EGO DI AKHIR AGUSTUS

egois/ego·is/ /├ęgois/ n 1 Psi orang yg selalu mementingkan diri sendiri;(http://kbbi.web.id/)


Ketika aku menulis artikel ini, aku bukan dalam satu kondisi sedang menghakimi atau menyindir orang lain. Seperti yang ku sampaikan dalam tulisanku tahun lalu, “AKU MENYINDIR? BISA JADI”, maka ketika aku menulis artikel ataupun menulis status di media sosial, hal itu adalah bagian dari refleksi pribadiku lewat berbagai macam pengalamanku pribadi atau yang aku lihat di sekitarku, bukan dengan maksud untuk merendahkan orang lain tetapi menjadi salah satu referensi bagiku secara pribadi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Ketika aku Saat Teduh di hari terakhir bulan Agustus 2015, aku meluangkan waktu untuk lebih banyak berefleksi dan mengevaluasi kehidupanku di hari-hari terakhir bulan Agustus. Aku merasa tidak ada damai sejahtera walaupun semuanya menurutku seperti berjalan lancar, tidak ada sesuatu yang berbeda secara signifikan. Apa yang salah Tuhan? Itu pertanyaan utamaku pagi ini.

Acara yang paling spesial di bulan ini adalah kesempatan aku bisa fellowship time dengan teman-teman alumni JOY se-Jabodetabek di rumah alumni di daerah Ragunan. Acara ini spesial karena sudah lama aku tidak bisa bertatap muka dengan mereka. Semakin spesial karena pendiri JOY, Pak Son serta para senior alumni dan senior staff Bang Sopar dan Bung Nelles juga hadir. Ada banyak cerita, sharing, informasi dan juga komitmen lewat acara ini.

Hal lain yang berkesan pada bulan ini adalah kesempatan aku mendengar cerita-cerita dari teman-teman sesama pekerja yang kutuangkan di tulisan "SUDAH PAKETNYA PAK" serta kesempatan berdiskusi serta.Selain itu, dalam pekerjaan aku sedang cukup padat untuk mempersiapkan ujian kelas 3-6 SD di akhir September. Ada tambahan tanggung jawab baru yang butuh waktu untuk dipelajari dan memerlukan perhatian yang detail. Kemudian, akhir bulan Agustus aku juga diberikan kesempatan anugerah untuk melayani sebagai liturgos di Kebaktian Umum. Latihan agak sedikit di luar rencana dan akhirnya ketika aku mengevaluasi pelayananku, aku merasa banyak hal yang tidak maksimal.

ENERGI TERKURAS
Melihat segala aktivitasku sepanjang bulan Agustus, terutama di minggu-minggu terakhir, aku merasa aku mengeluarkan energi yang cukup besar melebihi dari yang biasa aku keluarkan. Persiapan acara alumni cukup mendominasi pikiranku karena selalu diiringi diskusi yang cukup alot dengan beberapa teman alumni. Belum lagi follow up setelah pertemuan itu. Tentu yang paling mendominasi pikiranku sampai aku menulis artikel ini adalah pembelajaran tanggung jawab baru dalam yang menjadi bagian dari persiapan ujian kelas 3-6 yang aku sebutkan di atas selain persiapan pelayanan sebagai liturgos. 

Selain hal-hal itu, ada juga pikiran tentang kebutuhan finansialku untuk membayar kontrakan dan juga segala kebutuhan di bulan September. Aku melihat bahwa energi pikiranku begitu terkuras sehingga mempengaruhi kesehatan fisikku. Rasanya begitu cepat lelah dan ingin langsung istirahat. Menonton sepakbola atau film tidak menjadi hal yang menarik bagiku di akhir bulan ini.



Melalui saat teduhku aku disadarkan bahwa aku menjadi pribadi yang sangat egois di akhir bulan ini. Mengapa? Dalam mendengarkan orang lain aku menilai diriku menjadi cukup egois. Aku sering mendengarkan orang berbicara padaku dengan terlebih dahulu memberi label negatif terhadap lawan bicaraku, termasuk motivasinya, pendapat-pendapatnya,usul-usulnya, serta pribadinya. 

Aku juga egois ketika merasa sudah tahu dan mengerti apa yang sedang dibicarakannya tanpa perlu menyimaknya sungguh-sungguh sampai dia selesai berbicara. Pada akhirnya aku tidak sungguh-sungguh mendengarkan. Aku tidak menerima segala usul dan pendapatnya yang BERBEDA dengan KEHENDAK atau KEINGINANku.


Bahkan ketika BERDOApun aku bisa egois ketika aku hanya mendoakan diriku sendiri dengan segala kebutuhan dan keinginanku dan keluargaku tanpa pernah atau sungguh-sungguh, serius mendoakan orang lain, teman kerja, teman gereja atau bahkan bangsa dan negaraku.

Lalu aku akhirnya bisa diingatkan lagi, apakah dalam menjalin relasi dengan orang lain, aku juga mengutamakan egoku sehingga segala keinginanku dan kebenaran yang kupegang harus diikuti terutama oleh istri dan anak tanpa membuka ruang untuk adanya negosiasi atau evaluasi.

Akhirnya, aku juga belajar melihat potensi egoisme dalam dunia pekerjaan. Contohnya misalnya ketika aku berdiskusi dengan rekan kerjaku, aku secara tersirat menuntut agar pendapatku yang harus dilaksanakan karena menurutku pendapatku yang paling benar. Aku membayangkan jika aku jadi atasan menjadi sangat otoriter sehingga segala kehendakku harus diikuti oleh bawahannya tanpa pernah sedikitpun membuka ruang diskusi yang obyektif dan saling menghargai.


BEGITU MENGERIKANNYA SIKAP EGOIS
Dalam kondisi yang sangat ekstrim, egois bisa dilihat bagaimana orang lain harus mengikuti kebenaran yang dia pegang dengan cara memaksa bahkan lebih ekstrimnya adalah mengancam. Seorang teman mengatakan bahwa kakaknya akhirnya diperkosa dan dibunuh ketika dia tidak mau menyangkal kebenaran yang dia pegang.

Betapa mengerikannya ketika sikap EGOIS mendominasi pikiranku. Ada banyak hal-hal fatal yang bisa terjadi dan member pengaruh negatif dalam jangka waktu yang panjang. Yang pasti paling terkena dampak adalah dalam hal relasi dengan orang lain menjadi buruk.

Tetapi semua itu pada akhirnya tidak menjadi lebih mengerikan ketika aku sadar bahwa aku juga egois dalam berelasi dengan Tuhan. Aku lebih cenderung menjadi pribadi yang meminta Tuhan mendengarkan apa yang aku butuhkan dan inginkan tanpa pernah membuka hati, melembutkan hati untuk mendengarkan apa maunya Tuhan. itulah inti mengapa aku tidak damai sejahtera. Aku menuntut Tuhan ini dan itu. Aku tidak memberikan kesempatan sediktipun untuk Dia benar-benar berbicara padaku. Pikiranku begitu padat lalu lintasnya sehingga tidak ada waktu yang benar-benar berhenti, diam dan sungguh-sungguh mendengarkan Dia.

MEMILIH UNTUK MENDENGARKAN
Tanpa mengambil pilihan mendengarkan, sebuah relasi akan menjadi relasi yang kering dan penuh basa-basi serta akhirnya menjadi semakin jauh kalau tidak akhirnya putus dan terbangun tembok. Aku lupa akan hal utama yang paling penting, mendengarkan Tuhan, memahami kehendak-Nya, mematuhi kehendak-Nya yang bisa jadi menuntut aku menyangkal diriku sendiri dengan segala egoku. Tuhan ampunilah aku#refleksi

Seringkali kudatang Tuhan
hanya kar'na sejuta keluhan
Seringkali kulupa Tuhan
seharusnya kudatang

Reff:
dengan segenap rindu dari lubuk hatiku
dengan hasrat yang tulus
karna kucinta padaMu
Tak hanya memikirkan
berkat yang Kau berikan
Sungguh hanya kar'naku mengasihiMu Yesus

Seringkali aku berdoa
hanya karna tak ingin dicela
Namun kini kusadar Tuhan
seharusnya kudatang

Comments