OFFCIALLY 34 YEARS OLD

“orang yang selalu menyalahkan keadaan tidak akan pernah melihat bahwa Allah bekerja dalam segala keadaan" – Benny Solihin

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru saja mencapai usia 33 tahun di 7 September 2015, namun sekarang sudah berubah lagi angka usiaku menjadi 34 tahun. Apakah hidup itu menjadi seperti biasa saja dan hambar karena terasa cepat berlalu? Menurutku tidak

Setelah melewati bulan September 2015, aku mengalami beberapa momen yang bagiku menjadi hal yang tidak kusangka tetapi juga menjadi suatu ucapan syukur.Kalau rutin mengujungi blogku, www.godlif.net. Ada beberapa tulisan sepanjang September 2015 hingga menjelang September 2016 yang berisi pengalaman-pengalaman hidupku yang seru. Namun, bagiku, sepanjang tahun kemarin pengalaman-pengalaman terbesar hidupku tidak beranjak dari divisi tempatku bekerja, yaitu Quality Assurance & Examination serta keluargaku, terutama Juan yang semakin beranjak dewasa secara fisik dan kecerdasan. Ada beberapa artikel berkaitan dengan divisiku yang telah kutulis, yaitu KEGADUHAN HIDUP yang kutulis di Desember 2015 serta PAHLAWAN TANPA MINTA TANDA JASA, kutulis di bulan Mei 2016. Aku tidak akan membahas ulang tulisanku, namun aku ingin sharing masih berkaitan dengan divisiku.

LEVEL UP
Seperti yang kujelaskan di tulisanku berjudul KEGADUHAN HIDUP, di tahun ajaran 2015-2016 lalu, tepatnya setelah Ujian Tengah Semester SMP dan SMA berlalu, kira-kira bulan November, aku diberikan tanggung jawab yang berbeda. Lebih tepatnya ditukar dengan teman kerjaku lainnya. Sebagai sedikit info, aku lupa, mungkin sejak sebelum tahun ajaran baru, divisiku hanya terdiri dari dua orang staf tanpa ada atasan, sehingga kami langsung berkoordinasi dengan Wakil Kepala Sekolah Operasional sebagai “atasan sementara” kami. Ketika mendapatkan tanggung jawab baru tersebut, aku benar-benar merasa sebuah batu besar harus aku pikul mulai dari Desember, Ujian Semester 1, lalu lanjut Februari, Ujian Semester 2 kelas 12 lanjut hingga Mei, berturut-turu Ujian Praktikal Mata Pelajaran Sains kelas 9-11, Ujian Semester 2 kelas 7, 8,10 dan 11 serta Ujian Semester 2 Kelas 9. Dan semua berjalan dengan lancarr tanpa ada hal-hal negatif yang signifikan yang mengganggu segala ujian tersebut. PUJI TUHAN!. Bila kurenungkan kembali pengalaman tahun ajaran lalu sejak tanggung jawab baru itu ada di pundakku, aku sadar bahwa yang memegang “batu besar” itu adalah Tuhan. Aku tidak akan sanggup. Sehingga aku hanya bisa bersyukur dan mengembalikan semuanya hanya untuk kemuliaannya. Aku merasa aku seperti Musa, di Keluaran 3: 1-12; 4: 10-17, yang sebenarnya mengatakan aku tidak sanggup, tetapi di ayat 12 pasal 3, dalam Alkitab Bahasa Inggris, TUHAN mengakatan :”I’ll be with you”. Aku bersama dengan engkau, Musa. Aku bersama dengan engkau, Godlif. Dan itu terbukti. Itu adalah pengalaman imanku,  Aku merasa bahwa aku tidak dibiarkan berada dalam “zona nyamanku” karena Dia ingin aku LEVEL UP, lebih lagi “naik kelas” dan aku percaya itu menjadi bekal bagi masa depanku untuk tetap memuliakanNya.

MARIA ITA
November 2015, divisiku tiba-tiba kedatangan seorang rekan kerja baru, yang kami berdua, aku dan Ewin, rekan kerjaku tidak tahu sama sekali proses perekrutannya. Kami baru diberitahu beberapa hari sebelum dia masuk karena diminta untuk mengatur meja bagi rekan kerja baru kami. Namanya Maria Immaculata Sri Listari. Biasa dipanggil Ita. Namun, para pejabat teras dari Filipina, biasa memanggil dia Maria. Jadilah, “signature” di setiap dia kirim email, dia menuliskan nama Maria Ita.

Ternyata dia adalah “calon kakak ipar” Mas Gugun, seorang kakak rohani yang sejak aku kuliah cukup dekat serta dialah yang memperkenalkan aku kepada tempat kerjaku sekarang. Dan hal yang luar biasa lagi dia ternyata lama kerja sebagai guru di Lahat, yang notabene adalah daerah yang satu propinsi dengan Tanjung Enim dan Palembang, tempat aku lahir dan besar hingga SMA. Aku sering ke Lahat ketima masih kecil, menemani papaku pelayanan. Jadilah “reuni” Bahasa Sumatera Selatan.
Bersyukur sekali akhirnya kami kedatangan tambahan “amunisi” di divisi kami. Tanggung jawab yang cukup banyak sehingga ada beberapa yang tidak menjadi prioritas utama kami selama ini akhirnya bisa lebih “diperhatikan” karena kedatangan Ita.

Aku sangat bersyukur sekali karena dia dengan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan kerjaku sehingga dia dengan cepat dekat dengan teman-teman dari divis lain yang satu ruangan serta bisa semakin berinteraksi nyaman dengan departemen-departemen lain di sekolah kami. Dia wanita yang bertanggung jawab sehingga bagian yang diberikan kepadanya dia kerjakan dengan maksimal termasuk beriniasitf belajar serta bertanya dengan orang lain. Latar belakangnya yang telah lama berkecimpung di dunia pendidikan, walau beda bagian, secara tidak langsung membuat dia bisa memberikan banyak pencerahan-pencerahan bagiku secara pribadi. Ditambah lagi dia adalah penulis novel. Tutur katanya serta bagaimana dia berinteraksi terlihat memang gaya seorang penulis novel menurutku. Serius tapi santai serta entah disadari oleh orang di sekitarnya, dia selalu memperhatikan, bahkan hal-hal yang detail sekalipun yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain. Ita adalah wanita yang sangat mandiri dan punya prinsip yang kuat sehingga entah disadari olehnya atau tidak, dia memberikan satu dimensi positif bagi divisiku secara khusus serta teman-teman lain. Tidak cepat menerima segala hal yang telah biasa dilakukan, tetapi juga tetap berjuang “melebarkan hati” untuk memahami situasi yang bisa jadi tidak sesuai dengan hati nuraninya yang terdalam.

EWIN
Tahun 2015 awal, aku masuk ke divisiku sekarang, divisi QAE, Quality Assurance & Examination. Empat tanggung jawab besar kami adalah mengurus produksi soal-soal Ujian (Exam), mulai menjadi partner divisi-divisi lain dalam merapikan prosedur-prosedur tiap divisi, mengurus latihan Keadaan Darurat termasuk segala dokumen daftar murid dan guru tiap ruangan untuk situasi tersebut serta terakhir mengurus survei-survei mengenai sekolah, termasuk guru, manajemen serta staf non-guru.

Sebeum aku bergabung, Ewin, sudah terlebih dahulu bergabung sekitar satu tahun sebelumnya. Awalnya divisi QAE hanya terdiri dari satu orang, Ratna dan awalnya hanya mengurus mengenai QA, bukan Exam. Tetapi kebijakan baru dari manajemen membuat perubahan sehingga Ratna membutuhkan rekan kerja. Karena Ewin, sejak dari awal dia masuk ke sekolah kami, tahun 2011 sudah berkecimpung dengan exam, maka dia dipindahkan ke divisi ini. Hanya saja, berjalannya waktu, sangat terasa bahwa Ewin sendiri tidak mungkin bisa bekerja maksimal.

Aku sudah kenal Ewin sejak aku bergabung di tempat kerjaku tahun 2012. Kami memang barukali ini satu divisi, tetapi aku sejak awal sudah biasa membantu divisi Ewin ketika mengurus exam. Aku bisa melihat bagaimana tidak mudahnya perjuangan Ewin dan rekan-rekan kerja satu divisinya yang lain ketika mendekati exam. Lembur adalah hal yang wajar. Ketelitian serta efektivias bekerja sangat dituntut dalam bagian ini.

Ewin adalah pribadi yang sangat cerdas. Banyak sekali pemikirannya yang inovatif serta out of the box yang tidak pernah terpikirkan olehku. Dia sendiri terus merindukan adanya perbaikan yang berkesinambungan di sekolah kami, terutama dalam hal-hal yang mendasar termasuk yang menjadi tugas kami, yaitu menjadi partner divisi lain dalam merapikan prosedur. Selain tentu dalam hal exam.
Ewin juga adalah pribadi yang memiliki karakter yang sama dengan Ita. Keras namun punya hati yang terbuka untuk menolong orang lain, walau beda prinsip dengan dia. Dia pribadi yang mungkin cenderung tidak secara langsung menyampaikan pendapatnya kepada orang-orang yang ‘tidak terlalu dekat” dengan dia. Namun, hatinya sangat tulus untuk sekolahku. Aku bisa mengatakan Ewin sebenarnya adalah otaknya QAE.

Hanya saja, di bulan September 2016, tepatnya tanggal 5, dia harus berpindah tugas ke divisi lain yang masih satu perusahaan tetapi di daerah Jakarta. Sekolah kami di Tangerang. Tentu kami tidak lagi bisa sering bertemu dan secara resmi dia tidak lagi menjadi rekan kerja di divisi QAE. Sebuah kehilangan besar bagiku, bagi divisi QAE, bagi departemen General Operations sekolahku serta sekolahku tentunya. Ewin juga pribadi yang humoris sekaligus jahil tentu dirindukan teman-teman satu ruangan.

PENGUTUSAN & PENYESUAIAN
Hari terakhir Ewin di sekolahku, Kamis, 1 September, kami mau membuat acara kejutan buat dia. Sejak hari Selasa aku membuat grup Whatsapp dengan mengundang beberapa teman perwakilan divisi-divisi di AcOp untuk merencanakan acara tersebut. Semua berjalan lancar karena teman-teman sangat antusias, berinisiatif serta bertanggung jawab. Hanya saja, di menit-menit terakhir kejutan kami gagal karena ada salah satu rekan kerja mem-forward invitation email acara ini ke Ewin. Dia pikir Ewin juga sudah mendapat email tersebut. Haaa…. Nama grup acara ini kuberi nama Pengutusan Ewin karena aku melihat bahwa ini bukan waktunya berpisah tanpa pernah bertemu kembali. Ewin yang penuh dengan pengalaman serta pengetahuan tingkat tingginya, bisa memberi dampak positif di divisi lain dan siapa yang tahu dia menjadi Best Employee dari grup perusahaan kami. Amin.

Pengalaman-pengalaman di divisiku di sepanjang periode waktu 7 September 2015 hingga 7 September 2016 yang kuceritakan di atas benang merahnya adalah “selalu ada perubahan yang berarti selalu ada penyesuaian”. Kondisi yang sudah berjalan biasa dan normal, bisa jadi entah itu direncanakan atau tidak, diprediksi atau tidak, dipikirkan sebelumnya ketika mengambil suatu keputusan di masa lalu atau tidak, selalu kapan saja berubah dan selalu membutuhkan penyesuaian.Orang baru akan datang dan pasti aku perlu waktu untuk beradaptasi dengannya selain juga secara otomatis karena aku yang paling lama di divisi ini sekrang, aku harus mendukung dia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja di divisi QAE khususnya serta sekolahku umumnya.

Aku dalamlegowo menerima perubahan itu serta lebih legowo menyesuaikan diri dengna situasi yang terjadi karena perubahan bukan berfokus pada mengeluh dan mengeluh. Orang yang selalu menyalahkan keadaan tidak akan pernah melihat bahwa Allah bekerja dalam segala keadaan (Benny Solihin)
kondisi perubahan-perubahan dalam lingkungan kerjaku, di usia yang juga berubah ini, ditantang Allah untuk bisa lebih

Di usiaku yang berubah ini, aku mengajukan satu pokok doa utama yaitu agar Tuhan memampukan aku bisa menyesuaikan diri perubahan-perubahan yang Dia ijinkan aku alami dalam hidupku dalam konteks aku sebagai pribadi, aku sebagai bagian dari keluarga, aku sebagai bagian dari lingkungan kerja, aku sebagai bagian dari gereja dan aku sebagai bagian dari sebuah negara.


Terima kasih Tuhan untuk setiap pengalaman-pengalaman selama satu tahun ini, terutama dalam divisi tempatku bekerja yang memberikanku satu pelajaran penting yang sangat berharga.

Comments