OCTOBER PAIN

Bulan September lalu seingatku dua kali hujan turun membahasi rumahku. Untuk bulan Oktober, sampai akhir bulan aku menulis artikel ini, belum ada turun hujan lagi di rumahku. Sebuah kesedihan yang berkepanjangan karena banyak sekali daerah yang kekeringan bahkan akhirnya akibat pembakaran hutan, asap menjadi bencana yang cukup parah di beberapa daerah seperti Sumatera dan Kalimanta. Tidak ada October Rain seperti lagu yang dinyanyikan Roy Kim

Bulan Oktober adalah bulan yang ternyata sangat padat dengan kegiatan dan hal-hal yang perlu dipikirkan lebih dalam. Aku selalu berpacu dengan waktu setiap hari sehingga seperti tidak pernah benar-benar mengistirahatkan pikiranku dan tubuhku. Dari akhir September hingga awal Oktober ada Ujian Tengah Semester (UTS) Kelas 3 – 6 SD dan aku menjadi Penanggung jawab untuk produksi soal-soal ujiannya dan ditambah dengan tanggung jawab untuk mengatur jawab guru-guru yang mengajar. Nah, tanggung jawab terakhir ini adalah adalah tanggung jawab yang benar-benar baru dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Sehabis UTS SD, lanjut lagi UTS SMP dan SMA. Memang bukan aku yang bertanggung jawab, tetapi aku tetap harus mendukung karena itu rekan satu divisiku. Persiapannya lebih kompleks daripada persiapan ujian SD.

Bersamaan dengan persiapan UTS SMP SMA, aku juga harus menyelesaikan banyak tugas-tugas kuliahku. Ada mata kuliah yang harus mapping jurnal internasional sebanyak 15 jurnal. Satu mata kuliah lain 10 jurnal. Tugas mapping jurnal itu dimulai dengan mencari jurnal-jurnal berbahasa Inggris, kemudia membuat resume-nya, mulai dari tujuan, hipotesis, metode penelitian, sampel, hingga hasil penerlitaian. Tidak semudah yang dibayangkan jika belum pernah melihat jurnal-jurnal ilmiah serta keterbatasan waktu yang ada.

Selain itu aku harus siapkan materi-materi presentasi beserta makalahnya untuk 3 mata kuliah. Semua deadline-nya di Oktober, November dan Desember. Dan aku juga di dua minggu terakhir bulan Oktober tiap Sabtu dan Minggu harus mengikuti UTS di kampusku. Di tengah segala padatnya aktivitaskut, aku juga mendengar kabar bahwa atasan dari divisiku, temanku Ratna, mengajukan pengunduran diri dan tanggal 16 Oktober lalu terakhir dia bekerja.

MAAG KARENA STRES
Tantangan terbesar adalah waktu sepertinya tidak cukup satu hari itu 24 jam. Istirahatpun menjadi berkurang. Aku tidak bisa melupakan keluargaku apalagi melupakan waktu bersama dengan Tuhan.  Mungkin hal ini pernah dirasakan oleh orang lain. Atau sudah biasa bukan hanya sesekali dan sudah kebal. Di tengah periode UTS SMP SMA, aku tiba-tiba sakit perut yang bukan sakit perut biasa yang pernah aku alami. Aku merasa melilit di perutku. Jadi aku ijin pulang dan periksa ke dokter di sore hari. Ternyata aku sakit maag. Aku sakit maag bukan karena terlambat makan tetapi karena stres.

Padatnya aktivitas bukan hanya menguras tenagaku, tetapi juga menguras pikiranku. Aku juga baru sadar bahwa sudah sejak September aku jarang sekali olahraga, hanya sempat lari keliling perumahan tempat tinggalku tiap Sabtu atau MInggu pagi. Tetapi hal itu tidak terlalu rutin. Yang menjadi pergumulan tambahan adalah Juan beberapa kali sakit sehingga dia harus dibawa ke dokter.

Kesibukan membuat hal-hal yang menjadi rutinitas penting menjadi sesuatu yang tidak penting atau seperti dilakukan seadanya yang akhirnya tidak memberi dampak positif bagi diriku. Kualitas saat teduhku setiap pagi aku akui sangat menurun di dua bulan terakhir, September dan Oktober karena pikiranku dipenuhi dengan segala hal yang aku sebutkan di atas. Rasanya ingin sekali cepat berlalu  akhir tahun ini.

Di pertengahan Oktober, aku bersama keluarga besarku, ditambah 3 orang teman gereja berangkat ke kampung halaman papaku di Rote untuk mengikuti pernikahan adik sepupuku.  Selama satu minggu aku mengambil cuti. Untuk pertama kali istriku dan anakku pergi ke Pulau Rote. Sebuah kesempatan yang memberikan kepadaku waktu untuk lebih banyak beristirahat dari pekerjaan tetapi tetap harus mengerjakan tugas-tugas kampus sehingga waktu istirahatkupun tidak terlalu banyak.

Mengakhiri bulan ini sepertinya mengakhiri bulan yang tidak diinginkan walau seharusnya bulan ini adalah bulan yang speSal karena bulan ini aku merayakan ulang tahun pernikahanku yang ketiga serta ulang tahun istriku yang hanya berbeda satu hari, tanggal 26-27 Oktober. Kami tidak merayakannya dengan sebuah acara spesial kecuali doa bersama dan aku membeli makanan ringan serta hadiah sederhana untuk istriku.

Ketika aku menulis artikel ini, aku berada dalam satu kondisi bahwa pikiranku belum bisa benar-benar beristirahat karena adanya tantangan-tantangan dalam pekerjaan selain tugas-tugas kuliah yang sudah mendekati deadline satu minggu ini.

Aku sempatkan menulis ini karena tidak terasa aku sudah hamper mengakhir bulan Oktober tahun 2015 dengan satu fakta aku masih hidup dan diberi kesempatan menyadari bahwa segala situasi yang aku alami menunjukkan bahwa hidupku adalah hidup yang dinamis, tidak membosankan serta mencegah aku untuk menyombongkan diri.

MENGAPA ENGKAU TAKUT? MENGAPA ENGKAU TIDAK PERCAYA?
Aku mengatakan hal ini karena pengalamanku di bulan Oktober tahun ini berbeda dengan pengalamanju di bulan Oktober tahun lalu. Segala sesuatu yang kualami saat ini menunjukkan bahwa tiap bulan, tiap tahun, bahkan sebenarnya tiap hari, Dia memberikan banyak pengalaman yang memberikan aku pelajaran-pelajaran baru dan “harddisk” pikiranku semakin penuh dengan file-file pelajaran hidup yang aku bisa buka dan bagikan kepada orang lain di masa depan.  Tidak ada yang sama dan aku tidak bisa mengandalkan segala pengalamanku serta karakterku saja untuk melewati tantangan di bulan Oktober ini. Aku menyadari bahwa aku membutuhkan campur tangan Penciptaku untuk bisa merespon dengan tepat dan benar setiap tantangan. Aku sadar aku jatuh bangun tetapi selalu pada akhirnya Dia menopangku untuk meyakinkanku bahwa segala sesuatu yang aku harus alami di bulan ini akan sangat bermanfaat di masa depan.

Beberapa hari lalu aku saat teduh dari satu kisah di Alkitab yang sudah biasa aku dengar sejak kecil di Sekolah Minggu, yaitu para murid yang ketakutan ketika di dalam perahu di tengah laut terjadi badai, dan mereka merasa Tuhan Yesus tidak peduli dengan keadaan mereka dan menragukan kuasaNya, padahal mereka sudah sering melihat mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya. Tuhan Yesus merespon pertanyaan mereka dengan mengatakan, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”(Markus 4:40). Perkataan Tuhan Yesus itu juga diajukan kepadaku, merespon segala keluh kesah hatiku yang tidak kuungkapkan langsung kepada-Nya. Aku begitu banyak kekhawatiran dan terlalu mengandalkan diriku sendiri yang begitu lemah dan terbatas ini dalam menghadapi banyak hal sepanjang bulan ini.

OCTOBER PAIN = OCTOBER GAIN
Memang segala sesuatu belum selesai secara tuntas di akhir bulan Oktober ini. Masih banyak hal yang aku harus lakukan dan pikirkan. Bahkan bisa dikatakan hingga akhir tahun ataupun akhir tahun ajaran. Namun dalam segala kondisi tersebut, aku ingin terus menjaga imanku bahwa segala sesuatu yang aku harus hadapi adalah cara Allah membentuk diriku menjadi pribadi yang lebih baik. Doaku, Tuhan mampukan aku terus melihat segala sesuatu dari sudut pandang iman bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkanku sendirian dan Dia selalu mengijinkan banyak hal terjadi pada hidupku karena Dia memiliki rencana yang indah.

Aku rindu melihat hidupku di akhir tahun ini seperti seorang fotografer melihat obyek dari sudut pandang yang paling bisa memberikan foto terindah. Aku ingin melihat hidupku dari sudut pandang yang iman pada Allah yang selalu merancangkan hal-hal yang indah bagi hidupku, bukan rancangan buruk, rancangan kecelakaan sehingga aku bisa mengatakan October Pain adalah October Gain. Amin


Comments