LOMBA 5 K KEHIDUPAN

Bulan November 2015, aku mengikuti pertama kalinya lomba lari 5 kilometer yang diadakan oleh grup perusahaanku. Lokasinya di kantorku di Serpong. Lomba tersebut dilakukan dalam rangka acara tahunan Pekan Olahraga dan Seni yang ke-12. Satu malam sebelum lomba tersebut, aku baru saja ikut bertanding futsal mewakili kantorku masih dalam bagian acara tahunan tersebut. Aku bertanding di Jakarta dan baru sampai rumah jam 11 malam. Selanjutnya jam 04.30 pagi aku langsung berangkat ke tempat lomba.

Aku memutuskan untuk mengikuti lomba lari tersebut karena aku sudah lama sebenarnya penasaran dengan lomba lari terutama 5K yang semakin sering diadakan oleh beberapa instansi. Teman-teman kantorku ada yang pernah ikut juga lomba sejenis. Motivasiku juga ingin ikut karena mau menguji daya tahan tubuhku ketika ketika berlari.

KECEPATAN + DAYA TAHAN
Hari Minggu pagi, aku datang bersama istri dan anakku. Ceritanya sekalian kita refreshing bersama sesekali. Istriku dan anakku bisa menikmati sekolah tempat kerjaku yang cukup luas dan ada tempat bermainya. 

Ternyata, bos-bos kantorku juga ikut berlomba selain para guru di tempat kerjaku. Namun, aku lihat tidak ada satupun anggota tim futsalku yang ikut bertanding. Mereka hanya menjadi panitia. Dan ternyata, lomba 5K tersebut artinya mengitari sekolah tempatku bekerja sebanyak 4x bukan 3x. Aku mendapat informasi yang salah.hahahaha...

Aku sebenarnya cukup percaya diri karena melihat bahwa aku suka bermain futsal sehingga bisa menjadi nilai plus. Jujur aku tidak tahu kemampuan berlari peserta-peserta lain dari lomba ini. Aku merasa ya aku bisa bersaing untuk berada di urutan depan.

Awal yang baik aku lakukan dengan langsung berlari di rombongan depan. Ada satu rekan kerja di departemen Maintenance & Engineering serta beberapa guru yang kukenal selain beberapa peserta lain dari kantor perusahaanku yang di Jakarta. Aku dari awal memasang target 10 besar karena aku tahu bahwa hanya peserta yang finish 10 besar yang mendapat hadiah kaos dari panitia.

Namun, perlahan tapi pasti, aku semakin kelelahan dan akhirnya semakin tertinggal dari pelari paling depan. Dalam hati aku melakukan kalkulasi berapa orang yang di depanku. Aku terus berjuang untuk berlari agar mempertahankan urutan di 10 besar. 

Karena begitu lelahnya, aku sering berhenti berlari dan berjalan cepat saja. Ketika ada pelari yang mendekat, aku lalu lari lagi untuk menjauh. Itu strategiku. Namun strategi itu tidak cukup menolong karena aku tetap tidak mampu memprtahankan posisi dari beberapa pelari yang awalnya tidak masuk kelompok depan ketika start tetapi secara konsisten terus berlari hingga bisa melewati aku, termasuk satu orang bos dari grup perusahaanku.

Setelah melewati 2 lap, aku sudah benar-benar kehabisan tenaga dan berpikir untuk menyerah saja dan mulai berpikir mencari pembenaran bahwa aku tidak apa-apa menyerah karena mereka tahu bahwa aku semalam baru saja bertanding futsal, Mereka pasti memaklumi alasanku untuk tidak melanjutkan lomba, kata batinku.Namun, aku akhirnya tidak memutuskan untuk berhenti. Aku tahu bahwa aku masih 10 besar dan aku menjaga ritme lariku dengan sisa tenagaku agar tetap bisa mempertahankan posisiku. Aku benar-benar sadar bahwa selain kecepatan, aku juga harus memiliki daya tahan. Dan semuanya itu aku akui benar-benar jauh di bawah perkiraanku. Aku tidak mampu bersaing di kelompok depan. Awalnya aku di depan tetapi akhirnya aku terus melorot posisinya karena tidak memiliki konsistensi daya tahan tubuhku.


LATIHAN 60 LAP PER MINGGU
Yang menjadi pemenang lomba di kategori pria adalah seorang guru asal India di sekolahku yang setelah perlombaan aku diberitahu bahwa dia selama ini ternyata selalu setiap minggu latihan lari di lintasan lari sekolahku sebanyak 60 putaran! Wow. Pantas saja dia menang dengan telak dariku sampai melakukan overlap pada diriku...luar biasa. Dia jelas sekali jauh lebih siap dari aku sebelum perlombaan ini dimulai.

Dalam perkerjaanku, aku diberikan tanggung jawab baru. Lebih tepatnya dirotasi. Selama ini aku bertanggung jawab di area TK SD, sekarang aku bertanggung jawab di area SMP SMA, terutama dalam hal ujian sekolah.

Nah, tantangan pertama adalah Ujian Akhir Semester 1 yang berlangsung sejak tanggal 30 November 2015 hingga tanggal 14 Desember 2015. Aku harus mempersiapkan produksi soal-soal ujian selain juga mengatur penentuan guru-guru yang mengawas setelah disetujui jadwal ujian oleh Wakil Kepala Sekolah.

Tenyata, area SMP SMA benar-benar jauh lebih kompleks dan sulit daripada area TK SD. Aku benar-benar semakin memahami kondisi rekan kerjaku yang selama ini menjadi penanggung jawab di area tersebut. Benar-benar memang tidak mudah dan sangat-sangat penuh tantangan.

Tantangannya adalh selain bagaimana mengatur jadwal ujian, sekarang aku dalam proses bekerjasama dengan departemen IT membuat sistem komputer yang bisa membantu proses penentuan pengawas yang selama ini dilakukan secara manual.

Ternyata proses tersebut sangat rumit dan butuh ketelitian. Selain itu, aku masih harus melakukan produksi soal-soal ujian. Selam ini, aku hanya fokus pada proses produksi dan yang menentukan jadwal pengawas adalah bagian divisi lain. Sekarang kerja 2 orang diberikan kepada 1 orang dengan kondisi waktu yang sangat tidak panjang.

Akhirnya, aku sering sekali pulang malam jauh dibandingkan ketika aku masih mengurus area TK dan SD. Benar-benar aku juga dituntut teliti selain bisa berkomunikasi dengan baik untuk berkoordinasi maksimal dengan departemen IT. Sebuah tantangan yang tidak mudah. Dalam prosesnya, banyak sekali hal yang aku harus koreksi karena ada hal-hal yang masih belum sempurna.
Kondisi fisik dan pikiran yang sangat terkuras memberikan kesempatan yang luar biasa untuk melakukan kesalahan. Belum lagi pikiran yang terbagi dua antara produksi dan penentuaan jadwal pengawas. Beban kerjanya cukup besar karena sistemnya belum ada alias aku terlibat dalam proses penciptaan sistem, bukan sekedar tinggal melanjutkan atau menggunakannya.

5K KEHIDUPAN
Ada momen di mana aku benar-benar down dan merasa bahwa sepertinya selalu ada aja kesalahan yang aku lakukan. Sebuah masa di mana aku merasa bahwa tantangan benar-benar aku rasa bukan menjadi hal yang sanggup aku hadapi. Aku mulai berpikir untuk mencari alasan yang tepat agar tanggung jawab tersebut pada akhirnya bukan aku yang memikulnya. Rasanya aku bukan orang tepat untuk tanggung jawab tersebut.

Aku sadar bahwa pengalamanku di area TK dan SD membuatku awalnya cukup percaya diri ketika ditunjuk menjadi penanggung jawab area SMP dan SMA. Aku merasa bahwa aku bisa memenuhi harapan padaku dalam area tersebut. Namun ternyata itu tidak cukup.

Pada akhirnya aku menyadari bahwa tanggung jawabku ini adalah ibarat lomba lari 5K yang aku ikuti. Garis finishnya belum selesai, tetapi aku sudah mulai kehabisan bensin dan berpikir untuk menyerah.

Lomba lari 5K yang aku ikuti menjadi cara Tuhan untuk selalu mengingatkanku untuk tidak menyerah hingga garis finish sesuai dengna targetku di awal. Aku benar-benar terus diberikan kekuatan baru, disegarkan ketika rasa lelah menghinggapiku dengan mengingat pengalamanku ketika mengikuti lomba lari 5K. Aku harus tetap bertahan sampai mencapai garis finish

Apapun tanggung jawab yang diberikan padaku di masa depan, momen pengalaman mengikuti lomba lari 5K sudah tentu menjadi memori yang selalu aku ingat agar walaupun tantangannya tidak semudah yang aku bayangkan, aku TIDAK MENYERAH. Aku harus terus berjuang semaksimal mngkin sampai mencapai garis akhir. Terima kasih Tuhan untuk pelajaran penting yang Kau berikan lewat lomba lari 5K. Terima kasih.




Comments