AKU SEBENARNYA ADALAH DOKTER

Ketika aku kecelakaan parah tahun 2010 sehingga harus di ICU selama 3 hari, aku ditangani oleh beberapa dokter yang punya kemampuan sangat baik sehingga aku bisa pulih dari segala sakitku, termasuk bisa kembali berjalan. Ketika aku mencoba memotong semua rambut kepalaku tanpa sisa sehingga benar-benar botak, badanku bintik-bintik merah semua, ternyata karena masuk angin. Aku baru pertama kali mengalami masuk angin dengan tanda-tanda seperti itu. Dokterlah yang memberitahuku apa penyebabnya.

Beberapa waktu lalu, tiba-tiba terlintas dalam pikiranku, apakah semua penyakit yang diobati oleh dokter pernah dirasakan atau dialami sendiri oleh dokter tersebut? Mungkin jika penyakit-penyakit “ringan” seperti flu, batuk, demam, masuk angin atau sakit gigi pernah mereka alami. Tetapi bagaimana dengan penyakit parah seperti kanker atau HIV? Menurutku tidak 100% dokter pernah mengalami sendiri penyakit yang dia biasa tangani.

Lalu, bagaimana mereka bisa menangani penyakit yang belum pernah mereka rasakan sendiri? Bagaimana mereka mengetahui bahwa gejala-gejala yang dialami seorang pasien adalah gejala penyakit kanker? Atau penyakit HIV?

Segala sesuatu adalah sebuah trial and error serta tidak serta merta langsung mengetahui seluruh gejala dengan tepat. Sama seperti teknologi yang berkembang terus menerus, mulai dari tidak ada alat komunikasi, lalu ada telepon rumah, lalu ada handphone NOKIA “batu bata”, ketika jaman aku kuliah tahun 2000, Blackberry, serta sekarang Android Smartphone, di kedokteranpun, ada proses yang terus berkembang mengikuti jaman.

Lalu, apa maksudnya membahas hal ini? Aku bukan mau jadi dokter atau mau bermimpi Juan, anakku menjadi dokter. Aku hanya ingin sekali melihat bahwa segala sesuatu itu bisa dipelajari bukan harus segala sesuatu harus dialami.

Jadi, di sisi kehidupan yang lain, entah itu dalam pekerjaan, entah itu dalam pendidikan, atau tanggung jawab-tanggung jawab yang lain, selalu ada masa bernama proses dan selalu ada keharusan untuk belajar selama proses tersebut sehingga bisa melakukan tanggung jawab tersebut dengan sebaik mungkin.

Dokter yang malas belajar tentu tidak akan menjadi dokter yang pasiennya banyak karena dikenal pasti selalu bisa menyembuhkan penyakit setiap pasiennya. Tentu jika tarifnya murah jadi hal keuntungan tambahan..hehehe…

ORANG BARU
Ketika aku terlintas tentang profesi dokter ini, aku bertanya ke seorang rekan kerjaku yang kebetulan adalah orang baru dan sebelumnya belum pernah berkecimpung di dunia tanggung jawab pekerjaannya sekarang. Dialah yang menghubungkan analogi dokter yang tidak selalu mengalami semua penyakit yang dialami dengan pengalamannya pribadi sebagai karyawan baru.

Akhirnya aku sendiri sadar, kunci sukses melakukan tanggung jawab adalah kemauan keras untuk belajar, bukan untuk mencari pembenaran atau mencari dukungan orang lain untuk menerima “kualitas” hasil kerjaku yang sebenarnya punya kemungkinan besar untuk lebih baik lagi. Dan akhirnya itu adalah keputusan pribadi yang tidak bisa “diganggu gugat” oleh orang lain. Sistem atau orang lain bisa memberikan segala cara agar aku melakukan tanggung jawabku semaksimal mungkin dengan kualitas yang sesuai atau lebih dari standar yang diinginkan, namun semua itu akhirnya akan sia-sia jika diri sendiri tidak mau melakukan usaha-usaha yang sudah aku tahu sendiri harus dilakukan untuk itu.

Memang ada waktunya untuk beristirahat, refreshing atau waktu untuk diri sendiri, tetapi itu semua jangan sampai menjadi dominan dibandingkan waktu untuk belajar dan tentu juga waktu untuk melakukan segala hal yang berkaitan dengan tanggung jawabku.

Wah, aku sebenarnya adalah dokter di tanggung jawabku. Aku tidak harus pernah memiliki dasar atau pengalaman banyak untuk melakukan tanggung jawabku. Kuncinya adalah aku harus mau belajar.


Comments