REVISI SEUMUR HIDUP

"Terlalu banyak hal yang bisa membuat diriku sebagai pribadi yang sudah berkeluarga, apalagi sebagai kepala rumah tangga menjadi khawatir sekarang."

Ketika menapaki kehidupan berkeluarga, secara sadar atau tidak sadar, target sebuah keluarga adalah kemapanan. Jika kehidupan sebelum berkeluarga sudah mapan, tentu sangat lebih baik. Pengertian mapan dalam arti memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang bukan hanya cukup untuk seorang diri, namun bisa ditabung bahkan bisa mencicil beli rumah. Kemapanan adalah salah satu kondisi yang paling dicari wanita pada seorang pria. Kondisi mapan = kondisi ideal. Kondisi ideal itu seperti apa? Mungkin konsep ideal itu selalu karena kita membandingkan kondisi kita dengan kondisi orang lain. Ketika segala sesuatu belum mapan, berarti tidak ideal. Tetapi apakah selalu ideal itu berarti mapan?

Kemapanan adalah sebuah kondisi yang memang menjadi idaman semua orang, termasuk aku. Aku tidak munafik bahwa aku sangat menginginakan kondisi yang mapan. Tetapi, kemapanan itu apakah menjadi tujuan akhir dari sebuah hidup? Bagiku secara pribadi, kemapanan bukanlah sebagai tujuan akhir, Ada hal yang lebih penting daripada sebuah kemapanan, yaitu apakah hidupku sudah memuliakan nama Tuhan dan berjalan sesuai dengan rencana Tuhan? Hidup yang ideal menurutku adalah hidup yang sesuai kehendak dan rencana-Nya, karena kita ini buatan Allah. Ada rencana indah dalam hidup setiap manusia, seperti yang dijelaskan dalam ayat Kitab Yeremia, "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancanang apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan"(Yeremia 29: 11)

Nah, ini menjadi salah satu topik yang tidak akan bisa selesai beradu pendapat karena masing-masing orang memiliki prinsip yang berbeda. Itu adalah hak masing-masing pribadi. Ketika membaca kalimat-kalimat awal tulisanku ini, mungkin menjadi tidak semangat membaca selanjutnya. Itu wajar. Namun, jika boleh memberi sedikit saran, penjelasan di awal ini tidaklah menjadi dimengerti seutuhnya jika tidak membaca tulisanku sampai akhir. Anggaplah tulisanku adalah sekedar memberikan warna yang berbeda karena melihat dari sudut pandang yang berbeda dari yang dirimu pegang. Semakin kaya dirimu akan sudut pandang yang berbeda. Jadi membacanya sampai akhir. :)

BERGUMUL = TIDAK BERSYUKUR?

Dari sudut pandang kemapanan, yang kusebutkan di paragraf pertama tulisan ini, keluargaku bukanlah keluarga yang ideal. Segala standar mapan tersebut belum dicapai keluargaku, Masa sekarang adalah masa perjuanganku untk melawan satu hal godaan yang bisa jadi dianggap biasa, yaitu kekhawatiran. Semua pertanyaan kehidupan adalah pertanyaan kekhawatiran bukan pertanyaan perencanaan. Bisa jadi karena kekhawatiran, akhirnya memang membuat perencanaan, Tetapi perencanaan karena khawatir yang berlebihan selalu tidak pernah ada damai sejahtera. Jujur, kadang-kadang ada rasa down ketika melihat kehidupanku dengan membandingkan kehidupan teman-teman seusiaku atau bahkan lebih muda, namun sudah mendapatkan kemapanan di dalam kehidupannya. Merencanakan apapun menjadi sebuah hal yang akhirnya sekedar mimpi karena terbentur ketidakmapanan.

Dan di saat itulah menjadi godaan untuk meragukan kebenaran firman Tuhan dan memilih untuk mengalihkan tujuan hidup untuk mencari kemapanan. Tujuan hidupku yang lebih spesifik itu apa? Sebuah pertanyaan lain yang tidak mudah mendapatkan jawabannya. Lalu, pertanyaan lain, apakah tetap ada cara Tuhan mengembalikan aku ke jalurnya ketika ternyata karena keterbatasan dan kelemahanku aku mengambil keputusan-keputusan yang salah sehingga memberikan banyak konsekuensi negatif dan akhirnya sepertinya kehidupan keluargaku tidak berjalan dengan semestinya alias penuh dengna masalah? Kekhawatiran untuk salah mengambil keputusan pun bisa muncul. termasuk pertanyaan, "apakah tepat aku bekerja di sini?"

Jika melihat hanya dari sisi belum idealnya kehidupanku berdasarkan standar umum kehidupan di dunia, maka akhirnya sangat wajar yang ada hanyalah hidup yang penuh dengan stres. Pada tingkat-tingkat tertentu, kemurungan adalah hal yang wajar dilihat dari wajahku. Dominasi pikiran negatif ada dalam pikiranku. Dan akibatnya, semangat untuk berpikir kritis & analitis menjadi menurun. Segala sesuatu dikerjakan menjadi suatu rutinitas tanpa semangat. Sepertinya aku adalah pribadi yang paling banyak mendapatkan masalah berat. Hal-hal di atas adalah godaan yang paling sering muncul setiap harinya dalam kehidupanku.

Namun, dalam proses waktu, aku belajar lebih adil melihat dan menilai kehidupanku lebih adil. Adil maksudnya adalah bahwa dalam kehidupan selalu memang ada masalah dan tantangan dalam setiap tanggung jawab, namun ada juga banyak hal-hal yang bisa menjadi ucapan syukur. Hal ini bisa membawa aku merespon kehidupan dengan lebih tenang dan bijaksana.

Dalam segala ketidakmapananku sekarang, aku memiliki keluarga yang luar biasa mengasihiku dan terus mendukungku, termasuk juga istriku. Aku dalam keterbatasanku, bisa mendapatkan pengalaman bisa kuliah lagi. Dalam ketidakmapananku, aku masih diberikan pekerjaan yang sangat menantang dan aku pribadi terus aku eksplorasi karena aku melihat masih banyak hal yang Tuhan bisa lakukan untuk membawa perubahan positif terus menerus pada tempatku bekerja dan pada diriku sendiri. Aku memiliki teman-teman yang luar biasa, baik itu dalam lingkungan kerja maupun lingkungan kuliah. Aku diberikan kesempatan menikmati persekutuan dalam sebuah gereja yang sangat mendukungku untuk semakin dewasa dalam iman. Aku sampai menulis artikel ini, masih bisa bermain futsal rutin dan diberikan fasilitas-fasilitas yang sangat menunjang kehidupanku, seperti motor dan handphone. Sebenarnya, kalau tersedia waktu lebih banyak, maka daftar ucapan syukurku semakin panjang. Belum lagi jika dihitung dengan apa yang telah Allah lakukan dalam kehidupanku di masa yang telah berlalu. Terlalu banyak ucapan syukur.

Jadi, walau ada banyak pergumulan, bukan berarti tidak bisa bersyukur. Dalam segala kondisi tantangan yang belum selesai, aku terus ditantang juga untuk menghadapinya dengan percaya diri. Mengapa bisa begitu? Karena bagiku, setiap ucapan syukur itu muncul karena campur tangan Yang Maha Kuasa dalam kehidupanku. Jangan lupa, aku percaya Tuhan memiliki rencana indah dalam hidupku. Dan aku percaya juga bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkanku atau lepas tangan ketika aku melewati setiap harinya.

Aku mengatakan hal ini bukan berarti aku pribadi yang selalu dalam kondisi sungguh-sungguh beriman. Setiap hari. Ya...setiap hari aku terus berjuang untuk menjaga imanku kepada Allah. Aku sadar bahwa aku manusia yang sangat terbatas dan lemah sehingga denga mudahnya, setiap pengalaman iman bersama Allah sebelumnya, yang menjadi ucapan syukur bagiku, bisa dengan mudahnya lupa atau tidak punya satu dampak di kemudian hari, sehingga aku khawatir dan stres kemabali. Inilah tantangannya "berjalan bersama Allah".


KAPAL DAN NAHKODANYA

Berjalan bersama Allah tidak sama dengan mengendarai mobil di jalan bebas hambatan. Berjalan bersama Allah adalah perjalanan dalam sebuah kapal di lautan luas yang cuacanya tidak pernah dapat diprediksi, kadang teduh namun lebih banyak badainya.

Berjalan bersama Allah menuntut aku benar-benar melepaskan kendali hidupku dan menyerahkannya dikendalikan oleh Allah sebagai "NAHKODA HIDUPKU". Dalam analogi bahwa hidupku adalah sebuah kapal dalam lautan luas, dan nahkodanya adalah Allah, maka aku harus benar-benar percaya dan tidak memberontak untuk diarahkan menuju tujuan yang Allah sudah siapkan bagi hidupku.

Hal ini tidak mudah karena lautan luas tidak terlihat ujungnya. Pulau yang menjadi destinasi akhir tidak terlihat sama sekali. Yang perlu aku lakukan adalah percaya penuh pada Nahkoda kapal hidupku, yaitu Allah yang memiliki "kompas" dan mengetahui koordinat tujuan dengan tepat.

IMAN YANG BERKERINGAT

Percaya pada Allah = iman. Iman yang sejati adalah iman yang "berkeringat". Pemahaman berjalan bersama Tuhan semakin aku pahami bukan ketika retreat jemaat GKY VTI, namun melalui khotbah di Persektuan Doa dan Kebaktian Umum setelah retreat. 

Iman yang sejati, istilah menurut GI Johan Dj, adalah iman yang "berkeringat". Iman yang sejati selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bertumbuh sehingga memiliki 6 karakter yang dijelaskan di 2 Petrus 1: 1-11 (Kebaikan, Pengetahuan, Penguasaan Diri, Ketekunan, Kasih)

Tidak ada yang pasti selain ketidakpastian itu sendiri. Masa depan, bahkan beberapa menit ke depan tidak pernah aku bisa pastikan apa yang akan terjadi apalagi untuk bisa pastikan apa yang aku dapatkan atau apa yang aku lakukan. Aku bisa merencanakan tetapi besar kemungkinan banyak hal yang terjadi sehingga rencanaku gagal. Masa depan itu tidak pasti.

Tanpa ada keyakinan teguh pada Allah sebagai nakhoda kapal hidupku, maka akan sangat mudah aku untuk akhirnya menyerah dalam segala ketidakpastian yang aku alami dalam hidupku. Aku akan dengan sangat mudah sering marah pada Tuhan. Aku akan dengna sangat mudah, hidup dalam mengeluh dan membanding-bandingkan hidupku dengan orang lain. Pada akhirnya aku memimpikan sebiuah kehidupan yang ideal (mapan) seperti yang aku jelaskan di bagian paling atas. 

Aku yang sangat terbatas ini seringkali memikirkan masa depan keluargaku tanpa melibatkan Tuhan. Aku datang kepada Dia ketika pikiranku sudah mentok. TERBALIK CARA BERPIKIRKU. Seharusnya sudah sejak pertama mengerti hal-hal yang harus dipikirkan untuk masa depan, aku langsung meminta Tuhan berikan hikmat-Nya untuk mengambil keputusan-keputusan yang tepat. Jadi, intinya kembali lagi, yang menjadi nahkoda adalah Tuhan, bukan diriku. Aku sering menjadikan Dia seperti "penumpang" dalam kapal kehidupanku, yang aku minta pendapat jika benar-benar mentok dan orang lainpun tidak memberikan pendapat yang memberikan kepuasaan hatiku.


LOCKED UP ABROAD
Satu program di FOX Crime yang menceritakan true story tentang mantan-mantan narapidana  yang dipenjara karena berbagai kejahatan. Judulnya Locked Up Abroad. Narapidana tersebut yang menceritakan kisah mereka di masa lalu yang dipenjara bukan di negaranya sendiri. Ada yang menjadi pembawa narkoba dari Kolombia ke Amerika Serikat. Ada juga yang mengambil dari Peru untuk dibawa ke Afrika Selatan.  Ada yang dijebak, ada juga yang memutuskan untuk melakukannya karena kebutuhan finansial.

Pada akhir program tersebut selalu diakhiri dengan sharing tentang pelajaran penting yang didapatkan narapidana tersebut setelah melewati masa-masa kelam mereka. Penyesalan adalah benang merah dari akhir sharing mereka. Tidak ada satupun yang bangga atas perbuatannya.

Lewat acara tersebut, aku seperti semakin diingatkan bahwa jangan sampai ketika aku berusia lanjut, aku menceritakan lebih banyak penyesalan-penyesalan karena keputusan-keputusan hidup yang aku ambil bukan sebaliknya, ucapan-ucapan syukur karena bisa berpengalaman dengan Allah dengan mengikuti kehendak dan rencana-Nya.

Berjalan bersama Allah adalah sebuah pengalaman yang membawa aku membuka hati untuk "direvisi" pikiranku yang tertuang dalam tindakanku dan segala perencanaanku setiap hari. Revisi itu dilakukan oleh Allah lewat berbagai cara, tergantung pada kepekaan diriku menyadari ada hal-hal dalam diriku yang harus direvisi alias diperbaiki. Semakin keras hatiku, maka semakin keras juga cara Allah "merevisi" kehidupanku.

Ketika aku menulis artikel ini bukan berarti aku sudah lulus ujian untuk berjalan bersama Tuhan setiap hari. Aku masih terus berjuang. Aku masih jatuh bangun. Aku benar-benar setiap hari perlu merendahkan diri di hadapan Tuhan setiap hari, berlulut memohon sepanjang hari aku berjalan bersama Tuhan karena aku sangat lemah dan terbatas. Aku begitu cepat lupa pengalaman-pengalama imanku di masa lalu sehingga aku cenderung meragukan kapasitas Allah sebagai "nahkoda terbaik" yang ada yang berhak dan pantas menahkodai kapal kehidupanku. 

Namun, satu prinsip yang aku terus pegang adalah, ALLAH SANGAT MENGASIHIKU. Dia tidak pernah sesaatpun membenciku sehingga dalam segala caranya untuk revisi hidupku sampai hari ini,Dia lakukan segala c
ara tersebut karena Dia mengasihiku. Hanya dengan menjalin relasi akrab dengan Dia, lewat merenungkan firman-Nya setiap hari, berdoa setiap hari dan memiliki persekutuan indah bersama sesama orang percaya-lah yang menjaga aku tetap sadar bahwa Allah mengasihiku dan Dia punya rencana indah dalam hidupku.

Comments