NATAL ITU BUKAN KEMBANG API

Bagi umat Kristen, ada tiga perayaan paling penting dalam satu tahun, yaitu Natal, Jumat Agung dan juga Paskah. Ketiganya perayaan tersebut mewakili tiga peristiwa penting yang diyakini  oleh umat Kristen sebagai peristiwa-peristiwa Agung yang mempengaruhi kisah hidup manusia. Sekedar menyegarkan ingatan, Natal adalah perayaan kelahiran Tuhan Yesus, Juruselamat manusia, yang adalah Allah itu sendiri. Juruselamat menjadi sebuah “gelar” yang tidak akan pernah disematkan kepada-Nya jika tidak ada peristiwa-peristiwa selanjutnya yang perayaannya disebut dengan Jumat Agung serta Paskah. Jumat Agung adalah perayaan peristiwa yang matinya Tuhan Yesus di kayu salib, menanggung dosa kita manusia, menggantikan kita yang seharusnya mati di kayu salib tersebut sebagai bentuk hukuman karena dosa-dosa kita. Dosa-dosa kita bukanlah hal yang sepele tetapi seringkali diangap sepele oleh aku dan mungkin teman-teman. Ada tulisan menarik tentang hal ini yang mungkin nanti aku bisa bagikan dari sebuah buku yang aku baca. Perayaan ketikga adalah semacam perayaan puncak yaitu Paskah. Paskah merayakan kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian yang menandakan adanya kuasa Allah yang besar sehingga hukuman atas dosa manusia telah dijalankan tetapi juga anugerah Allah yang mengasihi manusia membuat Dia menawarkan hidup yang kekal bersama-Nya, jika manusia percaya kepada-Nya.

Ada cerita yang kukutip dari buku berjudul Follow Me karya David Platt. Sebuah cerita yang menceritakan seorang bernama Azeem yang bercakap-cakap dengan seorang pengemudi taksi.
Jadi Azeem berkata kepadanya, “Jika saya menampah wajah Anda, apa yang akan Anda lalukan terhadap saya?”
Pengemudi taksi itu berkata, “Saya akan mengeluarkan Anda dari taksi saya.”
Azeem melanjutkan, “Jika saya mendatangai seorang lelkai di jalan dan menampar lelaki itu di wajahnya, apa yang akan ia lakukan terhadap saya?”
Pengemudi taksi itu berkata, “Ia mungkin akan memanggil semua temannya dan menghajar Anda”.
Azeem berkata, “bagaimana jika saya mendatangi seorang polisi dan menamparnya di wajah? Apa yang ia lakukan terhadap saya?”
Pengemudi itu menjawab, “Jelas Anda akan dihajar habis-habisan, kemudian dijebloskan ke dalam penjara.”
Akhirnya, Azeem mengajukan pertanyaan ini: “Bagaimana jika saya mendatangi raja negeri ini dan menampah wajahnya? Apa yang akan terjadi dengan saya?”
Pengemudi taksi tu menatap Azeem dalam-dalam dan tertawa aneh. Ia berkata kepada Azeem, “Tamatlah riwayat Anda.”
Berpijak dari hal ini, Azeem berkata, “Jadi Anda bisa lihat, bahwa beratnya hukuman atas dosa adalah cerminan dari posisi pihak yang Anda melakukan perbuatan dosa terhadapnya” Pengemudi taksi itupun tersadar bahwa ia telah sangat meremehkan keseriusan dosanya terhadap Allah.
Ketika aku menulis ini, aku masih berjuang dengan dosa. Mengapa aku berani menulis tulisan yang mungkin ada yang bilang religius, bukan karena aku merasa lebih baik dari orang yang tidak pernah gembar-gembor tentang imannya, tetapi ini bagian dari refleksiku sebagai orang berdosa yang kubagikan dengan harapan bahwa sesuatu yang baik dalam hal ini menjadi pelajaran bagiku, perlu aku bagikan agar siapa tahu yang membaca juga bisa menarik pelajaran dari refleksiku.
Kembali ke cerita di atas, percakapan itu Azeem dan pengemudi itu bisa mewakili gambaran mengapa kematian Tuhan Yesus di kayu salib bagi umat Kristen menjadi sebuah hal yang dirayakan tiap hari Jumat dan disebut Jumat Agung. Sebuah tindakan kasih yang Agung dari Tuhan Yesus yang mau mati mengantikanku, menanggung semua hukuman yang pantas diberikan kepadaku yang telah lebih dari sekedar menampar raja negeriku alias Presiden Indonesia, Pak Jokowi, tetapi aku menyakiti hati Pencipta Alam Semesta, Penciptaku, yaitu Allah.
Peristiwa Jumat Agung dan Paskah tidak akan terjadi jika tidak ada Natal. Sebuah keputusan yang pantas disebut peristiwa agung juga ketika Allah sang Pencipta manusia dan seluruh alam semester mau menjadi manusia yang adalah ciptaan-Nya. Keputusan menjadi manusia karena berencana mau menggantikan manusia menanggung hukuman atas dosa manusia menunjukkan kasih yang agung, kasih yang ajaib. Mengapa aku sebut agung dan ajaib karena Tuhan Yesus memutuskan berkorban hingga mati menggantikan aku yang tidak baik alias penuh dosa, bukan aku yang baik dan benar. Alangkah lebih mudah mengasihi dan rela berkorban untuk orang yang dikenal baik dan benar. Aku bisa lebih tidak merasa rugi untuk melakukannya.


AGUNG DAN AJAIB
Kasih yang agung dan ajaib itu seharusnya sudah mempengaruhiku dan pada akhirnya membuat aku memutuskan meneladani peristiwa pembuktian kasih yang agung dan ajaib itu dalam kehidupanku sehari-hari bukan sekedar merayakan Natal itu dengan segala kemeriahannya di gereja dan segala tradisi yang mengikutinya seperti kumpul keluarga dan saling membagikan kado termasuk menyalakan kembang api.
Makna Natal itu seharusnya bukan seperti kembang api yang kegemparannya hanya sesaat di area yang tidak terlalu jauh. Kasih Natal adalah lebih tepat jika dianalogikan dengan penemuan bola lampu oleh Thomas Alfa Edison atau penemuan listrik oleh Ampere Michael Faraday (sumber: okezone). Bola lampu dan listrik pengaruhnya bukan hanya sesaat alias jangka pendek dan tidak berdampak luas. Sebaliknya, sampai sekarang bola lampu dan listrik terus digunakan karena bermanfaat positif, jangka panjang dan luas. Memang, pada akhirnya, yang menggunakan bola lampu dan listrik itu juga mempengaruhi untuk apa keduanya digunakan. Bisa juga untuk kepentingan negatif.

Namun, kasih yang terinspirasi oleh kasih Tuhan lewat peristiwa Natal kiranya aku bisa terus berjuang untuk bagikan setiap hari di manapun aku berada dan dengan siapapun aku berelasi, entah pada akhirnya kasih itu disalahgunakan atau disalah artikan. Tetapi dalam segala kesedaran bahwa pertanggungjawabanku pada Allah, aku tidak ingin menghilangkan kasihku kepada setiap orang dan aku berani menjamin bahwa aku berjuang agar kasihku tetap tulus sama seperti ketulusan, keagungan dan keajaiban kasih Allah yang mengasihiku orang yang penuh dosa. 

Comments