JOMBLO 25 HARI

Lebaran tahun 2016 sedikit berbeda dari lebaran-lebaran sebelumnya sejak aku menikah tahun 2012. Kali ini, aku libur lebaran dengan status “jomblo 25 hari”. Mengapa? Karena sejak 25 Juni sampai 20 Juli, istriku dan pangeran kecil kami pulang kampung. Walau orangtuaku tinggal tidak terlalu jauh dari rumah kami, tetap sangat berbeda rasanya ketika tidak ada istri dan anakku. Rasanya beda karena ketika pulang, tidak disambut oleh teriakan Papa..papa..oleh pangeran kecilku sambil berlari kesana-kemari hingga lupa membukakan pintu rumah untukku.

Teman-teman kerjaku dengan bercanda menyuruh aku tidak perlu pulang kantor pas jam kantor selesai. Mereka bilang, untuk apa cepet-cepet pulang kalau ga ada orang. Ketika ada bazar di kantorku, aku membeli banyak pakaian dan mainan murah untuk Juan. Mereka langsung dengan bercanda bilang, “wah ini pasti pancingan untuk Juan cepet pulang ya…pasti dikirim fotonya ke Sumba untuk panas-panasin Juan…” haaa….

Memang beda terasa sekali perbedaan hidup ketika ada masa yang indah bersama orang-orang yang kita kasihi dan masa itu akhirnya harus hilang, walau tidak untuk selamanya. Ada alat komunikasi canggih, sehingga bisa melihat mereka, tetapi tidak ada yang bisa menggantikan pertemuan langsung dengan mereka.

Itu masih satu hal saja. Hal lainnya yang berbeda selain tidak adanya momen bersama orang-orang yang kukasihi, aku juga harus menyiapkan segala hal sendiri, termasuk mempersiapkan pakaian kerja serta makanan. Bersyukur aku memiliki istri yang sangat rajin dan mengasihiku sehingga sebelum berangkat pulang kampung, dia sudah mempersiapkan dengan lengkap segala pakaianku hingga nanti aku masih kerja setelah liburan. Aku tinggal mencuci pakaian dalamku saja. Pakaian kerja serta ke gereja termasuk untuk pelayanan sebagai liturgis sudah siap semua. Terima kasih istriku yang luar biasa dan cantik.

Untuk urusan makanan, sebenarnya dia sudah siapkan makanan yang awet dalam jangka waktu yang lama, sehingga aku tinggal perlu memasak nasi. Ini disiapkan agar penghematan secara finansial mengingat jika beli makan di luar cukup mahal dibandingkan jika masak sendiri

Namun, karena aku cepat bosan, aku tidak makan makanan yang disiapkannya, namun selain aku kadang pergi ke rumag orangtuaku untuk makan bareng, aku juga beli makanan di warung makan yang masih buka.

INDOMARET TIDAK TUTUP
Pada hari pertama Lebaran, setelah aku pulang dari persekutuan doa di gerejaku, aku mampir ke warung bakso untuk makan malam. Selain aku, ada seorang pria yang sudah terlebih dahulu ada dan makan. Tak berapa lama, dia bahas  tentang suara takbiran dari masjid yang tidak terlalu dengar. Aku menanggapinya singkat. Tetapi, kemudian aku tanya, “kenapa tidak mudik?” Lalu dia menjawab, “Tidak mungkin. Saya kerja di Indomaret”. Lalu aku merespon..”oh iya”

Aku langsung melanjutkan perkataanku dengan mengatakan, “wah, memang kalau lebaran tidak semua libur ya. Polisi tidak libur.” Dia menimpali, “yah kalau polisi biar ga libur pas lebaran aja, tapi kalau hari biasa, libur aja, karena hanya cari duit”… dengan tertawa kecil aku merespon, lalu melanjukan bahwa, “kami membutuhkan Indomaret, dan juga profesi-profesi yang tetap masuk ketika libur. Jadi jangan melihatnya sebagai BEBAN tetapi BERKAH, alias PAHALA kalau dari konteks saudara muslim.” Dia langsung menjawab “Amin”.

DITOLAK WALAU DIBUTUHKAN
Aku bertanya lagi, sudah berapa lama dia kerja di Indomaret?, dia jawab, “dua minggu, daripada nanggur”. Bekerja di Indomaret, bekerja sebagai polisi lalu lintas, satuan pengamanan (satpam) atau bekerja di rumah sakti serta bandar udara, tentu sangat kecil kemungkinan untuk mendapatkan libur sama seperti bekerja di bidang lain, seperti aku yang bisa libur satu minggu.

Seorang teman yang bekerja di Garuda mengatakan bahwa mereka tetap masuk ketika libur karena tanggung jawab mereka untuk memastikan pesawat tetap bisa berfungsi dengan baik. Dan aku hanya sedikit memberi encouragement dengan mengajak dia melihatnya sebagai tanggung jawab yang besar dan mulia, bukan beban.

Profesi-profesi di atas pasti bukan profesi yang menjadi pilihan utama bagi kebanyakan orang. Mimpi mayoritas kita pasti ingin bekerja di tempat di mana kita bisa ada waktu yang cukup untuk istirhat dan juga meluangkan waktu dengan aktivitas lain di luar pekerjaan. Tentu ketika ditawarkan pekerjaan dengan profesi=profesi di atas, ada pengetahuan dan kesadaran akan konsekuensi profesi tersebut, bukan hanya gaji, tetapi juga waktu libur. Intinya bisa dikatakan bahwa profesi-profesi di atas pasti ditolak jika boleh memilih, walaupun profesi-profesi tersebut adalah profesi yang sangat krusial dan sangat dibutuhkan.

KAMU SPESIAL
Ketika ada tanggung jawab yang didapatkan, kita bisa melihatnya dari dua sisi yang bertolak belakang. Sisi negatifnya, karena banyak konsekuensi-konsekuensi yang “berat” alias tidak mudah yang harus dihadapi, seperti misalnya waktu libur yang berbeda, jam kerja yang berbeda, serta harus berkomunikasi dengan pihak-pihak yang sebelumnya jarang kita berinteraksi.

Di sisi lain, tidak semua orang mendapatkan kepercayaan memikul tanggung jawab yang berbeda yang kita dapatkan. Ada kesempatan kita mendapatkan pengetahuan yang berbeda serta tentu mengenal lebih banyak orang yang berbeda.

Namun, kita menjadi spesial ketika tanggung jawab tersebut dilihat dari maknanya bagi orang lain serta Pencipta kita. Kita spesial karena kita memberkati orang lain lewat tanggung jawab kita serta memuliakan nama-Nya. Ini cara pandang yan terus aku perjuangkan dan aku seolah diingkatkan lagi lewat pengalalaman selama lebaran kali ini. Jangan marah kepada Tuhan karena tanggung jawab yang berbeda tetapi mintalah Tuhan kekuatan untuk melakukan tanggung jawab tersebut dengan cara pandang yang tepat. Itu memang tidak mudah, tetapi layak untuk diperjuangkan sehingga hari-hariku ketika melakukan tanggung jawab itu lebih damai dan sukacita, bukan sebaliknya, penuh keluhan dan sensitif penuh emosi. Jomblo 25 hari juga bukan sebagai beban :D

Namun, pelajaran penting lainnya adalah, bahwa hal-hal yang benar bisa jadi ditolak karena melihat dari sisi yang salah. Dalam keberdosaan manusia, maka Juruselamat, menjadi Pribadi yang ditolak karena manusia merasa lebih membutuhkan segala hal yang ada di dunia, tanpa berpikir bahwa tanpa menerima Yesus sebagai juruselamat bukan dengan melakukan sebanyak mungkin perbuatan baik, maka tidak ada kehidupan kekal bersama Allah di surga setelah kematian di dunia. Hal ini menjadi sebuat pertanyaan bagi masing-masing manusia secara pribadi dan keputusannyapun secara pribadi. Tuhan, bukakan hati dan pikiran kami untuk melihat kebenaran sebagai kebutuhan bukan menolaknya




Comments