KETIKA TUHAN MENGGUNAKAN PATH

Ini bukan mengenai Tuhan memiliki akun media sosial karena sudah banyak tulisan mengenai jika Tuhan menggunakan media sosial, terutama ketika facebook sedang booming. Tetapi ini memang berkaitan dengan media sosial, terutama Path.

Jadi begini ceritanya. Pada hari Senin, 25 Juli 2016, aku baru saja menginstall Path setelah 8 bulan lalu aku uninstall dari handphoneku karena ukuran aplikasi ini cukup besar dan memperlambat “kinerja” handphoneku secara keseluruhan. Butuh waktu yang cukup lama untuk membuka aplikasi-aplikasi yang lain.

Ketika aku login lagi, ada sekitar 30 orang teman yang request menjadi teman di Path. Dan aku juga mencoba mencari teman-temanku di kontak handphoneku yang menggunakan Path dan aku mengajukan permohonan pertemanan kepada mereka.

Di hari Selasa, satu hari setelah aku install Path, sebelum berangkat kerja, aku sempatkan untuk mencoba membuka Path dan melihat timelinenya. Aku melihat beberapa teman share beberapa kejadian, gambar serta lagu yang mereka dengarkan. Di salah satu path temenku, ada teman lain yang berkomentar dan kulihat lokasinya adalah di Tangerang Selatan.

Kedua temanku itu adalah teman satu persekutujan ketika di Jogja. Karena aku tinggal di Tangerang, aku secara otomatis ingin tahu, temanku yang berkomentar di Path dengan lokasi di Tangerang Selatan, apakah dia sekarang tinggal di situ, karena aku belum tahu. Jadi aku kirim pesan lewat Path.
Ternyata dia baru saja datang ke Tangerang satu hari sebelumnya karena ada wawancara kerja di UPH Karawaci. Karena dia tahu adikku kerja di UPH, maka dia berkomentar di Path bertanya ke teman satu lagi yang adalah adik iparku.

Singkat cerita, ternyata dia belum menghubungi adikku karena tidak terlalu dekat walau juga satu persekutuan. Karena aku tahu lokasi UPH Karawaci, aku memberikan informasi yang dia butuhkan. Aku juga memberikan informasi bahwa ada alumni JOY (nama persekutuanku) lain yang kerja di UPH. Dan aku berikan pin BBMnya. Akhirnya mereka bisa bertemu untuk makan siang. Dari dia aku juga tahu bahwa ada dua orang alumni persekutuanku yang sudah kerja di Tangerang Selatan.

Lalu, apa maksud dari ceritaku ini?
Bagiku secara pribadi, temenku yang interview di UPH karawaci ini merasakan pengalaman penyertaan Tuhan lewat cara yang unik, yaitu komunikasi di antara dia dan aku lewat media Path. Dan itu tidak pernah terpikirkan. Aku hanya iseng melihat timeline Path. Tetapi iseng itu digunakan Tuhan untuk menolong orang lain.


Kembali aku berpengalaman pribadi bersama Allah lewat kejadian ini. Cara Allah itu melebihi segala pemikiranku sebagai manusia yang tidak sempurna. Karena itulah seharusnya aku harus lebih beriman kepadaNya terutama ketika menghadapi masalah dan sepertinya segala cara yang bisa aku pikirkan tidak memberikan solusi yang terbaik. Tuhan ampuni aku yang kurang beriman ini#doa

Comments