GELAS KOSONG



“setiap bertemu dengan orang baru, saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu”- Bob Sadino

TERPURUK
Mei 2015, aku tepat 3 tahun bekerja di tempat kerjaku sekarang. Sebuah pengalaman yang bagiku adalah sebuah pengalaman penuh dengna ucapan syukur. Aku belajar bahwa mengucap syukur itu bukan karena mendapatkan uang banyak atau bebas dari masalah, namun mengucap syukur yang sejati adalah ketika bisa menerima dan memahami kehendak Allah lewat sebuah pengalaman atau peristiwa dalam hidupku. Termasuk ketika aku bekerja di sekolah sekarang.

Mengapa aku bisa mengatakan hal tersebut karena ketika awal masuk kerja di sekolah, aku berada dalam posisi seperti ditampar sangat keras oleh Tuhan lewat sebuah peristiwa yang tidak diinginkan siapapun, yaitu melakukan kesalahan fatal yang memberi dampak bukan pada departemen tempat aku bekerja, tetapi sekolah! Orangtua murid dan murid itu sendiri terkena dampak negatifnya.

Sebuah pengalaman yang tidak mengenakkan. Bahkan sempat aku sampaikan kepada salah satu guru yang bekerjasama dengan aku dalam tanggung jawabku bahwa aku mungkin tidak akan diperpanjang kontraknya, namun aku akan berjuang semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik di sisa masa kerjaku di sekolah ini. Aku berada satu kondisi frustasi, putus asa, kecewa pada diri sendiri, kecewa pada orang lain dan akhirnya membawaku pada satu situasi yang benar-benar terpuruk.

Pelajaran penting yang aku dapatkan adalah bahwa dalam setiap tanggung jawab baru, jangan pernah merasa bahwa aku sudah mampu dan siap untuk melakukan tanggung jawab tersebut 100%  sempurna, sehingga tidak memiliki kerendahan hati untuk mau belajar dan juga mau mendengarkan nasehat orang lain. Bahasa lainnya sama seperti gelas kosongnya-Bob Sadiono. Itu pelajaran utama yang aku dapatkan setelah melewati masa tersebut dan itu menjadi ucapan syukurku.

KATA AJAIB
Di sekolahku sekarang, kata kunci yang selalu didegungkan adalah INOVASI. Sebuah kata ajaib yang bisa memberi dampak positif bagi setiap karyawan yang bisa menciptakannya dan diterima oleh atasan serta diaplikasikan dalam lingkungan kerja. Ketika kata ajaib itu tercipta, maka segala sesuatu menjadi lebih baik. Itu harapan dari perusahaan tempatku bekerja sehingga kata ajaib itu menjadi salah satu fokus utama. Aku belajar bahwa kata ajaib itu tidaklah bisa selalu diasumsikan sebuah proyek yang besar. Hal-hal sederhana dan dianggap kecilpun, bisa disebut inovatif ketika hal itu dapat memberi perubahan besar secara positif. Misalnya, salah satu contoh adalah memberikan nama di setiap meja karyawan dengan nomor ektensionnya sehingga memudahkan karyawan lain mentransfer telepon yang ia terima kepada karyawan tersebut. Itu inovasi sederhana tapi memberi dampak karena tidak selalu bisa ingat seluruh nomor ekstension setiap karyawan yang cukup banyak. 

Itu contoh inovasi yang dilakukan oleh temanku. Aku sendiri saat ini masih berjuang dalam hal ini. Aku merasa belum ada inovasi yang signifikan yang aku bisa berikan kepada sekolah tempatku bekerja. Aku hanya melakukan hal-hal positif yang mungkin belum pernah dilakukan sebelumnya, seperti ketika aku berada di bagian School Information and Services, aku selalu secara konsisten sharing informasi kepada departemen-departemen lain yang berkaitan dengan hastag #salaminformasi.

THINKER vs DO-ER
Hal ketiga yang aku rasa menjadi semakin berkembang karena bekerja di sekolah ini adalah bahwa ketika mendapatkan tanggung jawab, selalu perlu inisiatif alias pro aktif memberikan usul bukan hanya ketika ditanya tetapi SEBELUM ditanya. Bahkan ketika ada hal-hal yang menurutku perlu diperbaiki dan aku juga telah memiliki usul solusi perbaikannya, maka aku tidak perlu sungkan untuk berdiskusi dengan atasan. Entah usul tersebut atau concernku tersebut diterima atau tidak, itu tidak perlu menjadi pertimbangan di depan. Yang penting kita bisa memberikan tanda bahwa kita “BERPIKIR”. Aku diajak untuk menjadi “THINKER” bukan “DO-ER”. Dan seorang thinker haruslah berani bertanya bukan berlandaskan asumsi pribadi sebelum mengambil keputusan. Lewat budaya itu, maka selalu akan ada perubahan signifikan yang positif bagi diriku secara pribadi maupun tempat aku bekerja. Tidak mudah memang dan setiap orang aku sadar memiliki proses waktu yang berbeda-beda untuk mencapai hal tersebut. Tidak bisa disamaratakan. Banyak faktor yang mempengaruhi, termasuk coaching, training & induction dari atasan yang saat ini terus semakin dikembangkan di tempat kerjaku

Ketika aku pindah bekerja di sekolah dari sebelumnya bekerja di General Affair Kantor Pusat sebuah Bank Korea di Jakarta, aku berpikir bahwa load pekerjaanku tidak akan sebesar tempat kerja lamaku. Secara umum memang benar. Pulang malam dan lembur Sabtu Minggu sangat jarang kulakukan. Apalagi jarak tempuh ketika pulang dari tempat kerjaku sekarang 1,5 jam lebih cepat daripada jarak tempuh pulangku dari kantor lama. Namun, bukan berarti kualitas yang menjadi standar akhirnya lebih rendah. Sekolahku adalah sekolah internasional. Mulai tahun ajaran 2015-2016 memang Departemen Pendidikan tidak lagi mengakui status internasional setiap sekolah. Statusnya diganti Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) dengan sekolah luar negeri. Dengan status tersebut dan dengan jumlah murid total sekitar 1500 orang dari TK hingga SMA yang rata-rata adalah anak dari pengusaha sukses, Direktur perusahaan besar atau orang-orang terkenal di Indonesia, maka standar yang diharapkan sangat tinggi. Ini yang aku sadari ternyata tidak aku sungguh-sungguh resapi ketika awal aku bekerja sehingga bisa dikatakan dibandingkan dengan karyawan-karyawan yang lain, aku adalah yang paling lambat menyesuaikan diri dengan lingkungan kerjaku sekarang sehingga butuh 3 tahun untuk aku bisa diangkat menjadi karyawan tetap. Teman-teman “seangkatanku” ketika masuk kerja, bahkan sesudah aku, semua sudah diangkat jadi karyawan tetap lebih dahulu jauh waktunya dibandingkan aku. Aku perlu waktu lebih panjang untuk “mengosongkan gelasku” dibandingkan mereka. Bukan lingkungan kerja yang harus menyesuaikan diri dengan aku, tetapi sebaliknya, sudah seharusnya aku yang melakukannya karena tempat kerjaku sudah ada sebelum aku ada. Tentu ini tetap dalam kesadaran bahwa penyesuaian diri dengan lingkungan bukan berarti “melepaskan” prinsip-prinsip dasar hidupku.

Hal terakhir yang menjadi ucapan syukurku adalah aku memiliki rekan kerja-rekan kerja yang sangat memberkatiku lewat segala perbedaan latar belakang kami. Memang bukan berarti tidak ada konflik dan salah paham, namun apapun situasi dan sikap dari mereka masing-masing, aku selalu belajar bukan sesuatu tetapi banyak hal dari mereka. Aku tidak mengurangi respek, hormat dan kasihku kepada mereka ketika semakin mengenal mereka dengan segala karakter, kebiasaan dan kehidupan mereka yang bisa jadi bukan hanya berbeda tetapi tidak sesuai dengan cara pandang dan prinsipku. Aku adalah manusia yang penuh keterbatasan dan kelemahan lebih banyak dari mereka. Sehingga aku terus menjadi gelas kosong ketika bergaul dengan mereka dan menerima banyak sekali inspirasi dari mereka sampai hari ini.

MARET 2015
kerja tanpa batas dan waktu adalah uang membuat orang merasa kesulitan untuk mengambil waktu sejenak untuk beristirahat di hadapan Tuhan”-Chrisdika

Maret 2015, aku diberikan anugerah baru dari Tuhan yang sebenarnya sudah menjadi pokok doaku sejak lama, yaitu sekolah lagi. Sebenarnya ada beberapa bidang yang aku sukai, yaitu teologi, psikologi dan manajemen.  Kali ini aku diberikan kesempatan secara resmi kuliah Magister Manajemen di Universitas Mercu Buana. Sebuah anugerah yang luar biasa. Ketika aku menulis artikel ini, aku baru saja menyelesaikan semester pertama kuliahku.

Aku lulus kuliah S1 tahun 2005. Itu berarti 10 tahun yang lalu. Waktu yang cukup lama bagiku untuk menyesuaikan diri dengan ritme perkuliahan lagi. Aku kuliah Sabtu saja dari jam 07.30 pagi hingga jam 18.30 jadwalnya. Bersyukur mata kuliah jam terakhir, jam 16.15-18.30 tidak harus tatap muka setiap minggu, hanya lewat perkuliahan online.

Selama satu semester ini aku diajak untuk memiliki prinsip gelas kosong-nya Bob Sadino juga. Aku terus berjuang agar pengalaman kerjaku dan pengetahuan akademisku tidak menyebabkan aku sombong. Dan itu adalah perjuangan tiap minggu. Aku bersyukur karena berada dalam satu kelas yang terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan, tempat kerja dan usia. Hal ini membuat “gelasku” banyak terisi hal-hal baru yang membuat aku tidak bisa menyombongkan diri. Mereka orang-orang hebat yang kaya pengalaman walaupun mereka banyak juga yang lebih mudah dari aku. Hampeur penuh “gelasku” terisi lewat interaksi dengan mereka. Tentu tidak bisa aku lupakan pengetahuan yang aku dapatkan lewat materi kuliah tiap dosen. Ngomong-ngomong, T-301 adalah kode ruangan kelas kuliahku selama satu semester ini.

REST
Sejak awal kuliah, tugas dan presentasi menjadi menu yang tidak bisa dihindari. Tantangan yang tidak mudah karena aku selain sudah bekerja, sudah berkeluarga pula. Pekerjaan tentu lebih prioritas daripada kuliah, tetapi tidak di atas keluarga. Namun, ternyata, ketika mengevaluasi dinamika hidupku ketika sudah kuliah, aku berada dalam satu kondisi yang cukup berbahaya, yaitu kurang istirahat.

Kurang istirahat dalam hal ini bukan sekedar istirahat fisik. Ada satu dimensi istirahat lain yang sebenarnya perlu menjadi prioritas utama dalam hidupku tetapi seperti terlupakan, yaitu istirahat di hadapan Tuhan. Aku memang tetap saat teduh dan doa tiap hari, pagi sendiri dan malam bersama keluarga, namun aku merasa bahwa aku tidak 100% istirahat di hadapan Tuhan selama ini. Ada banyak hal yang aku pikirkan bahkan ketika akhir pekan. Aku seperti mulai terbawa arus dunia yang sangat mendewakan bekerja tanpa menjadikan istirahat prioritas penting.
Temanku, Chrisdika mengatakan dalam skripsinya:
Fokus yang berubah membuat masayarakat urban (kota) tanpa disadari memilii beban di luar kapasitas mereka (overload) dan mengalami keletihan. Ritme istirahat yang dilakukan pun hanya sekedar menghilangkan keletihan dan beban kerja sementara yang tidak mengembalikan fokus mereka kepada Allah. Ritme istirahat yang dicari hanya sejauh kesenangan belaka. Meditasi, Doa, Saat Teduh dan menulis jurnal bukan menjadi bentuk istirahat yang menjadi pilihan favorit. Bahkan mungkin tidak pernah jadi salah satu pilihan masyarakat urban.

Manusia perlu berhenti dari pekerjaannya untuk masuk dalam praktik-praktik spiritual agar dapat mengalami persekutuan yang intim dengan Allah. Ketika seseorang mengkhususkan waktunya untuk berkomunikasi dengan Allah, maka di situlah manusia akan mengalami transformasi dalam dirinya.

Hal ini ada potensi yang sangat berbahaya yang secara tidak sadar aku alami sehingga membuatku merasa bahwa dalam segala aktivitasku, tidak ada damai sejahtera bahkan seperti kering. Aku bersyukur karena lewat membaca skripsi temanku dan retreat selama 3 hari aku diajak untuk benar-benar istirahat. Aku bisa benar-benar maksimal kembali istirahat karena aku tidak menjadi panitia inti. Istirahat (rest) yang sejati selalu bukan hanya istirahat secara fisik namun beristirahat di hadapan Tuhan.
3 tahun bekerja di sekolah dan 1 semester di T-301 bukanlah satu waktu yang lama tetapi telah memberikan banyak sekali pelajaran berharga bagi hidupku saat ini. Aku diajak terus rendah hati seperti gelas kosong-nya Bob Sadino dan memiliki budaya kerja yang baik dan benar selain terus mengendalikan diri agar memiliki waktu istirahat yang tepat. Terima kasih Tuhan untuk pelajaran hidupmu. Terima kasih Tuhan#SEUMURHIDUPAKUSEKOLAH



Comments