MERDEKA = TUNDUK (bagian 1)




MERDEKA = TUNDUK

"Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya."

Nasehat "jadul" itu sangat menggangguku akhir-akhir ini. Mengapa? Karena nasehat tersebut setelah kupikir-pikir lebih jauh sepertinya tidak masuk akal. Pengalaman-pengalaman pribadiku sepertinya membuktikan hal yang sebaliknya. Aku lebih banyak kalah dalam godaan daripada sebaliknya. Sepertinya godaan itu terlalu kuat melebihi kemampuanku dalam menolaknya.

Aku juga melihat dan mendengar perjuangan orang-orang di sekitarku atau yang kubaca dan dengar di media massa, banyak sekali yang kesulitan untuk lepas dari kebiasaan buruk atau mungkin juga dosa "favorit" walau telah berusaha keras untuk tidak melakukannya lagi.

Kebiasaan buruknya mulai dari kecanduan game, media sosial, pornografi, rokok, hingga narkoba. Ada juga yang kecanduan belanja atau kecanduan makan. Ada yang di mata masyarakat banyak bukan kecanduan yang negatif, seperti kecanduan baca buku atau kecanduan olahraga. Kalau kecanduan tidur, kecanduan melayani, atau kecanduan karaoke?

Mungkin masing-masing orang punya perjuangannya sendiri dalam hal kecanduan. Dulu aku pernah kecanduan game, baik itu Playstation atau Football Manager di komputer dan pornografi ketika kuliah. Kalau sudah main game, aku bisa melupakan banyak hal seperti makan dan kadang kuliah ataupun tidur. Tetapi yang paling gampang aku lupakan adalah relasiku dengan Tuhan setiap hari lewat Saat Teduh dan Doa. 

KETERTARIKAN ataupun PELARIAN
Kecanduan selalu dimulai dari suatu ketertarikan. Ada daya tarik yang sangat kuat pada suatu kegiatan atau barang sehingga membuat orang sangat memprioritaskan kegiatan atau barang tersebut melebihi hal lain. Bahkan lebih dari itu, orang yang kecanduan MENGORBANKAN hal lain demi hal yang membuat dia kecanduan.

Pengorbanan yang dilakukan seseorang karena kecanduan bisa berupa pengorbanan waktu, uang, pikiran, tetapi yang lebih mengerikan adalah pengorbanan kehidupan relasi dengan orang-orang terdekat dan sudah pasti relasi dengan Tuhan. Sudah berapa banyak kita dengar atau baca bagaimana orang-orang yang kecanduan sesuatu membuat mereka melakukan hal-hal yang ekstrim seperti menjual barang-barang di rumah atau bahkan menjual dirinya sendiri. Atau bahkan membuat kematian orang-orang di dekatnya. Tetapi yang paling menyedihkan adalah, Tuhan bukanlah sesuatu yang ada dalam pikirannya.

Pengorbanan tersebut selalu disesali tetapi lebih banyak seperti pasrah karena tidak bisa berbuat apa-apa (menurut pecandu) sehingga tetap saja kecanduan hingga titik di mana penderitaan yang sangat besar dialami dan tidak bisa lagi ditanggung akibat dari kecanduannya tersebut.

Pornografi adalah salah satu hal yang sempat membuatku terpuruk. Aku mungkin tidak sampai disebut kecanduan, tetapi ada masa-masa ketika aku sedang mengalami masalah, pelarian utamaku adalah ke pornografi. Sebuah masa yang ketika aku sudah melewatinya, membuatku bertanya, kenapa ketika itu aku mengambil keputusan itu, sedangkan orang lain tidak mengambil keputusan yang sama seperti aku, walau umpannya, dia mengalami masalah yang sama dengan aku.

Hal ini mendukung satu kenyataan bahwa setiap orang berbeda cara ketika merespon masalah. Apa yang membuat orang berbeda caranya dalam merespon masalah? Menurutku, karena cara pandang dan prinsip yang berbeda dalam melihat masalah. Apakah cara pandang dan prinsip itu juga dipengaruhi karakter seseorang, misalnya orang yang melankolis berbeda dengan orang yang sanguinis? Atau cara pandang dan prinsip seseorang dipengaruhi juga oleh kedekatan relasi mereka dengan Tuhan? Seperti apa ukuran standar kedekatan relasi dengan Tuhan? Apakah jika merenungkan Firman Tuhan dan Doa setiap hari bisa jadi standar? Apakah rajin beribadah tiap minggu serta mengikuti kegiatan-kegiatan rohani adalah standar kedekatakan relasi dengan Tuhan?

Kecanduan ternyata bukan sekedar karena tertarik sesuatu, tetapi bisa jadi karena lari dari sesuatu. Ada banyak masalah yang menimpa kita sehingga untuk “refreshing” kita melakukan hal-hal yang akhirnya membuat kita kecanduan. Pelarian yang dibungkus dengan istilah “refreshing”. Aku melihatnya bahwa ketika aku menghadapi masalah-masalah yang menurutku berat, aku sudah pesimis dan khawatir berlebihan sehingga aku lari ke game atau pornografi. Aku dulu juga cenderung cepat merasa down ketika melakukan kesalahan atau kegagalan karena aku perfeksionis. Temasuk ketika aku jatuh dalam dosa. Akhirnya aku frustasi dan pelariannya adalah game dan pornografi. Aku ingin lepas dari segala hal di atas, namun sangat tidak mudah.

LINGKARAN SETAN

Banyak sekali pertanyaan yang timbul ketika seseorang ingin lepas dari kecanduan. Selain pertanyaan-pertanyaan di atas, rasa tidak mampu lepas dari kecanduan membawa kemarahan besar pada Tuhan dan diri sendiri sehingga pertanyaan-pertanyaan penuh kemarahan juga muncul. Termasuk aku. Mengapa Tuhan saya tidak bisa lepas? Mengapa Tuhan saya harus mengalami masalah yang Engkau tahu bahwa kalau aku mengalaminya pasti aku akan jatuh dalam dosa? Mengapa aku tidak punya kekuatan untuk lepas dari kebiasaan burukku ini? Mengapa aku selalu gagal? Mengapa?!!!!

Aku sudah berusaha dengan berbagai cara tetapi selalu jatuh lagi. Masalah ini tidak pernah aku beritahu ke orang lain, karena aku merasa malu ketika orang lain mengetahui kebiasaan burukku.Aku selalu merasa menyesal ketika melakukannya, tetapi seiring berjalannya waktu, aku jatuh lagi. Polanya selalu sama. Jatuh, menyesal, bangkit dan jatuh lagi. Mungkin istilah yang tepat dari pola kecanduan adalah "lingkaran setan". Seperti tidak ada jalan keluar untuk bisa lepas dari kecanduan.

Hal ini tidak berlaku hanya kecanduan ekstrim seperti kecanduan narkoba atau pornografi. Kecanduan game, makan, olahraga, pelayanan atau kecanduan kerja juga memiliki "lingkaran setannya". Segala sesuatu yang melebihi batas kewajaran dan dilakukan berulang kali bisa dikatakan kecanduan. Kecanduan itu jauh di atas hobi. Dan yang mengerikannya adalah, kecanduan itu bisa menimpa siapa saja, termasuk pendeta sekalipun. Betapa mengerikannya kecanduan. Setiap orang memiliki potensi untuk kecanduan.

Nah, hal ini masih berkaitan dengan segala pertanyaan yang sudah kusampaikan di bagian sebelumnya. Dua pertanyaan utama yang merangkum semua pertanyaan di atas adalah bagaimana bisa mencegah tidak kecanduan dan bagaimana bisa lepas dari kecanduan?

Sampai hari ini, di sekitarku maupun yang kudengar di media informasi, ada yang tidak bisa lepas dari kecanduan, ada yang sedang berjuang lepas dari kecanduan, ada yang sudah bebas dari kecanduan yang dialaminya selama ini.

SOMBONG
Aku bersyukur bisa lepas dari kecanduan bermain game dan pornografi. Mengapa aku bisa lepas dari dua kecanduan itu?  Kesombongan adalah salah satu faktor utama orang bisa jatuh dalam kecanduan dan juga tidak bisa lepas dari kecanduan. Ada satu kalimat kuno mengatakan "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" 

Aku menyadari bahwa seringkali diriku merasa cukup mampu menghadapi segala tantangan sendiri dan pasti memiliki solusi, sehingga secara tidak sadar, aku tidak melibatkan Tuhan dan tentu juga sesamaku. Ketika aku berada pada satu titik aku sadar aku tidak mampu menyelesaikan masalah itu, aku begitu sombong untuk meminta bantuan kepada Tuhan dan sesamaku. Kesombonganku menarikku pada menjaga gengsi diri sekaligus juga menyembabkan rasa frustasi dan putus asa. Akhirnya jatuh dalam pelarian game dan pornografi. Kesombongan membuatku tidak mau diketahui oleh orang lain kelemahanku. Tidak ada keinginan untuk sharing menceritakan betapa sekaratnya kondisi diriku kepada orang lain. Aku begitu takut orang akan menurunkan standar hormatnya padaku. Aku begitu takut, orang akan menjauh dariku. Aku begitu takut, aku akan mendapatkan banyak konsekuensi negatif karena kelemahanku.

Menyadari diri adalah manusia yang tidak sempurna, yang penuh kelemahan sama seperti orang lain, adalah satu langkah besar yang membuat aku akhirnya berani bercerita tentang masalah kecanduanku kepada orang lain.

Namun, segala sesuatu tetap tidak mudah. Walaupun aku memberitahu kepada orang lain kejatuhanku, tetap saja aku sering jatuh. Aku tetap tidak mampu melawan godaan dosa yang menjadi kenikmatanku.

Mungkin aku bisa memahami betapa ketika seseorang kecanduan, maka segala hal menjadi pembenaran atau dirasionalisasikan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam hal ekstrim narkoba, sampai menjual barang-barang di rumah. Dalam hal ringan, sampai memilih tidak makan agar uangnya dapat digunakan untuk membeli rokok atau memilih tidak mandi dan makan di depan komputer demi tetap terus bisa bermain game.

Ada keinginan besar untuk lepas dari kecanduan tetapi sepertinya tidak berdaya untuk benar-benar bebas. Rasa penyesalan yang besar benar-benar dirasakan olehku ketika jatuh dalam dosa favoritku. Benar-benar menyesal. Malu dan sepertinya mau menyerah. Tetapi ketika menyadari bahwa Allah tetap mengasihiku dalam segala keberdosaanku asal aku mengakuinya, maka aku perlahan bangkit dari keterpurukan karena kekecewaanku pada diri sendiri yang baru jatuh dalam dosa.

Namun, ketika rasanya aku sudah bisa lepas dari dosa tersebut, ternyata ketika aku menghadapi godaan dosa itu lagi, dalam waktu yang mungkin sudah agak lama aku berhasil menang lawan godaan tersebut, aku kembali jatuh. Setelah jatuh kembali rasa bersalah muncul, kembali aku diingatkan akan kasih Allah, tetapi kembali lagi aku jatuh lagi. Begitulah kehidupan orang yang kecanduan. Lingkaran setan.

JURUS PAMUNGKAS
Ada yang bilang untuk menjauhi segala hal yang kita sudah tahu bahwa hal tersebut bisa memicu kita jatuh lagi dalam dosa. Tetapi, masalahnya, semua hal yang ada di sekitarku, semuanya bisa memicuku jatuh dalam dosa favoritku lagi. Aku mungkin hanya bisa tidak tergoda jika aku hidup sendiri dalam kamar yang ketika aku membutuhkan sesuatu, aku cukup menelepon nomor tertentu. Sama seperti film Final Destination, di mana satu-satunya korban yang selamat dan seharusnya mati, “mengakali” kejaran maut dengan hidup dalam satu kamar sendiri. Itu berarti tidak ada lagi sosialisasi dengan orang sekitar. Wah, apa artinya hidup tanpa ada relasi dengan orang lain?

Jadi bagaimana? Sejak lama aku mencari satu “jurus pamungkas” yang bisa mengalahkan semua strategi dosa untuk menggodaku jatuh lagi. Tetapi sepertinya semuanya hanya seperti nasehat yang tidak bisa bertahan lama ketika menghadapi godaan dosa. Ada saja celah yang membuatku akhirnya jatuh lagi dalam dosa yang sama. Frustasi, kecewa, marah pada diri sendiri adalah hal yang paling sering aku rasakan ketika merenungkan sudah begitu lamanya aku menjadi pecandu dosa yang sama dan belum bisa benar-benar lepas. Sepertinya aku akan selamanya menjadi pecandu.

Pikiran-pikiran negatif untuk mengakhiri hidup sempat terbersit. Aku sudah terlalu banyak mengecewakan Tuhan dan orang-orang terdekatku yang sangat mengasihiku. Papi mami, Richard, Rilia, Oce dan Juan…keluargaku  yang lain. Tentu akan begitu kecewa. Belum lagi teman-teman gerejaku atau teman-teman JOY. Semuanya pasti sangat sedih.

Apa yang harus saya lakukan Tuhan? Sebuah pertanyaan klasik dan sering sekali aku ajukan kepada Tuhan. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sebenarnya menuntut hati yang benar-benar terbuka dan mau menerima apapun jawaban dari Tuhan. Menerima apapun itu termasuk menerima perintah Tuhan untuk melakukan hal-hal ekstrim yang tidak pernah terpikirkan olehku atau tidak pernah sebenarnya aku ingin lakukan. Misalnya, menjual handphone dan hanya menggunakan handphone sederhana kalau tidak mau disebut handphone tidak canggih. Itu hanya contoh. Tetapi, menerima apapun itu tidak mudah. Apalagi jika itu berkaitan dengan hal-hal yang sudah menjadi kenyamanan bagi aku.

Masalah lain, walau aku sempat mencoba memutus hubungan dengan orang-orang yang aku tahu berpotensi besar membawa aku terjerumu terus dalam dosa favoritku, ada masa di mana aku menempuh “strategi” lain untuk jatuh dalam dosa. Hal tersebut terjadi ketika aku benar-benar tidak bisa tahan lagi untuk tidak melakukan dosa favoritku. Sekali lagi, ada banyak pembenaran dari ketidakbenaran yang aku mau lakukan sehingga menarikku sangat kuat untuk jatuh dalam dosa itu lagi.

Ah, mungkin segala penjelasanaku ini membuatmu bingung. Tetapi itulah yang terjadi dalam diriku ketika aku berada dalam kecanduan akan sesuatu. Aku benar-benar seperti dikendalikan oleh nafsu diriku sendiri. Aku tidak bisa menolak ketika benar-benar dalam kondisi lemah. Kondsi lemah tersebut muncul selalu ketika aku sudah agak lama tidak jatuh dalam dosa tersbut. Momennya selalu paling tidak satu bulan setelah kejatuhanku yang terakhir. Aku tidak pernah bisa lepas lebih dari satu bulan. Begitu mengerikannya kecanduanku saat itu. Rasanya tidak ada lagi harapan untuk bebas dari kecanduan ini.

Proses yang panjang dan tidak mudah harus dilewati seseorang yang kecanduan akan sesuatu termasuk aku. Proses jatuh bangun dan penuh dengan air mata serta penyesalan berulang kali.  

Menjadi diri sendiri dengan segala karakter dan kebiasaan kita apa adanya itu tidak salah dan baik. Namun, mengendalikan diri sendiri dengan segala karakter dan kebiasaannya agar selalu dalam koridor kebenaran firman Tuhan yang absolut itu lebih dan paling baik,

Akhirnya, kita tidak terbiasa lagi melakukan pembenaran pada setiap karakter dan kebiasaan diri kita yang kita tahu seharusnya dirubah, seharusnya dihilangkan atau intinya seharusnya lebih dikendalikan oleh kita bukan sebaliknya.

Hasilnya, aku percaya, akan ada damai sejahtera sejati serta pengalaman-pengalaman iman yang lebih luar biasa bersama Allah. Bonusnya, kita menjadi berkat bagi orang lain di sekitar kita.

Comments