DI JERMAN AKU TIDAK MENYERAH

Di hari Minggu sore, tiba-tiba aku mendapatkan pesan melalui media Instagram dari salah seorang muridku ketika aku menjadi guru di Sekolah Dian Harapan. Benny, panggilannya tiba-tiba menyapa dengan bertanya, “apakah masih kenal saya?”

Saya langsung jawab, “tentu donk”. Dia tertawa. Lalu kami melanjutkan pembicaraan yang intinya mengapa dia tiba-tiba kirim pesan kepadaku karena dia sekarang bekerja di stand makanan milik satu temanku. Dan ternyata maksudnya dia adalah temanku yang ada di Jerman! Temanku yang sudah menikah dan tinggal di Jerman, sedangkan dia sekarang sedang kuliah di Jerman.

Dunia begitu sempit…terbukti lagi lewat komunikasiku dengan muridku dulu. Tetapi bukan hanya hal itu yang membuatku menulis artikel ini, tetapi ada dua hal menarik lainnya yang membuatku ditegur.

Sekolah Dian Harapan adalah sekolah yang mayoritas anak-anaknya adalah anak dari orangtua yang mampu, golongan menengah ke atas. Termasuk Ben. Tentu dengan begitu segala kebutuhan hidup bisa dipenuhi. Termasuk ketika ingin menguliahkan anaknya ke luar negeri, seperti Ben. Dia kuliah di Jerman dengan dukungan orangtuanya. Dukungan finansial untuk kuliah dan biaya hidupnya biasanya dikirimkan langsung tiap satu tahun.

Apa yang terjadi dengan Ben sehingga dia harus bekerja di stand makanan milik temanku? Pertanyaan itu yang aku tanyakan ke Ben.  Dan dia menceritakan dengan jujur keadaan orangtuanya. Dia mengatakan bahwa kondisi usaha papanya sempat “jatuh” dan mamanya pensiun kerja. Lalu dia akui bahwa di awal-awal kuliah dia sempat boros. Karena tahu kondisi dari orangtuanya, Ben memutuskan untuk mencari uang sendiri untuk biaya hidupnya. Dia jualan babi panggnang, ayam penyet dan ayam bakar madu. Sisa bahan dia gunakan untuk membuat makanan untuk dirinya sendiri. Ternyata makanan yang dia buat menarik perhatian temenku yang punya stand makanan sehingga dia mengajak untuk bergabung.

Salut. Aku mengatakan kata itu kepadanya. Dia yang berlatar belakang bercukupan, tidak otomatis manja dan tetap menuntut orangtuanya untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi dia cukup dewasa untuk mengasihi orangtuanya dengan cara berjuang sendiri untuk mendapatkan uang untuk biaya hidupnya. Walau jauh lebih muda dari aku, tetapi prinsip hidupnya sangat menginspirasiku.

Selain keputusannya untuk berjuang sendiri memenuhi kebutuhan hidupnya, keputusan dia untuk berjualan menunjukkan bahwa dia tidak melihat cepat menyerah dengan keadaan. Dia mencari cara yang tepat untuk melanjutkan perjuangannya demi masa depannya. Salut juga untuk sikapnya ini.

Aku berharap dan berdoa untuk Ben terus menjaga semangatnya dan Tuhan memberkati dia dan orangtuanya. Terima kasih Ben untuk inspirasimu.

Comments