PAHLAWAN TANPA MINTA TANDA JASA

Ketika aku menulis ini, aku baru saja selesai mengurus ujian kelas 9. Tantangan ketika mempersiapkan ujian dari sisi teknis yang menjadi bagian dari divisiku adalah, selain harus teliti agar tidak terjadi kesalahan dalam jumlah produksi soal-soal ujian adalah menentukan guru-guru yang menjadi pengawas ketika ujian. Dalam hal ini, tantangannya adalah selain harus melihat apakah gurunya sudah ditunjuk menjadi penanggung jawab aktivitas lain atau masih mengajar di level kelas yang berbeda, jumlah sesi ujian tiap guru juga harus benar-benar seadil mungkin sesuai dengan peraturan yang ada. Selama ini bersyukur karena sudah ada sistem berbasis komputer yang menolong aku dalam menyusun jadwal pengawas sehingga tidak harus benar-benar manual menyusunnya.

Ketika periode ujian berlangsung, ketika produksi soal setiap mata pelajaran sudah selesai dan siap dibagikan, ketika jadwal pengawas sudah diinformasikan kepada semua guru, ada satu hal yang tidak bisa diprediksi tetapi bisa mempengaruhi proses ujian itu sendiri, yaitu ketika aku mendapat informasi bahwa guru yang ditunjuk menjadi pengawas pada hari H tidak masuk karena sakit ataupun ada urusan sangat penting lainnya.

Nah, kalau situasi ini terjadi, maka haruslah kami, “tim ujian” melihat jadwal guru pengganti. Oh iya, selain aku harus menyusun jadwal guru pengawas ujian, aku juga harus menyusun jadwal pengawas pengganti yang bisa diminta tolong untuk menjadi pengawas ujian ketika guru yang sudah ditunjuk berhalangan hadir seperti sakit atau alasannya lainnya.

LAST MINUTE
Yang menjadi persoalan adalah, informasi yang didapatkan tentang ketidakhadiran guru tersebut tentunya pasti baru didapatkan pada “last minute” karena tentu tidak ada yang merencanakan sakit atau kejadian-kejadian buruk lainnya yang tidak pernah diharapkan.

Koordinasi “last minute” tentu bukanlah hal mudah karena di sekolah yang jumlah muridnya hampir mencapai 3.000 anak, tentu aktivitasnya begitu banyak sehingga komunikasi dengan guru tentu cukup memakan waktu. Apalagi jika jadwal ujian yang diawasi guru yang berhalangan hadir pada pagi hari.

Ceritanya adalah satu hari sebelum hari ujian kelas 9, hari itu hari Minggu. Ada dua kejadian yang membuatku tidak bisa konsentrasi mengejarkan tesisku. Pada siang hari, aku mendapatkan email dari salah satu guru yang mendapat jadwal mengawas ujian besoknya bahwa dia tidak bisa mengawas karena harus mengurus ijin tinggalnya sebaga warga negara asing. Satu hal yang sangat aku hargai dan respek adalah dia berinisiatif menginformasikan bahwa dia bersedia bertukaran jadwal dengan guru lain yang bisa menggatikan dia besok hari.

Pada jam 9 malam aku mendapatkan email dari salah satu guru yang ditunjuk menjadi pengawas ujian besoknya bahwa dia tidak bisa hadir besok di sekolah karena kehabisan tiket kereta. Waduh, jadwal pengawas pengganti tidak aku pernah bawa ke rumah. Aku lalu coba buka email dan melihat email-email yang aku kirim guru di hari jumat minggu lalu dengan tujuan melihat jadwal-jadwal mereka dan berharap ada yang tidak mengawas di hari Senin.

MR. DARMIYONO
Dari situ aku menemukan satu orang, Mr. Darmiyono. Seorang Asisten Laboratorium. Dengan penuh rasa sungkan, aku mencoba untuk mengirimkan pesan via aplikasi Whatsapp (WA) minta tolong jadi pengawas pengganti dan jadwalnya dia akan digantikan oleh guru yang berhalangan hadir hari Senin. Dan dia mengatakan ok. Tidak jadi masalah.

Pada periode ujian sebelumnya, dia juga pernah aku minta tolong menjadi pengawas pengganti walau sebenarnya dia tidak terdaftar di jadwal pengawas pengganti. Tetapi karena dia punya waktu kosong, dia dengan senang hati bersedia.

MS. ARUM
Jam 9 malam di hari Minggu, aku dapat email lagi yang mengejutkan karena satu pengawas ujian tidak bisa datang hari Senin besok karena masalah transportasi dari kotanya. Mau tidak mau aku harus cari pengawas pengganti.

Sebelumnya, ketika mencari pengawas pengganti untuk guru yang mau mengurus ijin tinggalnya, aku mencoba mengirim pesan WA kepada seorang asisten laboratorium yang sebenarnya sudah beberapa waktu ini aku tahu bahwa WAnya sedang error. Eh, ternyata pesanku masuk dan dia balas. Aku tanya ke dia apakah bisa menjadi pengawas pengganti di pagi hari, namun ternyata tidak bisa karena dia sudah ditunjuk jadi PIC acara lain. Tapi dia bilang bahwa dia hanya sampai jam 9, selebihnya free.namanya adalah Ms. Arum

Tapi,aku melihat, ada satu asisten lab lagi yang menjadi pengawas di sesi ke-dua (jam 10.30) di hari Senin. Namanya Ms. Suhaeni. Karena Ms. Arum bisa di sesi 2, aku bertanya ke Ms. Suhaeni apakah bisa ditukar jadwalnya, jadi dia menggantikan pengawas yang tidak bisa datang di hari Senin, lalu jadwalnya akan digantikan oleh Ms. Arum. Lalu nanti jadwalnya Ms. Arum di hari Jumat akan digantikan oleh asisten lab yang tidak bisa masuk hari Senin, yang digantikan oleh Ms. Suhaeni. Ms. Suhaeni bersedia. Ms. Arum juga. Perjanjian segitiga disepakati tanpa ada rasa mengeluh. Akhirnya aku bisa kirim email untuk informasi pengawas pengganti kepada semua yang terkait. Puji Tuhan!

Yang menjadi satu hal yang memberkatiku lagi adalah kata-kata Ms. Arum yang berkata bahwa jadwalnya di hari Jumat tidak perlu diganti oleh Ms. Puput, asisten lab yang tidak bisa masuk hari Senin. Dia tetap bersedia menjadi pengawas walaupun berarti jumlah mengawasnya Ms. Arum bertambah satu. Dia bilang “biar Ms. Puput standby jika ada pengawas yang berhalangan hadir di hari Jumat. Luar biasa!

KARAKTER MULIA
Bagaimana respon Mr. Darmiyono dan Ms. Arum ketika aku minta tolong mendadak dan pada waktu yang “tidak pantas” untuk mengganggu orang mengenai pekerjaan, membuatku benar-benar terinspirasi dan ditantang untuk meniru sikap mereka. Dua orang ini luar biasa, adalah perwakilan asisten-asisten lab lainnya (Ms. Suhaeni, Ms. Eny, Ms. Tri, Mr. Rizal, Ms. Puput, Ms. Vivi & Mr. Yudi) yang juga luar biasa. Mereka tidak mengeluh jika harus diminta membantu di luar yang seharusnya mereka lakukan sejauh itu tidak mengganggu aktivitas mereka yang jauh lebih penting.

TIDAK MENGAJAR JUGA TETAP PAHLAWAN TANPA MINTA TANDA JASA
Aku juga pernah meminta tolong kepada beberapa guru dan mereka juga mau menjadi pengawas pengganti walau mereka sebenarnya ada yang tidak tertulis di jadwal pengawas pengganti. Mereka bersedia membantu ketika mereka memang tidak harus mengejarkan tugas penting. Aku tidak bisa menyebutkan satu per satu mereka, tetapi aku ingat Mr. Fredy, Mr. Nugroho, Mr. Ernesto, Mr. Bobby, Mr. Jeafrey, Mr. Frans, Mr. Patrick, Ms. Henny, Ms. Lany, Mr. Rey, Ms. Dita, Ms. Maya dan mungkin ada guru-guru lain yang aku lupa namanya.

Mereka semua dalam tanggung jawab di luar tanggung jawab mengajar tetap aku akui sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Ucapan terima kasih adalah satu ucapan yang tulus aku berikan kepada mereka dan itu sudah cukup. Karena itulah ketika ucapan terima kasih aku keluarkan dari mulutku, itu tidak pernah aku ucapkan sebagai ungkapan basa-basi, tetapi benar-benar karena menghargai mereka yang mau menolong tanggung jawabku secara khusus dan terlaksananya ujian kelas secara umum tanpa ada masalah besar.

Aku menulis ini sebagai pengingat bagi diriku sendiri untuk jasa mereka di kemudian hari ketika kami tidak bersama lagi di satu sekolah. Aku menulis ini sebagai pengingat bagi diriku agar aku terus berjuang memiliki karakter seperti mereka, menjadi pahlawan tanpa minta tanda jasa, menolong tanpa pamrih.


Sebuah anugerah & kehormatan mengenal orang-orang yang bersedia membantu tanpa pamrih walaupun mereka harus mengorbankan waktu dan juga tentu aktivitas mereka lainnya yang mungkin mereka sudah rencanakan. Ini adalah karakter yang mulia. Terima kasih Tuhan 

Comments