PRESSURE?

Ketika aku menulis ini artikel ini, salah satu klub sepakbola favoritku, Liverpool baru saja mengalami kekalahan ketiga berturut-turut di kendang sendiri yang dua dari tiga kekalahan tersebut menutup peluang mendapatkan gelar juara di dua kompetisi sepakbola Inggris. Secara keseluruhan, sepanjang tahun baru ini, 2017, Liverpool mengalami penurunan performa yang signifikan dengan salah satu indikator paling terlihat adalah sampai aku menulis artikel ini di akhir Januari, Liverpool belum pernah menang sama sekali.

Ironisnya, klub-klub pesaing tidak mengalami hal yang sama dan mereka menikmati keuntungan yang banyak dengan performa buruk Liverpool di awal tahun ini. Padahal, sebelum situasi ini terjadi, ada banyak harapan dan keyakinan bahwa di musim ini Liverpool bisa bangkit dari keterpurukan yang telah lama terjadi. Ada rasa optimis yang sangat kuat hingga akhir tahun lalu bahwa pelatih Liverpool sekarang, Jurgen Klopp berada di jalur yang benar untuk menempatkan Liverpool sebagai salah satu klub yang disegani seperti masa lalu.  Jurgen Klopp sendiri adalah seorang pelatih yang terkenal dan sangat dihormati karena prestasinya di masa lalu sebelum menangani Liverpool, berhasil membuat klub yang ditanganinya menjadi klub besar yang meraih juara mengalahkan klub yang selama ini mendomuinasi.

Ketika tahun pertama melatih Liverpool, tangan dinginnya berhasil membawa perubahan cepat yang signifikan walau belum membuat Liverpool meraih juara. Ketika itu, Liverpool berhasil mencapai final dua kejuaraan lokal maupun regional. Sekarang adalah tahun kedua Klopp menangani Liverpool dan start awal musim keduanya berjalan dengan baik sebelum pergantian tahun.
Ketika yang lainnya berjalan sesuai harapan, kecuali pada klub sendiri, maka seorang pelatih tentu mendapatkan tekanan yang sangat besar dari berbagai pihak, terutama suporter yang tentu sangat haus dengan prestasi. Apalagi jika klub tersebut sudah lama terpuruk dan tidak meraih prestasi yang membanggakan.

LALU?
Apa yang dilakukan oleh pelatih secara umum? Apa yang dilakukan oleh pemilik klub? Bervariasi. Ada yang tidak sabar sehingga memecat pelatih. Ada yang mengundurkan diri. Ada yang membela diri dan menyalahkan pihak lain. Aku percaya pasti Klopp tetap bertahan sebagai pelatih Liverpool. Aku percaya pemilik klub serta suporter tetap mendukung Klopp walau tetap kritis memberi masukan berkaitan dengan performa klub karena tentu mereka tidak mau situasi yang tidak diinginkan tersebut terus-menerus berlangsung.

Klopp sendiri bagaimana reaksinya? Apakah dia frustasi? Pasti. Tetapi apa yang dilakukan di saat dia frustasi? Walau dia dipertahankan oleh pemilik klub sebagai pelatih, apakah reaksi dari Klopp dengan segala rentetan hasil buruk klub yang dilatihnya? Apakah dia akan marah-marah emosional dan mencari kambing hitam? Apakah dia akan melakukan hal-hal yang negatif lainnya? Aku percaya Klopp punya cara yang tepat sebagai bentuk reaksinya terhadap situasi pekerjaannya.

AKU?
Bagaimana dengan aku? Ketika aku menulis artikel ini, aku baru menyadari satu hal yang menjadi tantangan buatku sudah sejak lama. Aku mulai kembali mundur ke belakang, melihat situasi yang terjadi mulai dari aku SMA, ketika pertama kali jauh dari orang tua. Aku menjadi pribadi yang tertutup dan ingin dipandang orang sempurna sehingga tidak pernah membagikan masalah utamaku kepada orang lain. Kondisi bahwa aku tinggal di rumah yang tidak ada teman sebaya serta teman satu sekolah serta jarak yang jauh dari sekolah membuat aku kurang banyak bergaul. Tetapi tantangan utama adalah dari diriku sendiri yang cenderung pendiam dan lebih suka menyendiri.

Ketika SMA aku sebenarnya ikut bergabung dengan tim sepakbola yang hampir setiap hari latihan setelah pulang sekolah. Tentu ini membuat aku sebenarnya bisa punya waktu untuk ngobrol-ngobrol. Tetapi aku tidak pernah membicarakan tentang masalahku dan berusaha mencari pemecahan sendiri setiap masalahku. Aku sekedar curi-curi dengar dari orang sekitarku yang bisa menjadi referensiku menyelesaikan masalah. Aku ternyata cukup gengsi untuk meminta bantuan atau bertanya meminta saran mengenai masalahku. Aku ingin terus dilihat sempurna di mata orang lain. Aku yang adalah anak Pendeta dengan prestasi akademis yang cukup baik serta mampu menguasai banyak cabang olahraga, tidak mau dilihat lemah dan punya kekurangan. Aku takut orang akan berhenti mengasihiku atau dekat dengan aku karena mengetahui kelemahanku.

SETELAH ITU?
Tahun 2000 aku memulai kuliah di Yogyakarta. Di situlah pertama kali aku mengenal Playstation, Warnet dengan situs-situs dan film-film pornonya. Apakah hanya hal-hal tersebut yang aku kenal pertama kali di Yogyakarta? Tentu tidak. Dari sisi positif tentu lebih banyak hal yang kukenal dan rasakan pertama kali. Mengapa aku hanya menyebutkan tiga hal yang dianggap negatif saja karena ini berkaitan selalu dengan caraku merespon apa yang terjadi dalam hidupku selama kuliah hingga kerja saat ini.

Ketika kuliah, kehidupan semakin kompleks dengan berbagai tanggung jawab yang semakin bervariasi. Mulai dari tanggung jawab kuliah, tanggung jawab dalam pelayanan serta tanggung jawab sebagai seorang anak, terutama seorang anak sulung. Kebanyakan tanggung jawab tersebut bukan karena aku sendiri yang meminta untuk memikulnya, tetapi secara otomatis muncul karena peranku seperti yang aku sampaikan di atas. Sebagai mahasiswa, sebagai anggota organisasi mahasiswa dan juga sebagai anggota keluarga.

Tangung jawab mengejarkan tugas-tugas kuliah hampir sama dengan mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) ketika masa SD-SMA. Tangungg jawab itu memang ada yang sulit tetapi tidak membuat aku terlalu tertekan. Tanggung jawab yang lebih memberi tekanan padaku adalah ketika memasuki masa skripsi. Aku memilih bidang konsentrasi yang aku sendiri tidak terlalu menyukainya namun aku melihatnya lebih mudah untuk mendapatkan datanya sehingga bisa segera selesai, yaitu manajemen keuangan. Namun, yang terjadi adalah ada hambatan-hambatan yang membuat aku akhirnya tidak lulus 4 tahun namun lihat tahun.

Dari sisi tanggung jawab di organisasi mahasiswa, aku melihat bahwa semakin lama semakin ada semakin banyak tanggung jawab yang diberikan, baik itu sebagai dalam event-event yang diadakan setahun sekali, atau sebulan sekali, maupun tanggung jawab dalam struktur organisasi. Tanggung jawabnya semakin besar bukan sekedar mengurus hal-hal teknis, namun juga orang lain yang jumlahnya semakin besar.

CARANYA?
Ketika bekerja, sama seperti dalam organisasi mahasiswa, ada banyak tanggung jawab yang kudapatkan. Mulai dari ketika aku bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat di Yogyakarta sebagai staf pengembangan minat dan bakat mahasiswa, lalu selanjutnya kerja sebagai guru sementara di sebuah sekolah di Tangerang, kemudian bekerja di kantor pusat salah satu Bank Korea di Jakarta serta terakhir sekarang, ketika menulis artikel ini, aku bekerja sebagai staf non-guru di sekolah.

Masing-masing tanggung jawab di tempat yang berbeda memiliki ciri khas dan tantangan yang berbeda. Berbeda daerah juga berbeda tantangannya. Bukan hanya tantangan tanggung jawab dalam pekerjaan yang berbeda, tetapi tantangan lingkungan sekitar juga berbeda. Kompleksitas dan godaan di Jakarta berbeda dengan di Yogyakarta. Benar-benar menantang.

Nah, tantangan-tantangan tersebut tidak selalu aku respon dengan tepat alias dengan benar. Ada kalanya tantangannya membuatku sangat stres sehingga melakukan hal-hal yang tidak benar sebagai bentuk rasa frustasi. Cara-cara yang tidak benar tersebut membuat aku merugikan diriku sendiri dan orang lain. Termasuk tiga hal yang aku sebutkan di atas sebelumnya. Pelarian adalah hal yang paling sering aku lakukan. Padahal satu-satunya cara paling tepat untuk lari dari masalah secepatnya adalah dengan menyelesaikan masalah itu sendiri.

Aku baru menyadari bahwa selama ini aku lebih banyak merespon tantangan-tantangan dalam hidupku yang memberi tekanan-tekanan pada diriku dengan cara yang tidak benar sehingga memberi dampak yang tidak bagus pada diriku & orang lain, dalam jangka pendek maupun panjang. Aku cepat menyerah ketika ada tantangan yang tidak bisa segera aku selesaikan.

Selain itu, kepercayaan diriku selama masa kuliah hingga awal-awal bekerja di tempat yang baru dengan tanggung jawab barunya cukup rendah sehingga aku tidak bisa maksimal melakukan tanggung jawabku, mengeluarkan segala kemampuanku dan akibatnya ada hal-hal yang salah ketika aku mengambil keputusan.

Aku memiliki rasa bersalah yang tinggi ketika aku merasa aku telah melakukan hal-hal yang sebenarnya salah, dalam kaitannya dengan pekerjaan ataupun dalam relasi dengan orang lain. Rasa bersalah itu sangat tinggi dan kecenderunganku yang tidak mau share ke orang lain membuat pikiranku cenderung kacau sehingga aku mencari pelarian.

Satu hal lagi yang kerap menghantuiku adalah kekhawatiran yang berlebihan sehingga membuatku tertekan melebihi tekanan yang diberikan oleh tanggung jawab yang aku pikul. Aku menciptakan banyak kemungkinan-kemungkinan negatif karena aku takut salah. Aku berusaha mengontrol semuanya agar berjalan baik-baik saja, namun pada akhirnya yang sering terjadi adalah semua tidak berjalan baik-baik saja. Tetapi aku sadari bahwa dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, seharusnya aku bisa merespon lebih tenang dan beriman sehingga tidak menambah tekanan dan beban bagiku dan orang lain.

DAN AKHIRNYA?
Masa-masa paling berat dan parah sudah aku lewati lama dalam hal merespon masalah. Hanya saja, tantangan baru serta tanggung jawab baru selalu ada. Ketika bercengkerama dengan seorang teman yang sama-sama alumni satu persekutuan mahasiswa serta sama-sama sempat bekerja di LSM yang sama, aku dan dia bisa melihat bahwa situasi pekerjaan saat ini membutuhkan mental yang kuat dan kami bersyukur bisa sebelumnya dibentuk lewat pengalaman selama kami bekerja di LSM. Tetapi terus saja ada pelajaran-pelajaran baru yang kami dapat sampai saat ini. Dia mengatakan, bahwa tidak pernah berhenti tantangan-tantangan yang baru dengan pelajaran-pelajaran baru juga. Dia mengutip judul bukuku, SEUMUR HIDUP AKU SEKOLAH.

Termasuk saat ini dalam pekerjaanku. Ketika ada pengumuman tanggung jawab baru, yang terlintas dalam pikiranku adalah, apakah aku mampu? Dan tantangan paling besar adalah aku sudah semakin mengetahui seluk beluk tempatku bekerja. Segala sesuatu yang ideal belum ada sehingga ketika makin masuk pada situasi yang tidak ideal, aku harus tetap menjaga agar prinsip idealku tidak berubah, cukup sesuaikan sikapku sehingga aku bisa menjadi jembatan bagi segala bagian atau pribadi yang menjadi stockholder dan akhirnya menciptakan perubahan yang positif. Ini hal yang tidak mudah. Tapi bersyukur aku belajar dari pengalaman-pengalaman pahit di masa lalu dan aku dengan segala kesadaran akan keterbatasanku memberanikan untuk memohon dukungan dari orang-orang dekatku, mulai dari teman-teman satu divisi, orang tua dan tentunya istriku tercinta. Aku memberanikan mengakui keterbatasanku dan secara bertahap belajar dan menyesuaikan diri dengan segala perubahan yang ada.

HUBUNGANNYA?
Ketika aku menulis ini, adalah masa awal aku memikul tanggung jawab yang baru. Aku berharap tulisan ini bisa aku baca lagi kelak dan aku bisa melihat bagaimana perjalanan tanggung jawabku aku lewat dengan terus berjuang beriman. Ketika masa menulis artikel ini, aku saat teduh dan ada satu ayat yang sangat memberkatiku dan menguatkanku, "I will instruct you and teach you in the way you should go; I will counsel you with my loving eye on you." (Psalm 32:8).  Always in His care. Aku diajak terus beriman bahwa Allah menyertaiku. Jadi, apakah pressure (tekanan) menjadi hal yang tabu? Tidak, tetapi aku berjuang untuk merespon tekanan dengan sikap yang benar di mata Allah.


Aku ingin ketika waktu telah lewat,  bisa bersyukur karena mendapatkan banyak dukungan secara langsung maupun tidak langsung. Bahkan siapapun yang membaca artikel ini, aku berharap bisa meluangkan waktu untuk mendukungku lewat doa sejenak. Terima kasih sebelumnya.

Comments