SABTU SERU, MINGGU MENEGANGKAN, SENSASI SELASA

Hari Sabtu, rencananya aku akan menghadiri pernikahan. Yang pertama siang hari aku menghadiri pernikahan rekan kerjaku di Tangerang Selatan, , lalu lanjut ke pernikahan teman kampusku di Taman Mini Indonesia Indah. Rencananya aku naik motor ke Tangerang selatan, lalu titip motor di kantor dan naik taksi online untuk berangkat ke TMII.

Sekitar jam 10an, berangkatlah aku ke Tangerang Selatan. Di tengah jalan, tiba-tiba turun hujan deras sehingga akupun menepi karena aku tidak menggunakan jas hujan. Aku berteduh di pom bensin bersama dengan beberapa motor yang lain. Ketika aku sedang berteduh, tiba-tiba ada telepon dari staf tata usaha (TU) kampusku yang membantu aku untuk mengurus administrasi pendaftaran wisuda. Dia bilang, “mas, tolong datang ke Kampus sekarang ya, untuk bayar uang wisuda.” Aku jawab, “wah, rencananya aku bayar Selasa Mas. Pie?” Dia mengatakan, “wah, ga enak aku mas, soalnya sudah janji dengan bagian keuangan bahwa mas akan bayar Sabtu ini”. Dia lanjut, “ketemu saya di Menteng jam 1 ya”. Ketika aku melihat jam tanganku, waktu menunjukkan hampir jam 11 siang. Aku masih di tengah jalan, tidak bawa jas hujan padahal sedang hujan cukup deras, serta aku tidak bawa dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Selain itu, aku belum punya uang untuk bayar wisuda. Bingung. 

Mengapa aku mau ke kampus hari Selasa minggu depannya karena rencananya, hari Minggu aku ke koperasi untuk mencairkan depositoku agar bisa dipakai untuk bayar uang wisuda. Tetapi, pada hari Sabtu itu juga aku harus bayar.

Dalam kebingungan, aku kirim pesan staf TU tersebut dan menjelaskan situasiku, bahwa sekarang aku masih di Tangerang, sehingga tidak bisa keburu datang ke Menteng yang terletak di Jakarta jam 1. Selain itu, aku juga dengan jujur mengatakan bahwa aku belum punya uang untuk bayar biaya wisuda. Dia membaca hanya tidak menjawabnya. Padahal aku berharap dia menyetujui jika aku bayar hari Selasa.

Dalam situasi ini, aku memberanikan diri bertanya kepada adikku, apakah bisa pinjam satu hari uangnya untuk bayar wisuda. Aku kirim pesan namun belum juga dibalas. Akhirnya aku telepon. Tetapi tidak juga dibalas. Aku sampaikan juga berita ini ke istriku dan dia sarankan aku pulang saja sambil menunggu jawaban dari adikku.

Puji Tuhan dalam perjalanan pulang, aku membaca pesan dari adikku yang mengatakan bahwa dia bisa pinjamkan. Satu masalah terpecahkan.

Aku sampai di rumah jam hampir jam 12! Tidak mungkin sampai di Jakarta hanya dalam waktu 1 jam di siang hari. Aku putuskan tetap pergi. Setelah makan siang, aku pesan taksi online untuk pergi ke kampusku di Menteng. Oh ya, saat menunggu di pom bensin, aku sempatkan kirim permintaan maaf kepada teman-temanku yang menikah karena tidak bisa hadir di pernikahan mereka.

Aku baru sampai di kampus jam 15.30! Bersyukurnya staf TU-nya masih ada. Dia minta aku berikan CD tesisku ke dosen pembimbingku yang sore itu masih ada sebagai salah satu persyaratan wisuda. Ternyata dosenku tidak menerima jika hanya CD saja. Dia minta hardcopy tesisku. Hiks..padahal ketika tanda tangan tesis asliku bulan lalu, dia bilang hanya minta CD. Dan tertundalah satu syarat wisuda.

Staf admin sarankan untuk bayar saja dulu uang wisuda dan uang sumbangan buku. Aku turun dari lantai 4 kampusku ke mesin ATM dekat pos keamanan. Aku coba untuk transfer, tidak berhasil terus untuk uang wisuda. Uang sumbangan buku berhasil hanya tidak ada slip bukti transfer. Aku harus login di internet banking agar bisa screenshot mutasi rekening sebagai bukti aku sudah bayar. Sedihnya, aku sudah lama tidak pakai internet banking rekening BNIku dan aku lupa passwordnya. Passwordnya bisa diganti tetapi harus dikonfirmasi lewat nomor handphone yang terdaftar di BNI.

Masalahnya nomor handphoneku yang terdaftar di BNI saat ini sedang tidak aktif karena aku hanya pake satu handphone tanpa dual sim. Aku harus pulang dulu untuk masukkan nomorku di tab ku agar bisa dapat kode untuk membuat password baru.

Sampai jam 6 sore belum berhasil juga untuk bayar uang wisuda. Aku kirim pesan ke staf TU untuk info mengenai masalah di mesin ATM dan responnya cukup menyejukkan. “Coba Senin aja. Lagi error BNI-nya.” Wah, tadi pagi dia telepon minta segera dibayar hari itu juga, namun di sore hari dia mengijinkan untuk ditunda. Puji Tuhan. Benar-benar Sabtu Seru.

MINGGU MENEGANGKAN
Esoknya, setelah mengantar anak ke Sekolah Minggu, aku langsung berangkat ke daerah Karawaci, Tangerang untuk mencairkan uangku di kantor cabang Koperasiku. Ketika sampai, sekitar jam 10.30an, staf koperasi bilang, untuk mencairkan uangku, ternyata ada dokumen yang harus diberikan meterai dan seharusnya sudah diberikan ke saya, namun ternyata masih disimpan di kantor pusat. Lokasinya ada di Jakarta! Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar 1 jam. Hari Minggu, koperasi tutup jam 12! Jam sudah menunjukkan hampir jam 11. Selain jarak, aku juga khawatir proses pencairan uangku membutuhkan waktu yang lama sehingga aku tidak bisa cairkan uang pada hari itu.

Puji Tuhan aku sampai di kantor pusat sebelum jam 12. Puji Tuhan juga proses pencairannya tidak butuh waktu lama seperti yang aku khawatirkan. Minggu yang menegangkan.

SENSASI SELASA
Belum cukup sampai di situ. Hari Selasa, aku sudah merencanakan pagi-pagi sampai di kantor aku akan minta hardcopy tesisku berserta CD dan form untuk ditandatangani dosen pembimbingku yang selama ini tiap hari Selasa selalu ada di kampus Meruya Selatan. Setelah itu, aku berencana untuk bayar uang wisuda dan kemudian bisa daftar wisuda.

Yang terjadi ketika aku sampai di kampus, staf TU-nya ternyata sedang ke luar kota. Lalu dosen pembimbingku tidak ada di kampus dan pagi hari BNI masih offline sehingga aku harus menunggu sampai siang dan bayar lewat teller bukan ATM BNI. Siang hari aku kembali ke bank, puji Tuhan pembayaran bisa dilakukan. Lalu aku putuskan langsung pulang.

Seperti biasa, ketika mau bayar parkir, aku matikan lampu depan agar petugas parkir bisa melihat jelas nomor polisi motorku. Setelah bayar, aku lupa menghidupkan kembali lampu depan motorku dan tidak jauh dari kampusku ada razia motor. Aku kena tilang karena tidak menghidupkan lampu motor. SIM ku ditahan dan aku harus menghadiri sidang tanggal 5 Januari. Selasa penuh sensasi..

Tiga hari diisi dengan kejadian-kejadian yang tidak terduga, tidak diharapkan, dan tidak ada kepastian. Namun, melewati tiga hari itu, aku melihat ada damai sejahtera dari Tuhan menyertaiku walau segala sesuatu belum ada kejelasan sampai aku menulis artikel ini. Aku belajar untuk terus beriman, berserah pada Tuhan serta belajar lebih baik lagi dalam merespon segala situasi yang tidak pernah aku harapkan. Tuhan memberikan banyak pelajaran lewat pengalaman tiga hari itu. Terima kasih banyak Tuhan.

Comments