SALAH PILIH KAMERA FOTO

Satu hari, tiba-tiba aku dihubungi oleh wakil kepala sekolahku. Hari Senin di minggu depannya aku diminta untuk mengambil foto murid-murid yang menggunakan seragam baru di tahun ajaran selanjutnya. Dia menginformasikan bahwa kamera foto  akan disediakan, jadi aku tidak perlu membawa kamera fotoku pribadi.

Ketika hari Senin tiba, aku melakukan tugas yang diinstruksikan kepadaku. Namun, ternyata, karena tidak familiar dengan kamera yang kugunakan untuk sesi foto tersebut, ternyata hasilnya tidak sesuai harapan, sehingga pada hari Jumatnya, dilakukan pengambilan ulang foto. Bersyukur ada teman yang lebih mengerti kamera memberikan tips-tips penggunaan kamera tersebut sebelum hari Jumat. Lalu ketika hari Jumat, ternyata seorang teman lainnya yang lebih ahli dalam hal “jepret-menjepret”  serta sudah sering menggunakan kamera tersebut bisa menolongku untuk mengambil foto ulang.

TEORI STRES KERJA & TURNOVER INTENTION
Saat aku menulis tulisan ini (awal Juni 2016), aku sedang menyusun tesis. Baru saja aku seleasi presentasi proposal penelitian ilmiah tesisku di hadapan dosen dan teman-teman di kelas mata kuliah Human Resource Research (HRR). Untuk Ujian Akhir kuliah HRR ini kami diharuskan menyusun dan mempresentasikan proposal untuk tesis yang terdiri dari Bab 1 hingga Bab 4. Mata kulah ini aku ambil di Semester 3. Harapannya, di semester 4, aku tinggal seminar proposal, ambil dan olah data untuk susun Bab 5 dan Bab 6 lalu sidang skripsi. Ketika presentasi, aku mendapatkan sedikit masukan mengenai judul, hipotesis serta kuesioner. Untuk bagian lain, terutama kajian pustaka yang berisi teori-teori pendukung penelitian ilmiah tesisku.

Ketika selesai presentasi dan pulang ke rumah, aku mulai merevisi proposalku. Sambil merevisi bagian-bagian yang mendapatkan masukan dari dosen dan teman-temanku, aku juga membaca ulang semua bab termasuk Bab 4, Kajian Pustaka. Di dalam bab tersebut aku melihat bahwa walaupun teori-teori yang sudah masukkan tidak diutak-atik ketika aku presentasi, namun aku merasa bahwa apa yang aku tulis masih perlu ditambahkan lagi agar ketika aku benar-benar seminar proposal, aku bisa mempertangggung jawabkannya dengan lebih yakin.

Ketika mencoba membaca beberapa referensi penelitian ilmiah sebelumnya, aku belum mendapatkan tulisan yang pas untuk aku bisa kutip di proposalku. Di beberapa penelitian memang ada beberapa teori namun sumbernya sudah tidak update. Selain itu, ada yang mencantumkan teori dari peneliti yang mereka kutip juga dari penelitian yang lain, namun ketika aku lihat di daftar pustaka, mereka tidak menulis judul dan nama penelitian yang mereka kutip.

Teori yang aku masih perjuangan untuk cari kutipan tulisan yang cocok dengan penelitianku adalah teori mengenai stres kerja dan turnover intention. Dan ternyata selama dua hari aku mencari di akhir pekan, belum aku dapatkan kutipan yang menurutku pas untuk aku gunakan. Aku yang cenderung ingin segera secepatnya menyelesaikan tanggung jawab yang aku dapatkan, cenderung cepat down ketika ada situasi yang tidak sesuai dengan harapan. Termasuk ketika berharap targetku di akhir pekan ini, aku sudah selesaikan proposal tesisku dengan tambahan teori-teori pendukung yang lebih banyak. Aku cenderung langsung mengeluh dan stres. Akhirnya jadi seperti tidak menikmati setiap aktivitas selanjutnya.

SCIENCE RESEARCH IS CHALLENGING
Tiba-tiba seperti aku mendapatkan pencerahan untuk pergumulan teori pendukung proposal tesisku. Aku diajak untuk melihat pergumulan dari sudut bahwa ini bukan beban tetapi tantangan untuk menjadi lebih baik. Ketika aku melihatnya sebagai beban, maka lebih cenderung melihatnya dari sisi negatif dan mudah meruntuhkan semangat. Tetapi ketika aku melihatnya sebagai tantangan, maka aku melihatnya dari sisi positif dan berpikir lebih jernih. Aku seperti benar-benar dibangunkan dari pencerahan tersebut hingga aku update status BBM: “science research is challenging”. Aku juga akhirnya bisa menjadi segar dan semangat kembali melakukan aktivitasku selanjutnya yang sudah aku rencanakan walau belum sepenuhnya menyelesaikan pergumulanku. Aku bisa bermain futsal dengan tenang dan menikmatinya hingga aku bisa mencetak banyak gol, tidak seperti biasanya…haa…

ANGLENYA BEDA, HASILNYA JUGA BEDA
Ketika aku mengevaluasi hasil foto seragam yang aku ambil pertama kali di hari senin, aku melihat bahwa selain pengaturan kamera yang tidak pas, aku juga tidak mengambil foto dari sudut yang tepat. Angle yang tepat istilah fotografinya. Hal ini aku bisa sadari ketika melihat bagaimana cara temanku yang membantu mengambil foto di hari Jumat selanjutnya.

Anglenya beda, hasilnya juga beda. Karena aku juga kadang mengambil foto ketika mendapat momen yang menurutku bagus, melalui kejadian itu aku diingatkan lagi bahwa hasil jepretanku menjadi enak dipandang karena aku mendapatkan angle yang tepat setelah beberapa kali mencoba beberapa angle.

SITUASI SAMA, ANGLENYA BEDA
Dalam situasi yang sama, bisa jadi setiap orang melihatnya dari angle (baca: sudut pandang yang berbeda). Sudut pandang yang berbeda menghasilkan reaksi atau respon yang berbeda dan hasilnyapun pasti berbeda. Dalam situasi-situasi yang muncul namun tidak sesuai harapan dalam artian negatif, sudut pandang menentukan bagaimana kondisi hati dan pikiran dan akhirnya menentukan langkah yang diambil, bisa akhirnya positif atau sebaliknya. Ini bisa terjadi di situasi apapun, termasuk ketika melihat ada banyak kelemahan-kelemahan dalam diri yang selama ini sepertinya tidak pernah berhasil untuk dihilangkan dan dikurangi. Selalu gagal adalah dua kata yang sering diucapkan sekaligus menjadi penyesalan.


Namun lewat kejadian pencarian teori untuk proposal tesisku membuatku diingatkan bahwa aku harus melihat dari sudut pandang yang lebih positif agar bukan hanya aku bisa menghadapi situasi yang tidak diduga tersebut dengan benar dan tepat tetapi juga mempengaruhi juga secara positif segala aktivitasku selanjutnya serta relasiku dengan orang lain. Terima kasih Tuhan untuk pelajaran yang Kau berikan padaku.#SEUMURHIDUPAKUSEKOLaH

Comments