi dengan baik. Rasanya ingin sekali lari dan terciptalah segala pembenaran untuk pelarian.


Namun, aku ditegur lewat pengalamanku ini. Aku harus belajar untuk menjaga imanku dan melihat perjalanan penuh “kemacetan” dalam hidupku tidaklah menjadi perjalanan yang selamanya. Dengan berpikir positif dan beriman, aku diajak untuk terus percaya pada Tuhan dan janji-janji-Nya sehingga bisa merespon perjalanan kehidupan jangka pendekku dengan lebih penuh sukacita dan terbuka dibentuk. Tidak mudah tetapi aku belajar untuk percaya inilah proses yang harus dilalui agar aku menjadi pribadi yang sesuai keinginanNya. SEUMUR HIDUP AKU SEKOLAH

Comments