PEKA DONK!!!

Ceritanya aku dan beberapa teman gereja sedang menunggu di ruang yang akan digunakan untuk pertemuan kami selesai digunakan oleh pertemuan lain. Sambil menunggu mereka selesai, kami ngumpul ngobrol-ngobrol di luar ruangan sambil duduk-duduk. Mendekati waktu jam pertemuan dimulai, peserta pertemuan semakin banyak yang berdatangan. Walhasil, “bangku bakso” yang kami gunakan untuk duduk menunggu di luar ruang pertemuan tidak cukup untuk semua orang yang menunggu. Salah satu adik pemuda gereja menyeletuk kepadaku, “Kak G, berikan donk kursinya ke Tante ini…Peka donk!”… celetukan becanda sekaligus menyindir. Aku tidak tahu kalau tante tersebut datang karena aku sibuk ngobrol sehingga tante tersebut beberapa saat hanya bisa berdiri sambil menunggu. Setelah diberitahu oleh adik pemuda itu, aku akhirnya memberikan “bangku bakso” yang kupakai duduk untuk digunakan oleh tante tersebut.

Hidup itu penuh dengan interaksi dengan orang lain, dalam lingkup kecil atau luas. Dalam interaksi tersebut, relasi yang terbangun menjadi relasi yang saling mendukung satu sama lain ketika adanya kepekaan satu sama lain dengan kondisi satu sama lain sehingga bisa mendukung satu sama lain sesuai kapasitas masing-masing.

Masalahnya, tidak semua orang dalam sebuat lingkungan memiliki kepekaan yang sama atau dalam kata lain, tidak punya prinsip yang sama atau Bahasa lainnya tidak memiliki standar yang sama dalam relasi dengan orang lain.

Masalah ini akan menjadi konflik tergantung bagaimana satu sama lain bisa menyesuaikan diri dan akhirnya dalam kapasitas masing-masing bisa berdiskusi dan akhirnya memberikan masukan satu sama lain sehingga menyepakati bagaimana harus mendukung satu sama lain.

Menurutku, ada prinsip universal bagaimana mendukung satu sama lain di suatu lingkungan. Seperti yang terjadi padaku ketika menunggu dimulainya pertemuan di gereja yang kuceritakan di atas. Sudah seharusnya wanita diberi prioritas ketika ada keterbatasan dalam tempat duduk. Sama seperti ketika naik kereta atau angkutan umum. Wanita dan anak kecil perlu diprioritaskan untuk duduk daripada pria. Sudah seharusnya pria langsung menawarkan tempat duduknya jika melihat wanita atau anak kecil baru masuk ke ruangan atau angkutan umum tidak memiliki tempat duduk.Hal lain seperti misalnya ada orang yang sedang membawa barang dan terlihat kesulitan, kita yang bisa menolong seharusnya segera menolong. Jika ada orang baru di sebuah lingkungan, sudah sewajarnya orang lama memberikan pertolongan dengan menjelaskan hal-hal yang perlu diketahui orang baru tersebut.

Contoh terakhir yang sederhana tetapi sebenarnya penting adalah ketika berjalan kaki wanita dan anak kecil tidak boleh di sebelah kanan karena pria yang seharusnya melindungi mereka. Jadi pria di kanan, wanita dan anak kecil di sebelah kiri atau di sebelah dalam sehingga mengurangi resiko terkena misalnya kendaraan yang sedang lewat atau hal-hal lain.Masih banyak contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari yang bisa kita sebutkan dan tulisan ini tidak akan habis-habisnya.


Namun, yang menjadi tantangan bagi setiap lingkungan adalah seperti yang kusebutkan di bagian awal tulisanku ini, tidak setiap orang memiliki standar atau prinsip yang sama sehingga kepekaan masing-masingpun berbeda. Itulah pentingnya adanya komunikasi yang penuh kasih agar bisa memberi masukan yang pada akhirnya diterima sehingga standar setiap anggota lingkungan sama dan standar lingkungan tersebut sama dengan standar lingkungan universal. Hal ini mencegah adanya konflik jika anggota lingkungan yang satu berpindah ke lingkungan yang lain yang sudah menganut standar universal. Semoga kita bisa memeliki standar kepekaan universal dan terus sesuai kapasitas kita mempraktekkannya dan memberi contoh yang tulus dan konsisten sehingga orang lainpun terinspirasi dan mengikuti teladan kita. Amin.

Comments