SUDAH “PAKET”NYA PAK

Ketika sarapan pagi di kantor, ada kesempatan aku bercengkerama dengan beberapa rekan kerjaku. Satu waktu aku makan bersama dengan seorang rekan kerja yang tahun menikahnya sama dengan tahun menikahku, 2012. Satu bapak ini adalah pribadi yang rendah hati dan semangat belajar. Ketika aku menulis artikel ini, dia sedang dalam proses menyelesaikan tesisnya. Selama dia kuliah, ada banyak ketidakidealan dalam proses belajar mengajar di kampusnya, sehingga dia berinisiatif untuk membuat forum diskusi untuk membahas banyak hal yang berkaitan dengan materi kampus.

Hidupnya penuh dengan banyak pengalaman yang menunjukkan bagaimana kasih karunia Allah tidak pernah habis dalam keluarganya. Dalam segala keterbatasan finansial, ada banyak cara yang luar biasa membawa dia akhirnya bisa mengenyam pendidikan yang tinggi. Ada saja cara Allah mencukupkan kebutuhan dia dan keluarganya di masa-masa sedang membutuhkan dana yang tidak kecil. Namun satu hal penting yang jadi pelajaran bagi saya adalah keputusan dia bahwa lewat segala pengalaman hidupnya itu, dia tidak ragu-ragu untuk mendukung orang lain. Istilah manis pahitnya kehidupan sudah dia banyak rasakan dan lewat bagaimana cara dia menyampaikan cerita hidupnya membawa aku bisa melihat bagaimana dia begitu memiliki iman akan penyertaan Allah dalam hidupnya ketika dia juga melakukan hal-hal yang tidak bertentangan dengan kebenaran-Nya.

Dalam kehidupan keluargapun, ada tantangan yang tidak mudah dalam kondisi perbedaan umur walaupun tidak jauh dengan istrinya, yaitu 4 tahun. Masing-masing memiliki karakter yang berbeda dan dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda pula. Ada banyak penyesuaian yang harus mereka lakukan satu sama lain. Tetapi prinsipnya aku suka. Intinya dia tidak ingin merubah istrinya, namun mau mendukung istrinya agar semakin memahami hal-hal prinsip yang bisa menjadi kebiasaan yang baik dalam sebuah keluarga dengan menyadari tanggung jawab masing-masing. Caranya mendukung istrinyapun sesuai dengan karakternya yang menggunakan gaya tidak secara langsung dan bahasa yang kasar. Yang terpenting pesan disampaikan dengan jelas dan memberi kesempatan istrinya bisa memahami dan menyetujui prinsip yang disampaikan lewat pesan tersebut. Sebuah kehidupan yang menginspirasiku. Dalam usia yang lebih muda dariku, aku merasa kedewasaannya jauh di atas diriku.

HARGA DIRI ORANGTUA
Pada kesempatan lain, aku diberika kesempatan sarapan bersama dengan rekan kerja lain yang lebih senior usianya dibandingkan aku. Seorang wanita. Kami biasa memanggilnya Tante, karena di antara sesama staf lainnya, usianya yang paling berbeda dari kami. Lumayan jauh bedanya di atas kami.

Dalam kesempatan tersebut dia menceritakan sedikit tentang kehidupan rumah tangganya. September 2015, sudah 14 tahun dia berumah tangga. Yang mengejutkan adalah selama 12 tahun berumah tangga, suaminya dikarenakan pekerjaan, hanya pulang seminggu sekali. Tante masih bekerja sampai saat ini dan mengurus kedua anaknya dengan baik. Dalam segala kondisi yang sepertinya tidak ideal tersebut, pengenalan akan suami dan begitu sebaliknya sangat baik sehingga mendukung langgengnya rumah tangga mereka. Pengenalan yang baik bukan berarti selalu menyetujui segala keputusan satu sama lain ataupun tidak pernah ada konflik di antara mereka. Ada masa-masa ketengangan di antara mereka sampai saat ini.

Mundur ke belakang, ketika belum menikah, ada banyak pengalaman yang membawa satu keputusan yang penting dalam hidup Tante bahwa pilihan satu-satunya adalah laki-laki yang menjadi suaminya sekarang. Pengalaman-pengalaman hidup dengan segala karakter tante yang sudah juga merasakan pahit manis kehidupan jauh sebelum menikah membuat dia menjadi pribadi yang tangguh dan apa adanya. Ketika muncul ketidakpuasan atau ketidaknyamanan dengan segala ketidakbenarannya, dia menyampaikan apa adanya, termasuk ke suami ataupun Tuhan.

Namun, dalam segala kondisi pahit manis dalam hidup sebelum dan ketika sudah menikah, tidak pernah ada satu pikiran untuk berpisah ketika konflik terjadi dengan suami. Komunikasi dan saling memahami adalah satu kunci yang dia pegang selain dengan satu ajaran penting dari keluarga bahwa harga diri orangtua adalah satu hal yang harus dijaga di manapun berada.

GOMBAL
Cerita kedua rekan kerjaku di atas seakan memberi penegasan lebih dalam tentang pengertian MENCINTAI dan MENGASIHI. Kedua kata ini menjadi kata-kata yang mendominasi pikiranku. Ketika aku menulis artikel ini, di masyarakat terutama anak muda, sedang booming permainan kata berkaitan dengan cinta. Contohnya, “menantu yang baik itu adalah tentara, negara aja dijaga sampai rela berkorban, apalagi hatimu”. Masih banyak kalimat lain yang begitu gampangnya ditemukan lewat mbah google. Istilah yang digunakan untuk semua kalimat tersebut adalah kalimat gombal.

Berbicara mengenai gombal tentu berbicara mengenai ketidakseriusan dalam hal mencintai dan mengasihi. Gombal selalu identik dengan cinta atau kasih palsu. Nah, ada banyak dari anak muda yang ketika sedang jatuh cinta karena “emosi sesaat” akhirnya menggunakan kalimat-kalimat gombal untuk menaklukkan lawan jenisnya. Namun, seiring waktu akhirnya karena sekedar emosi sesaat, akhirnya menjauh dari lawan jenis yang sebelumnya dia taklukkan dengan kalimat gombalnya.

Mencintai dan mengasihi seseorang itu bukanlah sebuah keputusan yang mudah dan sepele. Mencintai dan mengasihi orang lain itu tidak sama dengan keputusan untuk memilih makanan untuk makan siang, di warteg atau di restoran fast food. Keputusan mencintai dan mengasihi adalah sebuah keputusan yang tanggung jawabnya juga tidak sembarangan. Keputusan ini adalah keputusan yang memberi dampak pada bagaimana bersikap kepada orang lain.

Masalahnya, ada banyak yang menganggap cinta kasih adalah hal yang sepele. Makanya ada istilah gombal. Akhirnya, ada banyak sakit hati, kekecewaan atau bahkan sebuah penyesalan yang membuat orang melakukan hal-hal nekat selain mungkin juga adanya perceraian dalam sebuah rumah tangga.

Aku suka satu istilah tante, “Sudah paketnya Pak”. Ketika memutuskan untuk menikah, maka tante dengan sadar mengetahui segala karakter dan kebiasaan suaminya dan mengatakan bahwa memang sudah “paketnya” dari Tuhan suami saya dan saya terima itu. Saya tidak bisa memilih paketnya. Dan akhirnya aku sadar bahwa manusia itu semuanya merupakan “paket” yang tidak mungkin sempurna. Masing-masing ada kelebihan dan kelemahannya masing-masing.

Mencintai dan mengasihi itu adalah sebuah keputusan yang tidak bisa menjadi sesuatu yang dipermainkan, termasuk ketika dalam hal relasi dengan Allah. Mencintai dan mengasihi Allah itu bukan sesuatu yang sembarangan. Dia adalah Penciptaku. Aku tidak boleh juga gombal kepada Allah. Aku jadi seperti tertampar, begitu banyak nyanyian yang aku mainkan dengan gitar aku nyanyikan dalam ibadah liriknya adalah lirik yang menunjukkan rasa cinta dan kasih kepada Allah namun aku sendiri tidak sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi-NYa.

Mencintai dan mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh, sama seperti mencintai dan mengasihi istriku, ditunjukkan bukan dengan sekedar kata-kata tetapi dalam perbuatanku sehari-hari. Begitu banyak kebiasaan dan karakterku yang masih bertolak belakang dengan kehendak-Nya. Kalau Tuhan itu manusia, maka sudah panjang daftar kekecewaan-Nya padaku karena aku gombal.

Oleh karena itu, mencintai dan mengasihi orang lain dan Allah adalah sebuah keputusan yang tidak bisa ikut-ikutan dan perlu diambil dengan kesadaran bahwa ketika memutuskan mengasihi dan mencintai itu selalu bergandengan dengan tanggung jawab untuk menghargai pribadi-pribadi yang kucintai dan kukasihi. Selain itu, keputusan itu harus dengan kesadaran bahwa tidak ada yang sempurna dalam setiap pribadi manusia serta harus siap menerima “paket”nya karakter dan kebiasaan orang yang kucintai dan kasihi. Ketika memutuskan mencintai dan mengasihi Allah, maka ketaatan pada kehendaknya adalah bagian dari tanggung jawabku pada keputusanku.

Terima kasih Tuhan untuk pelajaran penting yang Kau ingatkan lewat pengalaman hidup orang-orang yang luar biasa.




Comments