AKU TIDAK MENGENALNYA 100%

Hari Minggu malam, tiba-tiba seorang teman kantor chat lewat BBM (Blackberry Messenger) setelah aku update status. Pesan yang disampaikan lewat BBM tersebut tidak berhubungan dengan update statusku, namun berkaitan dengan pekerjaan.

Dia memang beda divisi dengan aku. Namun, apa yang dia tanyakan berkaitan dengan bagian yang dulu aku pernah pegang. Alasan mengapa dia akhirnya menghubungi aku karena dia sudah berusaha menghubungi Penannggung Jawab tugas yang dulu pernah aku pegang tetapi tidak ada respon sampai saat dia menghubungi aku.

Mengapa dia menghubungiku ketika hari libur karena dia menerima permintaan dari orangtua murid baru untuk membantu dia mendaftarkan anaknya di aktivitas ekstrakulikuler yang deadline-nya malam itu. Orangtua tersebut terus menerus menghubungi temenku ini karena dia khawatir anaknya tidak bisa ikut ekskul yang pendaftarannya hanya di awal tahun ajaran aja. Secara psikologi temenku tersebut terganggu dan tertekan karena secara otomatis harus memberikan informasi segera mengingat batas waktu yang sudah mepet.

Selain memberikan informasi mengenai cara yang aku tahu berkaitan dengan pekerjaannya, aku juga berikan nomor Whatsapp (WA) teman kerja lain yang punya kapasitas untuk membantu dia. Namun, ternyata temenku ini juga tidak merespon ketika dihubungi. Bersyukur, tidak lama kemudian, temenku memberitahu bahwa dia sudah berhasil menghubungi  temenku yang menjadi penanggung jawab aktivitas tersebut. Akhirnya masalahnya diselesaikan dan dia berterima kasih padaku.

Aku membalas ucapan terima kasihnya dengan sedikit encouragement menggunakan kata “semangat.. kehidupan”. Apa yang dia katakana selanjut-selanjutnya cukup panjang. Dia berbagi kepadaku apa yang menjadi pergumulannya dalam pekerjaannya. Dia menjelaskan betapa dia yang sudah berkeluarga sepertinya menomorduakan anaknya sendiri untuk persiapan masuk sekolah karena tahun ajaran ini tantangan yang harus dia hadapi berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Selama percakapan kami, aku berusaha menempatkan diri di posisi dia dan belajar memahami apa yang dia rasakan. Memang tidak mudah menghadapi situasi yang dia harus alami dengan kesadaran dia juga sudah berkeluarga.

Aku hanya memberikan beberapa kalimat-kalimat encouragement lainnya dan mengharapkan dia terus berserah pada Tuhan dan percaya penyertaanNya.

Namun, percakapan yang tidak terencana antara aku dan temanku ini mengubah cara pandangku tentang dia. Selama ini, jujur aku akui bahwa informasi-informasi yang kudapatkan dan pengalamanku pribadi, secara umum lebih cenderung melihat sisi dirinya yang cenderung negatif. Aku berdosa. Aku berdoa minta ampun kepada Tuhan.

Aku tidak mengenalnya 100%. Dan aku melihatnya hanya satu sisi. Aku baru sadar bahwa diapun berjuang dengan ketulusan untuk melakukan tanggung jawabnya semaksimal mungkin. Dan itu kadang membuat dia harus mengorbankan keluarganya. Situasi ini membuatku ditegur dan diingatkan lagi untuk tidak melihat orang begitu negatif sehingga secara otomatis sadar atau tidak sadar merendahkan dia dan mengganggap aku lebih baik..jauh lebih baik dari dia. Aku manusia kurang aja. Seharusnya aku menerima orang dan mengasihi orang dengan segala kelebihan dan kelemahannya sama seperti aku juga diterima oleh mereka dan tentunya Tuhan dengan segala kelebihan dan kelembahanku.

MENAHAN DIRI
Ketika aku melihat hidupku beberapa waktu ini, aku menyadari bahwa aku sudah terlalu sering memberi cap orang dari sisi kelemahannya sehingga aku dengan mudah mengeluh tentang mereka masing-masing dan melihat mereka tidak lebih baik dari aku. Oh Tuhan. Ampuni aku. Aku memutuskan untuk berjugan berhenti membicarakan segala kelemahan orang lain dengan situasi dan kondisi yang secara sengaja atau tidak sengaja memang untuk “menghakimi” orang tersebut. Aku rindu ketika akupun mengetahui kelemahannya, aku meminta hikmat dari Tuhan untuk bagaimana bisa mendukung dia agar bisa memperbaiki apa yang menjadi kelemahannnya. Aku tahu aku terbatas dalam merubah sikap atau perilaku orang yang mungkin bagi kebanyakan orang sekitarnya sudah menjadi buah bibir negatif. Tetapi paling tidak dengan menahan diri agar tidak “menggossipkannya” aku lebih bisa menjaga diri untuk obyektif dan penuh kasih tulus ketika berkomunikasi dan juga berkerjasama dengan dia. Dan jika Tuhan bekernan, dengan terus menjaga sikap itu, aku memiliki kesempatan lebih mudah dan efektif untuk memberi masukan yang dia terima dan dia akhirnya berubah. Itu harapan dan doaku. Amin.




Comments