STASIUN GONDANGDIA dan GRAND INDONESIA

Bulan Juni dan Juli 2017 aku lewati tanpa sempat menulis satu artikelpun walalu sebenarnya aku sudah punya ide untuk menulis. Sepanjang bulan Juli, fokus utamaku adalah “mengejar” dosen pembimbing (Dospem) tesisku agar aku bisa siding tesis sebelum semester berakhir di bulan Agustus.

Perjalanan “mengejar” dospem aku tingkatkan intensitasnya dari akhir Juni 2017 ketika dalam tanggung jawab besar dalam pekerjaanku sudah kuselesaikan dan masa bulan Juni dan Juli adalah “masa tenang” dalam pekerjaan karena saat itu sekolah sedang libur.
Tesisku terdiri dari enam (6) bab. Yang aku lakukan ketika “mengejar” dospem mulai akhir bulan Juni 2017 adalah bab 5 dan bab 6. Bab tersebut adalah hasil dari penelitianku berserta kesimpulan serta sarannya.

Biasanya memang aku pergi bimbingan dengan dospem di akhir pekan karena aku tidak mau pekerjaanku terbengkalai. Namun, menjelang akhir Juli, setelah bimbingan hari Sabtu, lalu aku juga datang ketemu dosen hari Minggu di Senayan City setelah di olahraga, aku Seninnya kembali ketemu dospem untuk menandatangani persetujuan sidang. Namun, setelah dia periksa ulang, ada bagian-bagian yang harus saya revisi sehingga Selasa paginya saya bertemu dengan dia di Kampus Meruya untuk bimbingan dan dilanjutkan kembali bimbingan lagi malamnya di Kampus Menteng. Jadi setelah selesai kerja, aku langsung pergi ke stasiun untuk naik kereta ke Kampus Menteng.
Baru kali itu aku pergi ke Kampus Menteng di hari kerja dan bertepatan dengan berakhirnya jam kerja kantor-kantor. Betapa banyaknya yang mengantri untuk naik kereta dan lebih banyak lagi yang sudah berada di gerbong kereta. Jika di akhir pekan aku masih bisa beberapa saat duduk di kursi, maka ketika hari kerja, aku sama sekali tidak bisa duduk. Berhimpitan adalah hal yang terjadi ketika naik kereta di hari kerja
.
GERBONG KERETA
Singkat cerita, setelah ketemu dospem pada jam 7 malam di Kampus Menteng, aku memutuskan untuk langsung pulang. Ternyata yang naik kereta masih sangat ramai. Aku tetap harus berhimpitan dengan penumpang lainnya di kereta.

Ada momen yang sangat membuatku prihatin ketika aku di dalam kereta dalam perjalanan pulang dari Kampus Menteng ke Tangerang. Gerbong kereta yang sudah sangat sesak masih saja terus ada orang-orang yang memaksa untuk masuk dengan mendorong badanku. Ada satu bapak yang sangat aku ingat, dia mendorong-mendorong terus tubuhku dan penumpang lain karena ingin masuk dari Stasiun Sudirman. Dia bahkan meminta aku untuk melepaskan tanganku dari pegangan tangan yang tersedia. Aku langsung menjawab bahwa saya tidak bisa lepaskan karena nanti jatuh. Dia akhirnya berhasil masuk dan penumpang di gerbong semakin padat. Saat kami berhenti di stasiun berikutnya, dan Bapak itu mau keluar, dia dengan tanpa malu-malu menggunakan tangannya untuk membuka jalan sehingga menganggu penumpang lain karena membuat kami terdorong. Dia tidak peduli. Yang terpenting dia bisa keluar bagaimanapun caranya.

BAZAR N*KE
Beberapa hari ketika aku melanjutkan menulis artikel ini setelah tertunda beberapa hari, ada berita heboh di Jakarta mengenai "kerusuhan" bazar sepatu olahraga karena diskon gila-gilaan. Bisa disebut rusuh karena bukan hanya ngantrinya yang panjang, tetapi bagaimana sikap orang-orang yang belanja sangat buat hingga kotak-kotak sepatu berantakan karena rebut-rebutan antar pembeli. Mereka fokus pada apa yang mereka inginkan hingga tidak peduli lagi dengan situasi dan orang lain.

DUA MOMEN EGOIS
Dua momen membuatku melihat betapa manusia bisa begitu egois ketika dia ingin agar tujuannya tercapai. Egois itu cenderung berkonotasi negatif karena cenderung tidak mementingkan orang lain atau lingkungan sekitarnya seperti Bapak tadi. Dari satu sisi memang kondisinya fasilitas belum mendukung begitu banyak orang yang menggunakan kereta. Tetapi, kondisi tersebut sudah seharusnya tidak membuat kita menjadi orang tidak peduli pada orang lain.

Stasiun kereta dekat kampusku bernama stasiun Gondangdia. Bazar Nike tersebut diadakan di Grand Indonesia Mall. Momen ketika aku pergi ke Kampus Menteng menggunakan kererta di hari kerja serta begitu buasnya orang-orang di Bazar N*ke mendorongku untuk tetap menjaga sikapku agar aku tidak egois walaupun kondisinya sangat mungkin bisa dijadikan pembenaran untuk egois dan orang lain banyak tidak peduli. Aku rindu tetap memandang Allah yang berada dalam situasi yang tidak idealpun Dia tetap tidak egois. Dia datang untuk melayani bukan untuk melayani. Dia mati untuk menebus dosa dengan mengorbankan nyawa-Nya. Aku memilih untuk tidak menggunakan kereta di jam sibuk kecuali benar-benar terpaksa untuk mengurangi jumlah penumpang Kereta sehingga tidak berdesakan. Aku memilih untuk tidak datang ke Bazar daripada ada banyak salah paham. Ketika aku menulis ini bukan untuk "sok-sokan" tetapi hanya ingin membagikan alternatif keputusan yang diambil yang mungkin tidak familiar ataupun bukan keputusan yang favorit bagi kebanyakan orang jaman sekarang.

Comments