MENGENALMU

16 Agustus 2015, anakku Juan berusia 1,5 tahun. Sebuah ucapan syukur karena sampai usia sekarang Tuhan terus memberikan anugerahnya sehingga dia tetap bertumbuh normal. Puji Tuhan. Aku sudah menulis beberapa artikel yang kutaruh di blog-ku (www.godlif.net) sejak kehamilan istriku hingga kelahiran Juan. Ada banyak pencerahan sampai pada hari ini lewat kelahiran Juan.

Sebelum menikah, aku dan istriku sudah mengambil kesepakatan bahwa dia tidak akan bekerja di kantor jika kami menikah, apalagi mempunyai anak. Jadi, dia fokus bekerja sebagai ibu rumah tangga saja secara full time di rumah. Kami memiliki prinsip bahwa anak kami perlu dibesarkan oleh kami sendiri, agar dia bisa kami didik sesuai dengan prinsip kebenaran yang kami percayai bukan prinsip hidup pengasuh anak.

Seperti aku pernah sampaikan lewat tulisanku sebelumnya berjudul BERAT, istriku sangat menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga dalam segala tanggung jawabnya. Bersyukur karena campur tangan Tuhan, istriku dan aku semakin lama semakin bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan berumah tangga terutama setelah memiliki anak. Kami tidak merasa bahwa kami sudah ahli dalam kehidupan rumah tangga, secara usia pernikahan kami ketika aku menulis artikel ini baru 3 tahun dua bulan lagi (Oktober 2015.)

Namun, di usia Juan saat ini, ada satu hal lain yang membuat aku pribadi sangat kagum. Saat ini, Juan sudah bisa berjalan sendiri, bahkan sangat senang sekali untuk berlari-lari. Apalagi jika ada banyak orang yang melihatnya. Opa omanya datang ke rumah, dia akan begitu semangat melakukan banyak hal sehingga kami sering menyindir dia “MP” alias Minta Perhatian. Hahahaha… Ada saja gayanya yang membuat Opa Omanya atau adik-adikku terpingkal-pingkal ketawa atau gemas melihat perbuatannya. Selain lari-lari, dia senang sekali membunyikan suara yang ada di sepedanya lalu dia akan berjoget-joget dia. Dia juga sangat senang naik ke mobil Papaku sehingga setiap kali Papaku (Opanya Juan) datang dan memperlihatkan kunci mobilnya, Juan otomatis akan minta digendong dan mengajak Papaku keluar rumah dan masuk ke mobil.

Selain itu, dia sangat senang dengan mendengar suara dari keyboard atau gitar. Setiap kali aku pulang dan masuk kamar belajarku, dia selalu meminta aku mengambil gitar dan memainkannya di depannya. Dia sendiri sesekali akan memegang senar gitar, menghentikan suara senar atau dia sendiri yang memetik gitar besar milikku. Dia juga sudah sangat jago naik turun kursi bahkan membuka lemari. Dia sangat senang membawa gallon air ke dalam kamar. Entah barang apalagi yang ada yang belum pernah dia masukkan ke kamar kami…hahahaha… Juan paling senang diajak jalan-jalan keluar rumah, mengikuti mamanya. Belum lagi dia suka sekali untuk difoto sehingga kami sering selfie berdua…hihihihi…

Segala tingkah lakunya di rumah sudah sangat dimengerti oleh istriku. Istriku tahu ketika Juan menangis, dia bisa saja lapar atau memang mau keluar rumah. Dia juga kadang meminta istriku mengambil mainan mobil-mobilannya yang disimpan dengan cara menangis sambil menunjuk tempat penyimpanan mainannya. Kalau dia melakukan hal-hal yang kami larang, membuka lemari, dia akan melakukannya tanpa bersuara sementara kami sedang di ruangan lain. Ketika kami mengetahuinya dan memanggil namanya sambil menunjukkan muka marah, maka dia akan tidak bergerak. Lalu perlahan dia mencoba merayu kami dengan segala cara terutama gaya memelasnya. Segala tingkah lakunya tersebut sudah sangat dikenal oleh kami terutama istriku karena sepanjang hari dia bersama Juan.

Aku sadar bahwa pengenalan akan seseorang akan semakin dalam ketika ada kedekatan relasi di antara kedua orang tersebut. Aku yakin rumus tersebut sudah menjadi pemahaman banyak orang. Namun, aku  sadar bahwa pada akhirnya harus ada keputusan untuk mau membangun relasi tersebut, tidak secara alamiah tercipta. Kami memutuskan bahwa istriku hanya bekerja di rumah sehingga pengenalan dia akan anak kami Juan sangat dalam dan bisa mengetahui bagaimana merespon perbuatan Juan. Nah, seringkali salah paham antar sesama anggota keluarga, anggota gereja, rekan kerja atau paling sering antar atasan dan bawahan adalah tidak adanya keputusan untuk mau membangun relasi yang akrab satu sama lain. Komunikasipun hanya sekedar formalitas. Yang ada adalah saling bicara di belakang.


Yang paling parah adalah salah paham dengan Tuhan. Aku marah kepada Tuhan karena segala situasi hidup yang aku alami, tanpa mau mengambil keputusan untuk membangun relasi yang dekat dengan Tuhan. Yang aku inginkan adalah keinginan kita harus dipenuhi oleh-Nya. Semuanya. Betapa egoisnya aku. Aku lupa status kita sebagai ciptaan. Dan ironisnya, begitu teganya aku tidak mau membangun relasi dengan Sang Penciptaku, dan mau belajar memahami kehendak-Nya mengenai hidupku. Aku merasa pikirankulah yang paling benar sehingga aku tidak mau mengikuti kehendak-Nya. Aku meragukan Dia secara sadar atau tidak sadar. Betapa kurang ajarnya aku. Ceritaku hanya cerita manusia yg tidak sempurna yg penuh cacat cela, terbatas dan lemah.

Ampunilah aku Tuhan yang lebih sering meminta pertolongan-Mu ketika segala sesuatu sudah mentok, bukan ketika aku hendak memulai segala sesuatu aku tanyakan kepada-Mu. Kiranya aku yang lemah dan terbatas ini diberikan kasih karunia-Mu untuk hari demi hari memfokuskan diri untuk bertanya pada Engkau dan menaati Engkau. Tolonglah aku tiap hari Tuhan.#refleksi

Comments