SURAT SEORANG TEMAN BARU (IDR)

Dear YAP,

Sudah sekitar 2 bulan kamu menjadi bagian dari tempat kerja kita sekarang, bagian QAE. Sebuah masa yang memang benar-benar masih sangat singkat tetapi bisa memberikan kepadaku dan kamu pencerahan dalam banyak hal terutama mengenai diri kita masing-masing walau tentu belum bisa dikatakan cukup banyak.

IDR bukan symbol mata uang Indonesia, tetapi singkatan dari 3 hal yang menjadi fokus tulisanku ini. Dengan segala hormat, sebagai seorang teman serta rekan kerja serta juga yang terlebih dahulu mengecap pahit asem asinnya pengalaman kerja, aku ingin membagikan beberapa hal yang mungkin bisa memberikan sedikit kesan dan pesanku selama 2 bulan bekerja bersamamu.


I = Informasi

Dalam dunia kerja, informasi adalah seperti emas berlian permata (ikut komentator AFF Cup Final :D). Orang yang memiliki informasi dapat memberi pengaruh besar pada orang di sekitarnya. Ketika orang yang memiliki informasi tersebut bisa mengkomunikasikannya dengan tepat, maka informasi tersebut bisa berpengaruh besar dan memberikan kesempatan untuk bisa memberi dampak dalam jangka panjang. Tantangannya adalah, informasi dapat berdampak positif atau negatif bergantung bagaimana mengkomunikasikannya dan apakah kita juga mau mengkomunikasikannya. Tentu informasi ini dalam konteks positif, yaitu pekerjaan bukan gosip.

Dalam hal ini, aku mengajak kamu untuk terus bisa aktif memberikan informasi dengan cara yang tepat sehingga tidak ada salah paham. Komunikasi  yang tepat akan memberikan kemungkinan yang semakin kecil untuk terjadi salah paham. komunikasi yang tepat secara umum adalah keberanian untuk berkomunikasi tanpa perantara dan teknisnya selalu menatap mata orang yang kita ajak komunikasi untuk memberi informasi.

Aku orangnya hampir mirip dengan kamu. Sendiri adalah “surga” bagiku. Aku tidak mempermasalahkan berapa banyak orang yang suka gayaku atau yang memperhatikanku. Jika aku punya waktu dan tempat untuk mengerjakan semuanya sendiri dan aku bisa melakukannya, maka itu sudah cukup bagiku. Aku menikmati duniaku. Itu aku.

Dalam dunia pekerjaan, sendiri itu,  bukan berani tetapi bunuh diri. Perkataanku ini dalam konteks bukan kita tidak bisa mengerjakan tanggung jawab kita secara mandiri, sendiri tanpa didampingi oleh atasan, tetapi sendiri itu ketika kita melakukan tanggung jawab kita tanpa informasi dari orang lain. Kita pasif menunggu informasi bukan sebaliknya. Ketika kita kurang informasi atau diminta mencari informasi, ada baiknya kita bergerak untuk mencari informasi tersebut tanpa menunggu harus digerakkan lagi berulang-ulang  oleh orang lain atau bahkan ketika sudah mepet dengan deadline.

Sebaliknya, ketika kita memiliki informasi, maka ketika kita membagikannya sebelum diminta oleh orang lain untuk membagikannya, orang semakin respek dengan kita. Kata yang tepat yang mungkin kamu sudah sering dengar yang mewakili hal ini ada INISIATIF. Semakin cepat kita memberikan informasi, semakin cepat pengaruhnya pada diri kita dan orang lain.

D = Dedikasi

Jam kerja kita sudah tertulis di perjanjian kerja kita. Begitu juga jam istirahat kita. Apa yang kita kerjakan setiap bulannya lewat salary yang kita dapatkan. Secara profesionalisme dan juga etika, kita melakukan tanggung jawab kita tidak hanya ketika sesama rekan kerja atau atasan berada di dekat kita, tetapi juga ketika kita sendirian atau tidak diawasi secara intensif. Hal in menjadikan kita bisa melakukan banyak hal jauh melebihi yang menjadi tanggung jawab kita, alias kita bisa mengekplorasi banyak hal alias belajar banyak hal selain juga kita bisa melakukan tanggung jawab kita dengan cara ataupun hasil yang jauh lebih baik  dari standar cara atau hasil yang selama ini diharapkan dari kita.

Jadi, aku mendorongmu untuk mengisi waktu-waktu luang di antara tanggung jawabmu bukan dengan fokus pada handphone saja, tetapi juga mencoba hal-hal lain yang berkaitan dengan tanggung jawab kamu secara langsung ataupun tidak, apalagi kamu benar-benar baru mengecam dunia kerja serta bidang QAE. Jadilah KEPO dalam konteks positif. Putuskan urat malu dan seganmu.
Melihat handphone itu tidak salah dan kamu sudah lihat sendiri mayoritas kita menjadikan handphone sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam keseharian kita. Hanya saja, alangkah lebih baik waktu yang digunakan untuk melihat handphone karena media sosial atau game atau chat bisa dikurangi porsinya secara bertahap untuk digunakan  mengembangkan diri berkaitan dengan tanggung jawab dan juga membunuh bosan dengan tidak sekedar duduk hampir sepanjang jam kerjamu, tetapi bergerak dan berkomunikasi, bereksplorasi, berinteraksi dengan rekan-rekan kerja lainnya.

R = relasi

Bagian terakhir ini adalah bagian yang paling penting menurutku, bukan hanya dalam dunia kerja tetapi di dalam segala bagian hidup kita. Pada akhirnya, informasi dan dedikasi yang sudah aku Bahasa di atas menjadi lebih efektif ketika adanya relasi yang baik.

Dalam hal ini, aku mendorongmu untuk keluar dari zona nyamanmu saat ini dengan kecenderunganmu yang lebih banyak berdiam diri. Cobalah untuk memulai pembicaraan, bukan sekedar merespon apa yang mereka bicarakan. Soal bagaimana respon mereka setelah kita memulai pembicaraan itu tidak usah dipikirkan. Paling tidak kita bisa memulai membangun relasi. Mungkin saja keakraban tidak secara otomatis langsung tercipta, tetapi mustahil tercipta jika tidak dimulai.
Aku sadar bahwa lingkungan tempat kerja kita mungkin jauh berbeda dengan lingkunganmu sebelumnya. Tetapi, tanpa ada kenekatanmu untuk keluar dari zona nyamanmu, maka tidak akan terbangun relasi yang baik. Tanpa ada relasi yang baik, mustahil bisa dengna lancar dan sukses melakukan tanggung jawab.  Relasi yang nyaman membuat orang lebih terbuka hatinya untuk bekerjasama bahkan menolong lebih dari yang menjadi bagiannya. Sebaliknya, relasi yang kaku membuat banyak salah paham.

Aku sadar bahwa memang butuh proses untuk masuk dalam lingkungan baru, sama seperti kamu ketika kuliah di daerah lain. Ada banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Dan itu wajar. Perlu perjuangan dari diri sendiri untuk menyesuaikan dengan cara kerja serta karakter lingkungan baru, bukan menuntut lingkungan menerima kita dengan karakter kita.

Aku orangnya sangat pendiam dan susah cari bahan pembicaraan. Aku juga lebih suka di kamar sendiri daripada jalan-jalan. Aku tidak suka bertemu orang. Aku lebih suka berinteraksi lewat tulisan daripada bertatap muka dan ngobrol panjang lebar. Itulah kecenderungan asliku. Semuanya itu memang membuat nyaman tetapi bukan berarti dalam seluruh waktu dan di manapun aku boleh mementingkan ego nyamanku itu dan akhirnya meminta orang lain mengerti dan menerima aku apa adanya. Ada yang lebih penting dari zona nyamanku, yaitu zona kenyamanan lingkungan di mana aku banyak menghabiskan waktu.
Hasil gambar untuk teman baru
Kiranya tulisanku ini bukan dianggap sebagai sebuah masalah atau beban tetapi tantangan serta dorongan untuk kamu semakin bisa menyesuaikan diri dengan dunia pekerjaan terutama di dunia pendidikan tempatmu bekerja sekarang. Ke depannya, harapanku kamu semakin tidak bergantung pada para senior tetapi semakin bisa mandiri menikmati setiap tanggung jawabmu.

Berani untuk nekat keluar dari zona nyaman dan amanmu akan memberi dampak positif saat ini dan masa depan. Dua hal yang tidak boleh dilupakan adalah Allah dan rekan-rekan yang lain terus mendukung sesuai kapasitas kami masing-masing. Tetap semangat untuk berkembang menjadi lebih baik.

Salam hangat,
Godlif

21 Des 2016

Comments