UANG Rp 1 JUTA TIDAK AKAN DISEBUT Rp JUTA JIKA KURANG RP 5.000

Suatu siang di kantor, seingatku ketika hendak beli gorengan, kami membahas tentang patungan masing-masing berapa. Ada yang menyeletuk, “aku Rp. 5000 aja”. Sedangkan yang lain nominalnya lebih dari di atas Rp 10.000. Aku tidak terlalu persis ingat peristiwanya. Yang paling kuingat adalah celetukan seorang teman menanggapi teman yang mengatakan hanya patungan Rp 5.000 aja dengan berkata “Uang Rp 1 Juta tidak akan disebut Rp Juta jika kurang Rp 5.000”

Sebuah kalimat sederhana tetapi sebenarnya maknanya dalam. Dunia yang makin glamor memang lebih mengagungkan hal-hal yang besar, termasuk kekayaan, prestasi hingga properti yang besar serta menjadi orang terkenal. Semuanya itu sadar tidak sadar menjadi tujuan utama dari kebanyakan orang jaman ini kalau tidak mau dikatakan sejak jaman Adam dan Hawa jatuh dalam dosa (Kain dan Habil – kecemburuan penerimaan korban bakaran).

Hal-hal tersebut secara otomatis membuat kalau bisa dikatakan lebih halus, menggoda kita untuk tidak menghargai hal-hal sederhana kalau tidak mau dikatakan kecil atau yang dianggap sepele namun sebenarnya sangat penting dan berpengaruh besar bagi hidup kita.  Uang Rp 5.000 terlihat kecil dibandingkan Rp 1 juta tetapi Rp 1 Juta tidak akan disebut Rp 1 juta jika kurang Rp 5.000. Uang Rp 5.000 tidak bisa disepelekan dengan menggunakannya untuk hal-hal yang merugikan diri sendiri atau orang lain.
Hasil gambar untuk uang Rp 5000
Dalam situasi yang berbeda dengan konteks yang sama, mengucapkan rasa syukur menjadi hal sederhana yang dilupakan karena banyak sekali tekanan hidup termasuk tuntutan maupun ambisi yang menjadi prioritas hidup. Padahal bersyukur adalah terapi untuk mengurangi keluhan hidup dan mencegah kesombongan. Termasuk bersyukur dengan apa yang sekarang sudah dimiliki bukan merasa selalu kurang.


Selain itu, dalam dunia kerja, bisa jadi karena kita sudah memiliki tanggung jawab yang besar atau dihargai karena memiliki kemampuan dan pengetahuan di bidang kerja kita sesuai kebutuhan perusahaan, tidak berarti kita berhak merendahkan rekan-rekan kerja lain yang tidak mendapatkan kepercayaan yang sama, atau bahkan merendahkan rekan-rekan cleaning service atau juga satuan keamanan sekolah. Tanpa mereka, alias tanpa orang lain, maka tidak mungkin kita bisa melakukan tanggung jawab kita dengan baik dan maksimal.

Singatnya, menghargai setiap hal atau pribadi yang hadir dalam hidup kita bukan dilihat dari standarnya dunia saat ini tetapi dari bagaimana Allah memandangnya yang bisa kita pahami lewat memahami firmanNya.

Catatan: Judul dikutip dari perkataan rekan kerja "Tante" Nita :)

Comments