TIDAK MENYENANGKAN ITU MENYENANGKAN

Ketika hari peringatan kenaikan Tuhan Yesus ke surga, aku pergi berangkat ke Yogya dalam rangka “retreat pribadi” dan sharing dengan adik-adik persekutuan mahasiswa tempat aku dulu bertumbuh ketika mahasiswa S1. Seingatku, aku sudah sekitar 5 tahun tidak ke Yogyakarta. Aku sempat sekitar tahun 2012 atau tahun 2013 ke Yogya bersama teman-teman gerejaku dan istriku. Ketika itu kami berangkat ke Yogyakarta naik kereta Ekonomi dari Stasiun Senen, Jakarta dan pulangnya naik kereta Bisnis dari Stasiun Tugu, Yogyakarta.

Ketika itu, total kami yang berangkat ke Yogyakarta sebanyak 6 orang. Kami duduk di tempat duduk yang berdekatan karena memang pesan bersamaan. Perjalanan selama naik kereta ekonomi ke Yogyakarta tidak terasa membosankan walau tetap capek karena ada teman-teman yang berangkat bareng. Selain itu, karena kami sesama teman duduk di area yang sama, maka kami bisa dengan mudah mengatur posisi duduk dan posisi ketika mau tidur.

Kondisi kali ini, di Mei 2017 berbeda. Aku berangkat sendirian kali ini. Aku pergi ke Stasiun Senin pun sendirian naik taksi online langgananku, aku juga tidak menginap di kontrakan teman yang jadi staf persekutuan mahasiswa karena memang aku mau retreat pribadi.

Sebelum lanjut, alasan aku retreat pribadi karena aku melewati banyak hal beberapa waktu ini yang secara otomatis menjadi bagian dari pikiranku dan aku sadari tidak mudah melewati hal-hal tersebut. Aku sangat sadar betapa banyak hal yang harus aku tingkatkan secara pribadi setelah melewati banyak hal tersebut. Secara pribadi, aku melihat aku butuh waktu istirahat sejenak agar aku bisa lebih bijaksana dalam mengelola pikiranku bersama Tuhan.

Tepat jam 21.45 Kereta Api Bogowonto berangkat ke Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta sesuai jadwal yang tertera di tiket kereta. Luar biasa. Tepat waktu. Perjalanan sendiriku dimulai. Ternyata, bayanganku naik kereta api ekonomi yang menyenangkan ketika bersama dengan teman-teman gerejaku sekirat 4-5 tahun lalu ternyata berubah menjadi sesuatu yang bisa dikatakan tidak menyenangkan kali ini. Kenapa?

TIDAK KENAL, PASTI SUNGKAN.
Layout tempat duduk kereta ekonomi diatur ada dua tempat duduk panjang saling berhadapan dengan setiap tempat duduk diatur untuk dua orang penumpang. Jadi ada empat orang dalam “satu grup” tempat duduk. Nah, salah satu hal yang tidak menyenangkan jika pergi sendiri dengan menggunakan kereta api adalah tidak mengetahui siapa yang akan duduk satu grup dengan kita. Kita tidak tahu karakternya serta latar belakangnya. Itulah yang aku alami saat ke Yogya sendirian. Ketika sudah diijinkan masuk ke gerbong kereta, aku lalu mencari nomor tempat dudukku dan ada satu penumpang yang sudah terlebih dahulu duduk  grup tempat dudukku. Aku akhirnya berkenalan singkat dan akhirnya duduk. Ngomong-ngomong,walau kereta ekohomi, ternyata disediakan fasilitas untuk isi daya baterai handphone. Jadi aku bersyukur tidak perlu menggunakan powerbankku.

Perkenalan singkat dilanjutkan dengan mengatur posisi duduk lalu akhirnya datang dua orang lagi penumpang yang duduk satu grup dengan kami. Tidak ada perkenalan tetapi menyapa ramah dengan senyum saja. Fakta yang ada adalah memang jika tidak kenal pasti sungkan dalam banyak hal.

Yang menjadi tidak menyenangkan adalah penumpang yang duduk lebih dahulu sebelum aku datang memiliki badan yang cukup besar. Ukuran badannya membuat ruang tempat duduk penumpang yang duduk di sampingnya cukup signifikan berkurang. Bersyukurnya, penumpang yang duduk di samping ukuran badanya cukup kecil sehingga tidak terganggu.


SELONJORAN
Masalahnya, aku duduk berhadapan dengannya. Otomotis, kakinya mengambil “jatah” yang banyak dan membuatku yang kakinya cukup panjang harus menyesuaikan diri dan pada akhirnya aku tidak “menselonjorkan” kakiku ke depan. Hampir sepanjang perjalanan aku harus menekuk kakiku, walau kadang dengan sedikit nekat masuk ke celah-celah kosong untuk sejenak lebih bisa meregangkan kakiku.

Hal ini ternyata berpengaruh pada kenikmatanku untuk tidur. Aku tidak bisa tidur nyenyak karena kakiku yang pegal selain juga punggungku. Aku sering terbangun untuk mengatur posisi kakiku selain juga berdiri sejenak untuk menghilangkan rasa pegal badanku.

Satu hal lagi adalah, di kereta ekonomi tidak disediakan bantal untuk tidur. Alhasil, aku harus menyewa bantal lagi walau memang harganya tidak terlalu mahal, yaitu Rp 7.000. Namun, dengan situasi aku tidak mengenal penumpang yang duduk di sampingku, kami tidak bisa saling bersandar untuk membuat tidur lebih nyaman. Akhirnya bantal kutaruh di samping untuk kemudian aku bersandar pada dinding kereta. Semua di atas adalah hal-hal yang tidak menyenangkan yang kualami selama aku dalam perjalanan ke Yogyakarta naik kereta.api ekonomi.

Namun, ketika kembali melihat pengalaman delapan jam di kereta tersebut, semua di atas sebenarnyan menyenangkan. Pertama, karena tidak bersama teman, aku “dipaksa” untuk kenalan sehingga aku bisa memiliki relasi yang nyaman selama perjalanan dan tidak harus terganggu dengan penumpang-penumpang di sampingku.

Hal lain adalah, aku menyadari bahwa pengalamanku yang pernah naik kereta, tidak menjamin aku pasti akan bisa menikmati pengalamana naik kereta di waktu selanjutnya, karena berbagai faktor seperti tidak adanya teman dan juga sudah melupakan rasanya naik kereta ekonomi sehingga aku tidak siap dengan situasi yang aku alami selama perjalanan,
Ini membuatku melihat bahwa aku tidak boleh sombong dan harus terus mempersiapkan segala sesuatu dengan lebih teliti dan menyeluruh bukan menganggap sepele hal yang sebelumnya pernah aku lakukan.

BONUS
Bonusnya adalah aku bisa berkenalan dengan supir taksi online yang ternyata dari Papua dan kami bisa nyaman berkomunikasi selama perjalananku dari rumah ke stasiun serta aku bisa ada kesempatan nanti dijemput dengannya ketika pulang dari Yogyakarta, lebih tepatnya dari Solo karena aku akan ke Solo tanpa harus beresiko mendapatkan supir taksi online yang belum tahu karakternya.


Pada akhirnya, kembali aku diajarkan untuk melihat hal-hal yang tidak menyenangkan yang aku alami dari sisi lain sehingga bisa lebih bersukacita karena melihat bahwa-bahwa hal-hal yang tidak menyenangkan itu ternyata menyenangkan.

Comments