MENYALAHKAN ADAM

Baru saja aku membaca berita tentang seorang suami sekaligus ayah dari empat anak melakukan bunuh diri dan menyiarkan proses bunuh diri tersebut lewat video di facebook. Sebuah peristiwa yang menggemparkan, menyedihkan dan pastinya membuat orang yang mendengar berita ini bertanya-tanya, kenapa bisa sampai pria ini melakukan sesuatu yang mengerikan seperti itu, padahal sudah berusia 35 tahun. Sama seperti usiaku bulan September 2017. Sebuah usia yang jika secara umum bisa dikatakan sudah menjadi masa di mana pengalaman-pengalaman hidup cukup banyak sehingga bisa mengambil keputusan lebih bijaksana. Keputusan-keputusan yang diambil seharusnya sudah penuh pertimbangan masak-masak termasuk memikirkan konsekuensi dari keputusannya.

Masalah yang menjadi penyebab pria ini bunuh diri adalah kecemburuan pada istri yang dia tuduh selingkuh sehingga mereka terakhir sempat bertengkar yang berakhir dengan mendatangi pak RT agar menjadi penengah mereka. Hal yang bagi sebagian besar orang melihatnya sesuatu yang sepele dan seharusnya jika dia tidak bersalah, tentu dia tidak perlu menyiksa bahkan melakukan hal yang ekstrim seperti bunuh diri. Apakah dia tidak membayangkan bagaimana perasaan dan masa depan anak-anaknya?

Itu hanya satu cerita. Masih ingat cerita Bill Clinton, Presiden Amerika Serikat yang selingkuh dengan wanita rekan kerjanya, Monica Lewinsky? Tentu ada banyak lagi cerita-cerita heboh dari orang-orang terkenal yang sudah menjadi buah bibir karena kita tidak menyangka hal itu bisa terjadi. Pada akhirnya kita setuju usia tidak menentukan kedewasaan seseorang.

Mungkin sepertinya terlalu berlebihan jika membandingkan diriku dengan kejadian-kejadian orang terkenal. Tetapi sebenarnya mereka sama seperti aku, sama-sama manusia, hanya perbedaannya adalah hidup mereka lebih banyak dibicarakan atau diamati oleh orang banyak dibandingkan dengan diriku.

DIPERBOLEHKAN DAN DIBENARKAN?
Tidak diamati dan dibicarakan bahkan dianalisa lebih banyak orang tidak membuat aku menjadi lebih bisa (baca: diperbolehkan atau dibenarkan) melakukan hal-hal yang tidak benar. Aku sebagai seorang ayah, ketika pulang dari kantor, seharusnya menyediakan waktu dengan anakku dan istriku bukan dengan segala kesibukanku yang lain. Sama seperti yang aku pernah ceritakan di artikelku sebelumnya, terkadang segala sesuatu yang melelahkan di kantor membuatku merasa benar ketika aku menyediakan waktu untuk diriku sendiri. Menghibur dan mendinginkan pikiranku.Namun, tantangan egois itu sangat besar setiap hari dan aku jujur jatuh bangun dalam hal ini sampai hari ini. Bukan hanya soal waktu. Soal prioritas lain seperti aku yang kadang membeli baju bola yang menjadi favoritku walau secara finansial aku masih sangat berjuang tiap bulannya. Hal sederhana tetapi sebenarnya itu menujukkan bahwa akupun mengutamakan kepentingan diriku sendiri (baca: egois) daripada orang lain.

Bagaimana dalam kehidupan pekerjaan? Tantangan yang paling besar adalah bagaimana bisa tetap menjaga ketulusan dan kasih di tengah adanya kesempatan untuk mengutamakan ambisi serta adanya potensi tekanan yang besar. Bagaimana aku berhikmat dalam merespon atasan maupun rekan kerja termasuk dalam satu timku yang berbeda-beda karakter? Bagaimana aku bisa dalam kapasitas dan otoritasku, terus bergerak aktif (inisiatif) menciptakan lingkunan kerja yang semakin mendekati harapan yang ideal bukan fokus pada tanggung jawab sendiri? Bagaimana aku bisa terus mencari ide agar di tengah situasi yang secara logika sebenarnya memudahkan untuk pesimis dan menyerah?Selain itu, apakah aku mau tetap mendoakan orang-orang di luar keluargaku termasuk yang karakternya atau perbuatannya banyak tidak aku sukai?

EGOIS
Lalu hubungannya dengan pria yang bunuh diri atau perselingkuhan Bill Clinton? Kejahatan (baca: ketidak benaran) bukan hanya karena kesempatan tetapi juga keadaan. EGOIS. Segala pembenaran karena egois dengan mudah dikemukakan. Menurut kamus besar basaha Indonesia, pengertian egois adalah  orang yang selalu mementingkan diri sendiri (http://kbbi.web.id/).

Tantangan setiap hari karena keberdosaanku adalah mementingkan egoku (Egois) daripada mementingkan Tuhan dan sesamaku. Ini sangat tidak mudah. Dari hal-hal sepele seperti waktu yang tersedia setelah kerja hingga bagaimana pemanfaatan berkat-berkat yang Tuhan berikan padaku bukan hanya untuk kepentingan diriku sendiri (hobi, refreshing, mimpi) tetapi juga kepentingan orang lain, termasuk keluargaku.

Ketidakbenaran menjadi kebenaran karena pembenaran. Jangan-jangan ego(is) adalah tuhanku yang sesungguhnya? Tuhan yang sesungguhnya dan orang lain menjadi penting untuk memenuhi kepuasan egoku. Betapa berdosanya diriku tetapi aku mengakui bahwa ada masa-masa di mana aku berada dalam situasi tersebut.

YANG PALING MENGERIKAN
Yang paling mengerikan dari sikap egois, jika mendominasi pikiranku adalah bahwa aku tidak bisa jadi tahu dan mengerti segala konsekuensi negatif dari sikap egoisku, yang tentu saja bisa dirasakan bukan hanya oleh diriku tetapi juga orang lain, tetapi hal itu tidak bisa menghalangi aku melakukan perbuatan atas dasar egoisku tersebut. Pada akhirnya rasa penyesalan yang besar dirasakan tetapi belum tentu membuat benar-benar “kapok”  sehingga pada akhirnya kembali mengulangi kesalahan yang sama, yaitu melakukan hal-hal yang egois.

BELUM BERAKHIR
Ketika aku menulis artikel ini, aku sedang berjuang dan masih terus berjuan setiap hari untuk tidak menjadi egois. Aku tidak mau memanfaatkan Tuhan dan orang lain demi egoku dan aku tidak mau menyalahkan orang lain karena kondisiku saat ini. Aku bisa saja menyalahkan Adam, manusia pertama di bumi dengan mengatakan bahwa, dialah penyebab utama yang membuat keturunannya menjadi berdosa karena dosanya. Tetapi, apakah dengan menyalahkan orang lain akan menjadikan masalah selesai dengan baik dan benar? Sama sekali tidak. Menyalahkan orang lain hanyalah sekedar pembenaran lain dari ketidakbenaran egoisku yang tidak berani dipertanggungjawabkan.  Aku secara tidak sadar menjadikan diriku punya otoritas untuk tidak disalahkan akan ketidakbenaran yang kulakukan.

Setiap hari aku harus mengakui bahwa aku lemah dan butuh pertolongan Tuhan untuk tidak egois. Setiap hari aku terus berlutut meminta ampun dan mohon dibentuk menjadi pribadi yang tidak egois jika Tuhan masih berkenan aku tetap hidup di kemudian hari. Seberapa besar sikap egoisku dikikis tergantung pada keterbukaan hatiku mau dibentuk oleh Tuhan dan aku tidak tahu butuh berapa lama untuk mengikisnya. Ketika aku menulis ini, aku sangat menggumulkan hal ini dan aku tidak tahu, 1 tahun ke depan, jika aku masih diijinkan Tuhan hidup di dunia ini, aku kembali membaca artikel ini, dan aku membandingkan diriku saat itu dengan saat ini, apakah ada perubahan positif atau malah semakin negatif? Aku masih berjuang. 

Comments