JABAT TANGAN TERAKHIR

Pertengahan bulan ini, ada banyak sekali perpisahan yang terjadi antara aku dan beberapa orang berada dalam “lingkaran dalam” kehidupanku. “Lingkaran dalam” yang kumaksud adalah orang-orang yang memang belum tentu dekat dalam arti sering curhat atau bertemu, tetapi cukup dekat karena sering berkomunikasi dan beraktivitas bersama dalam acara-acara tertentu.

Satu pribadi yang akan berpisah adalah Lse Jaff. Biasa dipanggil Uje, mengikuti nama salah satu ustad ternama di Indonesia. Aku mengenal dia tahun 2014 ketika dia mulai melayani di gerejaku. Salah satu tanggung jawab utamanya adalah menjadi Pembina Pemuda gerejaku. Sebelum dia datang, aku membantu Pembina sebelumnya dalam beberapa aktivitas pemuda walau aku sudah menikah.

Waktu tidak terasa, tahun 2016 ini dia terpanggil melayani di tempat lain. Selama melayani di gerejaku, aku bisa melihat bagaimana dia terus berjuang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan kapasitas dia. Aku bisa melihat bagaimana dia terus berkembang dalam melayani dan bagaimana dia bisa mendukung teman-teman pemudaku terutama untuk mendapatkan bekal-bekal rohani yang cukup padat. Aku bisa melihat antusiasme mereka yang punya hati terbuka dibentuk. Ada banyak teman-teman baru dan teman-teman yang ketika aku masih di pemudah masih belum terlalu aktif, sekarang menjadi pengurus. Aku percaya Tuhan memakai Uje sebagai salah satu “perpanjangan tanggan-Nya” membentuk teman-teman pemuda.

Di tempat lain, ada beberapa guru dan staf non-guru yang tidak lagi melanjutkan mengajar di sekolah tempat aku bekerja. Guru-guru tersebut memang tidak selalu aku ketemu dan juga biasanya sering bertemu hanya ketika periode ujian sekolah karena divisilku menjadi penanggung jawab distribusi soal ujian selain juga produksi soal-soal tersebut. Semenjak aku ditugaskan untuk mengurus persiapan ujian di level SMP & SMA, aku makin mengenal mereka.

Mereka semua, yang akan berpisah alias tidak lagi berada dalam satu lingkungan yang sama dengan aku memiliki karakter-karakter yang berbeda. Masing-masing mempunyai keunikannya sendiri dan berbeda juga dengan aku. Beberapa dari mereka antara lain Mr. Yuliyanto, Ms. Erlinda, Mr. Rudi, Mr. Haris atau Admin Assistant Shinta.

Namun satu hal yang aku rasakan adalah kesedihan karena berpisah dengan mereka. Ini adalah sisi yang sering orang bilang melankolis banget. Tetapi dalam satu kesadaran, aku merasakan bahwa aku menikmati berinteraksi dan bekerja sama dengan mereka dan itulah alasannya aku merasa sedih ketika tahu harus berpisah dengan mereka. Kami melakukan jabat tangan terakhir sebagai tanda perpisahan.

Ketika “menganalisa” kesedihan ini, maka aku bisa diingatkan lagi bahwa perasaan ini adalah perasaan yang normal dan bisa terjadi pada diriku sebagai manusia dan juga orang lain. Jadi aku bisa melihat bagaimana sedihnya jika benar-benar ditinggalkan oleh orang-orang yang berada dalam lingkaran utama hidupku, yaitu keluargaku. Tentu rasa sedihnya akan sangat berbeda. Aku tidak punya rumus yang tepat ketika menghadapi kondisi itu nanti, kecuali memohon penghiburan dan kekuatan dari Tuhan saja.

Tetapi aku sadari, bahwa perpisahan itu hanya sementara ketika kepastian berkumpul di surga telah ada dalam hati ketika secara pribadi dari hati yang tulus menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi. Aku yang penuh dosa tidak layak, tidak layak bersekutu dengan Allah yang Maha Kudus karena dosaku. Tetapi karena kasih karuniaNya, dia mengirimkan Juruselamat. Itu aku, bagaimana dengan kalian? Keputusan ada di hati masing-masing, bukan paksaan.

Comments