KEEGOISAN TUHAN = KEEGOISAN JUAN?

Ritual setiap hari aku pulang dari kantor adalah disambut oleh Pangeran kecil kami dengan kata “Papa…papa…Papa…”. Dia sudah membuka gorden jendela rumah kalau sudah mendengar bunyi motor dan gerbang rumah dibuka.

Setelah aku parkir motor, sembari aku membuka semua perlengkapan berkendaraku, jaket, helm, penutup dada dan penutup hidung, dia sudah mengulurkan kedua tangannya sebagai tanda minta digendong dan dipeluk.

Dan seperti biasa, selalu dia berteriak-teriak sambil menunggu aku membereskan semua perlengkapanku. Dia lompat-lompat, lari kesana kemari karena dia mencari perhatianku.

Akhirnya aku gendong dia kemudian mencium dia dan juga tentu istriku. Dan mulailah dia untuk meminta aku tetap menggendong dia walau aku sebenarnya ingin membaringkan tubuhku sejenak.

Setelah puas digendong, dia biasanya meminta aku menemani dia bermain. Dia minta aku menemani dia main bola, melihat dia pencet-pencet tuts keyboard atau menemani dia petik-petik gitar. Ketika aku pindah ke kamar untuk baring-baring, selalu dia panggil aku lagi sambil menggerakkan tangannya, tanda menyuruh aku datang ke dia menemani dia bermain lagi.

Apapun alasannya, selalu Juan seperti tidak peduli karena dia akan ngotot agar aku bermain dengan dia. Jika aku tetap tidak bergerak, dia yang menghampiriku dan memegang tanganku serta bergerak ke tempat dia menaruh keyboard atau gitar atau ke ruangan tamu untuk main bola bersama.

BENTURAN KEINGINAN

Juan ingin aku menemani dia ketika dia bermain. Selama aku di rumah, dia ingin aku menghabiskan waktuku dengan dia. Di sisi lain, aku juga ingin istirahat, bersantai membaca koran atau juga mengerjakan tugas kuliahku.

Kata orang, kalau sudah berkeluarga, memang seharusnya waktu untuk diri sendiri akan banyak berkurang karena harus membagi waktu bersama dengan istri dan anak. Hal ini memang aku rasakan saat ini. Tetapi kata “harus” atau kata “secara alamiah” memang begitu tugas seorang suami atau orangtua agak mengganjal pikiranku ketika aku tidak benar-benar mengerti ada apa alasan “keharusan” itu.

Kata “keharusan” saja sudah menjadi perdebatan karena seolah melihatnya dari sisi cenderung negatif. Bahasa sederhanya dilihat seperti “beban”. Beban berarti sesuatu yang tidak diinginkan atau sebaiknya dihindari jika bisa memilih.

Keharusan adalah sebuah hal yang akhirnya menjadi konflik ketika ada keinginan yang berbeda dari masing-masing pihak. Keinginan yang berbeda “mengharuskan” salah satu harus mengalah jika tidak ingin ada konflik yang terjadi di depan mata, walau bisa jadi akan ada konflik di masa depan karena “keterpaksaan” mengalah. Benturan kepentingan menjadi hal yang sangat rawan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan sekarang atau di masa depan.

KEEGOISAN

Akhirnya benturan keinginan tersebut bersinggungan dengan keegoisan masing-masing pihak. Dalam hal ini berarti antara Juan dan aku sebagai ayah. Mungkin juga dalam situasi yang berbeda antara aku dan istriku, antara aku dengan teman-temanku, antara aku dengan orangtuaku dan seterusnya.

Apakah semua hal tersebut akhirnya hanya berlatarbelakangkan keharusan dan keegoisan masing-masing?

Apakah aku karena keharusan menjadi dasar aku tidak beristirahat atau bersantai tetapi lebih memilih dengan terpaksa menemani juan bermain?

Hal ini akhirnya mengajak aku kembali ke salah satu pertanyaan mendasar dalam hidupku, apakah aku terpaksa ketika mengikuti apa yang Tuhan mau dalam hidupku lewat segala firman Tuhan yang aku baca, renungkan atau dengar baik itu secara pribadi ataupun bersama dengan dan dari orang lain?

Apakah aku terpaksa ketika memilih tidak bermain futsal ketika ada hal-hal yang lebih penting harus aku lakukan seperti menjaga Juan yang sedang sakit atau istriku perlu diantar ke pasar?


Pada akhirnya lewat pengalaman menemani Juan, ada hal yang lebih berharga dari sebuah keharusan dan keterpaksaan yang membuat aku bisa memilih dengan sukarela tidak focus pada diri sendiri, yaitu KASIH.

KASIH TIDAK PERNAH EGOIS. Ketika kita mengasihi seseorang atau Tuhan, maka segala hal yang diinginkan orang tersebut, dengan segala kesadaran dan pemahaman mengapa harus melakukan itu, maka tidak akan ada rasa keterpaksaan atau keharusan.

Apakah aku sungguh-sungguh mengasihi Juan? Apakah aku sungguh-sungguh mengasihi Tuhan? Salah satu indikasi yang bisa menjadi dasar evaluasi adalah dengan melihat apakah dalam hidupku sehari-hari, aku lebih memilih melakukan apa yang aku inginkan dan itu bertentangan dengan keinginan Juan atau Tuhan atau sebaliknya.

Kasih sejati itu selalu berkaitan dengan penyangkalan diri, Tanpa ada keputusan mau menyangkal diri, maka selalu akan muncul keterpaksaan atau keharusan yang menjadi sebuah beban.


Lewat pengalaman bersama Juan pada akhirnya menarik aku untuk mengevaluasi bagaimana kasihku kepada orang lain dan Tuhan. Aku akhirnya malu pada diri sendiri ketika membuat daftar aktivitas atau pikiran atau perkataanku selama ini yang aku rasa lebih dominan memikirkan diri sendiri (baca: egois) daripada orang lain dan terutama Tuhan. Aku harus mengambil langkah nyata untuk tidak melakukan hal-hal tersebut lagi sebagai bentuk kasihku kepada orang lain dan Tuhan. Dalam keterbatasan dan kelemahanku, aku butuh penyertaan Tuhan saja dalam proses mengambil langkah nyata tersebut. Terima kasih Tuhan di ulang tahun ke-2 Juan Kau berikan pengalaman penting yang memberi pelajaran penting bagi hidupku.

Comments