MENGASIHI MUSUH DALAM SELIMUT

ANDI DAN THOMAS
Andi bekerja di sebuah perusahaan kontraktor sejak tahun 1992. Dia bekerja di tempat itu dengan pertimbangan bahwa perusahaan kontraktor tempatnya bekerja adalah dekat rumah dan memberikan gaji yang lebih baik dari tempat kerjanya yang sebelumnya.

Thomas adalah seorang karyawan baru yang bergabung sejak tahun 2002. Secara pengalaman dan pengetahuan, Thomas masih di bawah Andi. Andi sendiri sudah menjadi Supervisor di perusahaan tersebut sejak tahun 2000. Secara resmi, Thomas berada dalam satu departemen yang sama denga Andi sejak bergabung.

Andi adalah partner yang sangat baik menurut Thomas karena sebagai senior dan atasan, dia sangat welcome dan sangat peduli serta mau membagikan ilmu yang berkaitan dengan pekerjaannya. Thomas merasa sangat tertolong dalam bekerja karena bantuan Andi.

Andi dan Thomas menyukai hobi yang sama yaitu bermain Playstation. Setiap kali ada waktu ketika pulang kerja, mereka berdua sepakat untuk mampir ke Game Center untuk bertanding game Winning Eleven, game sepakbola kegemaran mereka. Mereka kadang mengajak teman-teman kantor yang lain yang punya hobi yang sama.

Seiring waktu, Thomas mengetahui bahwa Andi, sering sekali mengajak karyawan-karyawan se kantornya untuk mengikuti kepercayaan yang dia pegang. Ajakannya awalnya seperti bertanya-tanya tentang kepercayaan mereka, tetapi kemudian secara perlahan, mulai mengajak berdebat serta akhirnya mengajak karyawan-karyawan terutama yang baru dengan sikap yang cukup arogan dengan mengatakan bahwa kepercayaan yang dipegangnya adalah yang paling benar serta dan jika tidak mau percaya, maka akan terima konsekuensi negatifnya kelak.

Thomaspun sempat diajak berdiskusi tetapi akhirnya tidak berlanjut hingga ke arah yang lebih provokatif karena ada kejadian salah seorang rekan kerja akhirnya memilih mengikuti kepercayaan Andi. Ironisnya, sebelum ada berita tersebut, beberapa rekan kerja melihat bahwa Andi, yang sebenarnya sudah menikah selingkuh dengan rekan kerja yang akhirnya pindah kepercayaan tersebut. Dan sedihnya adalah, rekan kerja tersebut juga sebenarnya sudah menikah.

Singkat kata, setelah kejadian tesebut reda, Andi ternyata diam-diam masih terus “bergerilya” mencari mangsa agar rekan-rekan kerjanya pindah kepercayaan. Yang cukup mengherankan, dari 5 kepercayaan yang ada di kantor, hanya rekan-rekan kerja yang memiliki kepercayaan A yang “diserang” oleh Andi. Kepercayaan lainnya tidak sama sekali dia pernah ajak berdiskusi dan berdebat.

Thomas benar-benar terkejut dan benar-benar sedih serta cukup bingung dengan apa yang dilakukan Andi. Dia sangat senang dan sangat kagum serta sangat menghormati Andi karena pengalaman dan pengetahuannya, namun di satu sisi kecewa dengan sikap Andi yang “di belakang” seperti menusuk diam-diam dan akhirnya asumsi Thomas, ada pemaksaan dalam sikap Andi. Yang ada hanyalah sekedar strategi agar rekan-rekan kerja dengan kepercayaan A berpindah ke kepercayaannya. Padahal kepercayaan itu tidak bisa dipaksa atau terpaksa (Pdt. Albert Tan).

Yang membuat Thomas sendiri merasa bingung dan tidak habis pikir adalah, dalam kehidupan sehari-hari, Andi sering sekali melakukan hal-hal yang menurut Thomas tidak pantas dilakukan oleh orang yang sangat rajin melakukan segala rutinitas kepercayaannya. Andi sering sekali berkata kotor, sering sekali membahas tentang seks serta Thomas tahu dengan pasti bahwa Andi sangat benci dengan beberapa atasannya. Andi sendiri pun walaupun punya banyak pengetahuan dan pengalaman, cara kerjanya tidak menjadi teladan karena dia bekerja berdasarkan mood serta dia sendiri bekerja SKS (sistem kebut semalam) karena banyak waktu kerjanya dihabiskan untuk melakukan hal-hal yang bukan bagian dari pekerjaan seperti nonton youtube atau main game selain tiba-tiba menghilang pergi ke ruangan lain untuk sekedar ngobrol-ngobrol santai. Fenomena gaya kerja dan gaya hidup Andi sudah sangat kelihatan sejak dia bergabung di perusahaan tersebut tahun 2002.

Thomas jadi berpikir bahwa dalam kepercayaan Andi, kita boleh berbuat "semau gue" dalam kehidupan sehari-hari baik itu dalam bekerja (moody) dan dalam relasi (selingkuh, benci & sakit hati) asalkan kita rajin melakukan rutinitas kepercayaan kita serta menarik orang sebanyak-banyaknya untuk bergabung. Jadi nilai positifnya akan jauh lebih banyak dari nilai negatif kita (semau gue) sehingga tetap bisa dapat penghargaan abadi. Itu sangat berbeda dengan keyakinan Thomas yang secara singkat menyatakan bahwa segala apa yang diajarkan dalam kepercayaannya haruslah diterapkan secara benar dalam kehidupan sehari-hari entah itu dalam pekerjaan, dalam relasi atau dalam bidang-bidang kehidupan lainnya.

JAMAN DULU
Di jaman dulu, pernah ada kejadian yang hampir sama. Ada satu orang yang muncul menjadi primadona di mata masyarakat banyak. Ada banyak hal positif yang Dia lakukan ketika Dia menginjak dewasa. Orang-orang memujanya. Namun, ada sekelompok orang yang tidak suka dengan Dia karena dengan segala tindakan yang dilakukanNya, kelompok tersebut secara perlahan semakin terancam kedudukannya di mata masyarakat dan semakin banyak orang yang berani menentang segala kebijakan yang mereka buat.

Pada akhirnya, kelompok tersebut mengatur strategi agar Pribadi tersebut akhirnya dihukum mati. Mereka melakukan segala cara termasuk menyuap salah satu pengikut terdekatNya. Hasilnya, Pribadi tersebut akhirnya ditangkap dan dihukum sangat berat menurut ukuran jaman tersebut. Namun, sebelum Dia mati, Dia tidak membenci kelompok tersebut atau pengikut yang mengkhianati-Nya. Dia hanya mengatakan, “Tuhan, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.

BENCI ITU MANUSIAWI
Kalau kita tidak dekat dengan orang-orang yang tidak suka dengan kita, maka dengan mudah kita melupakan apa yang mereka lakukan atau bersikap tidak peduli. Namun, jika orang-orang tersebut adalah orang-orang yang sangat dekat dengan kita, apa yang biasa dan normal dan manusiawi dilakukan? BENCI! Pembenaran akhirnya muncul. Benci itu manusiawi
Namun apa yang dilakukan Thomas dan juga yang dilakukan Pribadi yang mati karena kebencian sekelompok orang? TETAP MENGASIHI Andi dan kelompok orang tersebut.

Dalam ketidaksempurnaan manusia, maka tidak mungkin bisa muncul sikap tersebut. Hanya jika mengundang Allah menjadi pengatur hati dan sikap sajalah aku bisa meneladani Thomas dan Tuhan Yesus yang memilih tetap MENGASIHI MUSUH DALAM SELIMUT. Mengasihi itu memberikan kualitas kebahagiaan dan damai sejahtera tingkat tinggi.


Doaku tiap hari adalah Tuhan kiranya kasihMu yang mengasihi tanpa batas selalu hadir dalam hatiku apapun kejadian atau orang yang aku harus temui hari ini#refleksiNatal

Comments