KETIKA TUHAN TIDAK PUNYA Rp 300.000

Tiba-tiba temanku menarik bajuku dan sambil kemudian mengatakan ada hal penting yang ingin dia ceritakan. Aku terbengong-bengong melihat kelakuan dia. Dan dia mulai bercerita tentang seorang teman yang akhirnya memilih untuk menggeluti pekerjaan yang sebenarnya secara agama menjadi pekerjaan yang dianggap penuh dosa.

Alasannya sederhana, untuk mencukupi kebutuhannya dan keluarganya di kampung. Dan itu dimulai dengan kebutuhannya untuk biaya sekolah anaknya sebesar Rp 300.000. Dia sudah bercerai dengan suaminya beberapa tahun. Keluarganya bukan orang yang mampu.

Melihat berita-berita di surat kabar, ketika ada razia, mayoritas dari Pekerja Seks Komersial terjun ke dunia ‘gelap’ itu karena alasan mayoritasnya adalah kebutuhan ekonomi karena sudah berpisah dengan suami. Sebuah keputusan yang bagi mungkin mayoritas manusia di Indonesia adalah keputusan yang akan segera dihakimi sebagai orang paling berdosa dan istilah kasarnya sudah pasti berada paling dasar di neraka.

Namun, dari satu majalah yang mengulas tentang dunia malam, menjelaskan bahwa mayoritas dari mereka tetap dengan rajin melakukan kegiatan keagamaan yang mereka anut setiap hari. Mereka tetap dengan kesadaran penuh mengucap syukur kepada Allah ketika mendapatkan uang tamu yang menggunakan jasa mereka.

Ketika aku menulis artikel ini karena erita temanku dan flashback kembali berita-berita di surat kabar serta majalah yang pernah aku baca, aku tidak punya niat dan tentunya hak untuk menghakimi mereka yang menggeluti pekerjaan itu. Aku juga tidak sempurna dan penuh dosa, tidak ada bedanya dengan mereka. Dalam imanku, semua manusia telah jatuh dalam dosa.  

Namun, ketika aku merenungkan kisah-kisah mereka, aku diingatkan lagi bahwa bisa jadi ada masa di mana aku berada dalam posisi yang sama dengan mereka, yaitu memiliki kebutuhan finansial yang tidak bisa aku cukupkan oleh diriku sendiri. Dalam situasi seperti itu, ada banyak piihan yang bisa diambil. Pilihan pertama yang sederhana adalah berdoa. Meminta dengan sangat kepada Tuhan. Ironisnya, Tuhan sepertinya tidak menjawab padahal waktu terus berjalan dan aku harus segera memiliki sejumlah uang tersebut. Contohnya mungkin seperti cerita di atas, aku butuh Rp 300.000. 

Lalu, karena ada motto berdoa dan bekerja (ora et labora), aku kemudian dengan meminta hikmat dari Tuhan, memikirkan cara apa yang benar sesuai kehendakNya untuk mendapatkan uang tersebut.
Sedihnya, segala cara yang kutempuh tidak bisa memenuhi kebutuhanku tersebut. Dan akhirnya, aku mentok, bingung, putus asa alias frustasi. Harus bagaimana lagi?

Ketika dalam situasi tersebut, seolah aku berada di ujung tanduk atau di pinggir jurang. Seolah satu-satunya jalan yang harus kutempuh adalah jalan yang tidak sesuai dengan kehendakNya atau aku masuk jurang dan mati. Aku memiliki pilihan mendapatkan uang sebesar Rp 300.000 dengan segera tetapi dengan cara aku membangun relasi dengan ketidakbenaran dan akhirnya jatuh dalam dosa. Ada banyak cara yang tidak benar yang bisa aku lakukan namun tidak sesuai dengan kebenaran. Contohnya, aku bisa berbohong untuk mendapatkan uang tersebut. Aku juga bisa mencuri dan sebagainya. Cara-cara yang sebenarnya "biasa" bagi dunia, tetapi tidak benar di hadapan Allah.

Pilihan lain adalah aku tetap mempercayai Allah, bahkan di saat situasi yang paling sulit untuk bisa percaya Dia sekalipun. Sangat tidak mudah tetap beriman bahwa Allah mampu mencukupi kebutuhanku ketika ada cara lebih mudah namun tidak benar. Akhirnya, Tuhan seperti tidak punya uang Rp 300.000. Tuhan akhirnya ditinggalkan demi Rp 300.000. Tuhan akhirnya tidak menjadi hal yang paling penting dan paling dihargai ketika Rp 300.000 “tidak segera” Dia berikan padaku. Aku yakin Tuhan pasti sangat sedih. Dia “ditukar” dengan uang Rp 300.000.

MENGHAKIMI
Namun, dalam segala kondisi bahwa pada akhirnya, aku atau temanku, atau orang yang kukenal akhirnya berada dalam situasi memutuskan melakukan hal-hal yang tidak sesuai prinsip kebenaran yang dipegang banyak orang, termasuk salah satunya menjual diri atau mencuri atau bahkan membunuh. Apakah aku berhak untuk menghakimi mereka dan merendahkan mereka? Bagiku, aku tidak boleh melakukan hal tersebut.

Aku sadar bahwa dengan mudah orang lain kebanyakan akan menyetujui sikapku untuk menghakimi orang-orang yang berada dalam situasi tersebut. Tetapi aku belajar dan terus berjuang untuk tidak menghakimi mereka apalagi mengucilkan mereka. Aku ini sama seperti mereka, manusia yang berdosa walau dalam konteks "jenis" dosa yang berbeda, yang bisa jadi lebih "diterima" oleh orang banyak. Intinya ya tetap sama-sama orang berdosa yang tidak pantas dan tidak berhak menghakimi. Ampuni aku Tuhan untuk sikapku yang kusadari selama ini cenderung menhakimi mereka.


Tuhan tolong aku untuk menjaga imanku kepadaMu, ketika aku berada dalam situasi yang paling sulit dan menawarkan jalan pintas yang tidak sesuai kehendak-Mu. Tidak mudah Tuhan. Benar-benar Tidak mudah#doa.

Comments