BAPA SAYANG; SAYA TAKUT

Seperti bapa sayang  kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia-Daud

BAPA SAYANG
Sepenggal bait nyanyian  ini butuh perjuangan untuk benar-benar dipahami ketika kita tidak dekat dengan bapak kita secara biologis. Kebanyakan dari laki-laki, tidak dekat dengan bapak kita, termasuk saya. Saya lebih dekat dengan mama.

Subyektif (pengalaman pahit menutupi pengalaman indah)
Saya merasa papa saya tidak mengasihi saya apa adanya, karena pemikiran-pemikiran yang timbul dari pengalaman-pengalaman pahit yang lebih saya ingat daripada pengalaman-pengalaman indah bersama papa saya. Saya secara tidak sadar tidak obyektif dalam melihat papa saya. Saya seperti sangat mengabaikan perjuangan papa saya dalam mendukung saya terutama dalam pendidikan.

Begitu juga Tuhan. Yang kita sering lihat adalah memandang terlalu subyektif situasi yang kita alami atau harus miliki sekarang dengan secara tidak sadar melihat kita di posisi Tuhan, tahu segalanya dan benar segalanya.

Kita tidak boleh memiliki lagi pemikiran begitu membenci diri kita. Membenci dalam hal apa? Membenci dengan membandingkan diri dengan orang lain yang kita rasa memiliki begitu banyak kelebihan dibandingkan kita. Kita minder karena status keluarga, finansial, kampus ataupun hal lainnya. Kita menjadi tidak percaya diri  Selain itu, Kita melihat ada banyak sekali kelemahan-kelemahan kita yang bisa dianggap dosa dan masih menjadi kebiasaan-kebiasaan sehari-hari kita.

Prosesnya Juan
Dalam proses mengajarkan juan kebiasaan-kebiasan sehari-hari itu agar rutin dia lakukan, sangatlah tidak mudah. Kadang ada saat di mana saya jengkel dan geram melihat Juan yang sudah dibilan beberapa kali, ditunjukkan beberapa kali, tetap saja masih melakukan yang tidak sesuai dengan yang kami ajarkan. Apakah saya pernah berpikir untuk memberikan Juan kepada orang lain atau tidak mengakui Juan sebagai anak saya karena sikap-sikapnya yang sulit dan masih belum bisa secara konsisten melakukan kebiasaan-kebiasaan sehari-hari tersebut? SAMA SEKALI TIDAK PERNAH TERLINTAS DALAM PIKIRAN SAYA RENCANA ITU. SAMA SEKALI TIDAK. Begitu juga dengan Allah. Status kita tidak pernah hilang sebagai anak Allah ketika kita melakukan dosa dan masih banyak kelemahan-kelemahan kita yang masih kita gumulkan sampai hari ini.

SAYA TAKUT
Hal terakhir yang ingin saya bagikan adalah mengenai satu kata bagian terakhir sepenggal bait nyanyian ini yaitu  kata “takut” dalam kalimat “Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.

Takut akan Tuhan: bukan perasaan hormat yang sepele, bukan pula sebuah ketakutan. takut akan Tuhan berarti kita menghampiri Dia seperti seorang anak menghampiri Bapa (dengan keberanian dan tanpa rasa takut kepada-Nya) dan sebagai seorang yang menghadap Allah Yang Maha Tinggi (dengan rasa hormat terdalam). 


"Takut" sebenarnya lebih kepada "benar-benar hormat" akan Tuhan. Orang yang menghormati Tuhan, akan selalu dan berjuang untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki, selalu rindu utk memuaskan hati Dia yang dihormati. Anak yang demikian pasti akan disayang oleh Bapanya. Meskipun sebagai anak, pasti dia juga sering berbuat salah, tetapi karena Allah tahu hati anak yang selalu "hormat" kepada-Nya, maka Allah tidak akan berhenti mengasihi anak tersebut.

Allah menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang sungguh-sungguh takut akan Dia. Takut akan Allah merupakan ketakutan yang memulihkan, yang mendorong kita untuk berbalik dari kejahatan, memelihara semua ketetapan Allah, dan berusaha hidup dekat Tuhan dan kasih karunia-Nya

Juan yang butuh proses untuk bisa melakukan kebiasan-kebiasan yang kami ajarkan. Begitu juga kita. Kita tahu sendiri hati kita. Kita tahu kita kadang akhirnya menyerah karena sepertinya sulit untuk melakukan apa yang sesuai kehendak Tuhan. Jadi ketika kita jatuh, kita sudah tidak mau lagi bangkit. Padahal hati kita tahu bahwa kita ingin bangkit dan ingin menyenangkan hati Tuhan. Rasa hormat menghasilkan ketidaknyamanan untuk berbuat sesuatu yang kita sudah ketahui tidak disukai oleh Tuhan.

Jatuh itu mudah, bangkit itu susah. Jadi, berjuanglah agar tidak jatuh. Namun, jika akhirnya jatuh, berjuanglah untuk bangkit walau itu susah.

DP 100%
Bukti Allah mengasihi kita seperti bapa mengasihi anaknya terlihat jelas dengan Dia rela mengorbankan Anak-Nya yang tunggal untuk mati menggantikan kita sehingga kita bebas dari hukuman maut, jika menerima Anak-Nya sebagai juruselamat pribadi. Dengan begitu, DP 100% dibayar oleh Allah untuk mengembalikan relasi kita dengan-Nya, hingga kita saat ini terus berproses dibentuk oleh Dia menjadi serupa denganNya sampai Dia memanggil kita untuk bersekutu denganNYa selamanya.

Ingatlah, Allah mengasihi kita seperti Bapa mengasihi anaknya. Dia memahami kita adalah debu. Baik lanjutan dari bait nyanyian yang ktia bahas ini berkata “Sebab Dia sendiri tahu apa  kita  , Dia ingat, bahwa kita ini debu”

Dia memahami kita adalah penuh kelemahan dan butuh proses waktu yang berbeda – beda untuk dibentuk menjadi pribadi yang konsisten menunjukkan rasa hormat sebagai wujud kasih kita kepadaNya. Dia tidak pernah menolak kita.


Jangan minder dan jangan berhenti berjuang menjadi pribadi yang takut akan Tuhan

Comments